2 Kasus Miras dan Oplosan di Bantul Didenda Rp16 Juta
Dua perkara pelanggaran miras dan minuman oplosan di Bantul diputus dengan total denda Rp16 juta. Barang bukti turut dimusnahkan.
Ilustrasi nelayan. – Foto dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Rencana pembangunan kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Dusun Ngentak, Kalurahan Poncosari, Srandakan, memunculkan protes dari warga. Mereka menilai kurang dilibatkan dalam proses rembuk dan khawatir program tersebut berujung pada penggusuran rumah maupun usaha yang sudah lama berjalan.
Perwakilan warga Ngentak, Ridwan Surdianto, menegaskan masyarakat sebenarnya mendukung program pemerintah selama membawa manfaat nyata. Hanya saja, ia menilai keterbukaan informasi masih minim.
“Kita ini tidak benar-benar menolak program pemerintah. Cuma kadang ada sosialisasi yang kurang lengkap, jadi menimbulkan kesalahpahaman. Sekarang memang sudah lebih jelas, tapi poin kami sederhana. Setiap program pembangunan, sebesar-besarnya harus bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya, belum lama ini.
Ia menambahkan, sejak awal warga berharap bisa dilibatkan penuh dalam perencanaan, bukan hanya menerima informasi di tengah jalan.
“Kalau sejak awal ada rembuk bersama, tentu tidak akan muncul kegelisahan seperti ini,” imbuhnya.
BACA JUGA: Mataram Uji Coba Insinerator Zero Emisi, Solusi Cepat Atasi Sampah
Menanggapi hal itu, Lurah Poncosari, Suprianto, menegaskan pihaknya siap menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Menurutnya, isu terkait rencana penggusuran pasar atau rumah warga hanyalah kabar lama yang tidak benar.
“Yang dimau warga adalah adanya rembukan. Jadi soal isu pasar dibatalkan atau penggusuran rumah, itu tidak benar. Itu hanya isu puluhan tahun lalu. Program yang baru ini justru terkait pembangunan Kampung Nelayan, yang masih tahap usulan dari pusat,” jelasnya.
Suprianto mengapresiasi forum dialog yang difasilitasi warga. Ia menilai kesempatan itu penting untuk meluruskan informasi sekaligus menjalin kesepahaman.
“Alhamdulillah warga antusias. Justru pertemuan seperti ini membantu pemerintah menyampaikan sosialisasi secara langsung sehingga tidak ada miskomunikasi lagi,” katanya.
Ia juga menepis isu soal adanya rencana menggusur 94 warung di kawasan setempat.
“Itu tidak benar. Kami tidak pernah menyampaikan hal seperti itu. Malah kalau KNMP terealisasi, justru bisa menambah ramai kawasan kuliner dan mendukung ekonomi warga,” tegasnya.
Lebih lanjut, Suprianto menjelaskan bahwa pengelolaan KNMP nantinya dijalankan oleh Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sesuai kebijakan pemerintah pusat. Karena berbentuk koperasi, keanggotaannya terbuka bagi masyarakat Poncosari.
“Pihak koperasi sudah sosialisasi kepada warga agar ikut bergabung. Kalau menjadi anggota, otomatis warga punya peran dalam pengelolaan. Jadi bukan mengusir aktivitas ekonomi warga, tapi saling mendukung.”
“Intinya, semua pihak ingin program Kampung Nelayan benar-benar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi warga Poncosari,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua perkara pelanggaran miras dan minuman oplosan di Bantul diputus dengan total denda Rp16 juta. Barang bukti turut dimusnahkan.
Iran dan Oman menyepakati peta rute pelayaran Selat Hormuz setelah perundingan teknis selama tiga bulan, tetapi jalur belum sepenuhnya normal.
Pemerintah menyiapkan dokter terbang dan mobile dentist untuk memperluas layanan kesehatan, termasuk menjangkau daerah terpencil.
Wacana dwikewarganegaraan yang disampaikan Prabowo masih sebatas gagasan. Pemerintah belum menyusun skema dan target penerapannya.
PLN mengerahkan personel penuh memulihkan listrik pascagempa Flores. Sebanyak 98,3 persen penyulang dan 88 persen pelanggan sudah menyala.
Novak Djokovic tersingkir dari Cincinnati Open 2026 setelah kalah 6-2, 4-6, 4-6 dari petenis Argentina Thiago Agustin Tirante.