Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Sekda DIY, Aman Yuriadija (kiri) meninjau metode pengolahan sampah di Kelurahan Gedongkiwo, Selasa (25/11/2025)./ist Humas Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Gedongkiwo, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja tampil beda. Sambil menggencarkan pemilahan sampah rumah tangga, warga memanfaatkan 23 biopori jumbo untuk mengolah sampah organik langsung di lingkungan mereka.
Mantri Pamong Praja Mantrijeron, Narotama, menjelaskan masyarakat Gedongkiwo telah menunjukkan kedisiplinan yang sangat baik dalam pengolahan sampah rumah tangga. Warga telah melakukan pemilahan sampah ke dalam beberapa kategori utama, yakni sampah organik, sampah anorganik, dan sampah residu.
Bahkan untuk sampah organik, warga telah melakukan pemilahan lebih spesifik lagi menjadi dua jenis, yakni sampah organik basah mentah seperti sisa sayuran atau bahan makanan yang belum dimasak, dan sampah organik basah matang seperti sisa makanan yang telah diolah.
Ia juga mengungkapkan bahwa Gedongkiwo kini memiliki 23 biopori jumbo. Untuk pengelolaannya berasal dari swadaya masyarakat.
“Biopori jumbo ini menjadi salah satu cara efektif warga mengolah sampah organik sekaligus meningkatkan daya serap tanah terhadap air,” ujarnya dalam Peninjauan Mas Jos di Kelurahan Gedongkiwo, belum lama ini.
Tidak hanya berada di permukiman warga, biopori juga dibuat di kawasan kantor kelurahan. Langkah ini menunjukkan komitmen bersama antara pemerintah kelurahan dan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. “Tahun depan rencananya akan panen serentak biopori jumbo. Ini menunjukkan bahwa pengolahan sampah berbasis lingkungan membuahkan hasil,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan, Kelurahan Gedongkiwo juga tengah mempersiapkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis kelurahan pada tahun 2026. Fasilitas ini dirancang untuk memperkuat sistem pengolahan sampah mandiri yang sudah berjalan saat ini.
Dengan adanya TPST terpadu, warga Gedongkiwo nantinya tidak lagi harus membawa sampah organik dan anorganik ke depo. Jadi, yang dibawa ke depo hanya sampah residu saja. “Kalau TPST sudah beroperasi, warga tidak perlu ke depo. Jadi pengolahan lebih dekat, efisien, dan bisa meminimalkan volume sampah,” katanya.
Sekda DIY, Aman Yuriadijaya, dalam kegiatan itu melihat secara langsung berbagai metode pengolahan sampah yang telah dijalankan warga, mulai dari pemilahan sampah rumahan hingga pemanfaatan fasilitas biopori jumbo.
Ia menilai warga Gedongkiwo telah menjadi contoh baik bagi kawasan lain di Kota Jogja. “Saya sangat mengapresiasi masyarakat Gedongkiwo. Ini bukti nyata bahwa gerakan Mas Jos bukan hanya slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan dengan disiplin oleh warga,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran kolektif warga akan pentingnya pengolahan sampah sudah tumbuh dengan kuat. Ia berharap hal serupa dapat diterapkan oleh seluruh warga Kota Jogja sehingga mampu menekan timbunan sampah harian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 10 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jam keberangkatan, stasiun tujuan, dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 15 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal tiap stasiun di sini.
Pengalaman tumbuh dalam keluarga ekonomi terbatas dapat membentuk kebiasaan finansial hingga dewasa. Simak 8 kebiasaan yang sering terbawa.
KOTAK resmi menjadi band independen setelah 18 tahun bersama label rekaman. Single YOLO menjadi simbol kebebasan kreatif dan era baru mereka.
AC mobil kurang dingin atau bau? Simak 7 cara merawat AC mobil agar tetap sejuk, awet, dan nyaman digunakan setiap har