Advertisement
DIY Capai Swasembada Beras, Lahan Sawah Terus Menyusut
Panen padi / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Istimewa Yogyakarta (DPKP DIY) menyatakan DIY telah mencapai swasembada beras pada 2025, namun keberlanjutan capaian ini menghadapi ancaman serius akibat terus menyusutnya Lahan Baku Sawah (LBS).
Kepala DPKP DIY, Eko Aris Nugroho, menegaskan capaian swasembada beras DIY sudah melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat.
Advertisement
“Menurut perhitungan kami, kita sudah swasembada. Produksi 2025 sebesar 552.564 ton GKG [Gabah Kering Giling], dengan ketersediaan beras 424.173 ton beras,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Jumlah produksi tersebut telah melampaui kebutuhan beras masyarakat DIY yang mencapai 395.972 ton.
“Sehingga sudah seperti yang pemerintah pusat canangkan, yakni 2026 swasembada berkelanjutan,” ungkapnya.
Eko memprediksi produksi beras pada 2026 tidak akan jauh berbeda dari 2025, dengan kisaran produksi sekitar 450.000–550.000 ton GKG. “Harapan kami IP [Indeks Pertanaman] DIY terus meningkat,” katanya.
Meski demikian, Eko menyoroti tantangan utama swasembada beras di DIY, yakni terus menyusutnya Lahan Baku Sawah. Data DPKP DIY mencatat LBS pada 2019 seluas 76.273 hektare, turun menjadi 67.027 hektare pada 2024, dan kembali menyusut secara parsial menjadi 66.871 hektare pada 2025.
Untuk menjaga produktivitas di tengah keterbatasan lahan, DPKP DIY menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya penggunaan benih Varietas Unggul Baru (VUB).
“Tahan genangan, tahan rebah saat musim hujan dan tahan kekeringan saat musim kemarau,” paparnya.
Strategi lainnya adalah pergantian varietas secara berkala, penerapan pupuk berimbang, serta pengendalian hama terpadu ramah lingkungan.
“Artinya penggunaan pupuk kimia dan organik seimbang. Kalaupun menggunakan kimia, diberikan sesuai dosis anjuran,” katanya.
DPKP DIY juga mendorong Pengendalian Hama Terpadu (PHT) berbasis pestisida nabati dan agensi hayati, penurunan susut hasil, mekanisasi pra dan pascapanen, serta inovasi teknik budi daya.
Beragam inovasi diterapkan, mulai dari teknik Arkansas, Brigade Pertanian (BP) modern, tabur drone, Jajar Legowo (Jarwo), Salibu, Haston, integrated farming, zero waste, crops livestock system, corporate farming, IP300–IP400, tumpangsari, hingga penerapan Good Agricultural Practices (GAP) serta bimbingan teknis bagi kelompok tani.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia resmi mencapai swasembada beras per 31 Desember 2025.
“Saya bisa menyampaikan begitu lewat 31 Desember 2025, Bangsa Indonesia sekarang sudah swasembada beras,” ujarnya dalam perayaan Natal Nasional di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (5/1/2025).
Ia menegaskan sepanjang 2025 Indonesia tidak melakukan impor beras sama sekali. “Target empat tahun, kita bisa capai dalam waktu satu tahun,” katanya.
Capaian swasembada beras DIY ini menjadi modal penting ketahanan pangan daerah, namun penyusutan lahan sawah menuntut strategi berkelanjutan agar swasembada beras tetap terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Fee 5 Persen dan Ancaman Mutasi Terkuak di Sidang Abdul Wahid
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
- Pengolahan Mandiri Efektif, Sampah Residu di Demangan Jogja Berkurang
- Kelelahan, Polisi Kapospam Tugu Jogja Meninggal Dunia Saat Bertugas
- Posko THR Bantul Terima 20 Aduan, 5 Kasus Dilimpahkan ke Provinsi
- Volume Sampah Libur Lebaran di Jogja Terkendali, Naik Tipis 7 Persen
Advertisement
Advertisement




