Advertisement
BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan, Jogja Perpanjang Siaga Bencana
Foto ilustrasi hujan di perkotaan, dibuat menggunakan Artificial Intelligence - AI.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pola cuaca ekstrem yang kian sering muncul di awal tahun mendorong pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan bencana, menyusul prediksi puncak musim hujan pada Februari 2026 dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga Februari 2026.
Advertisement
Kepala Pelaksana BPBD Kota Jogja, Nur Hidayat, menjelaskan sebelumnya status siaga darurat hidrometeorologi ditetapkan hingga Desember 2025. Namun, adanya prediksi puncak musim hujan pada Februari 2026 membuat pihaknya mengajukan perpanjangan status tersebut.
“Berdasarkan rilis BMKG itu, kami mengajukan telaahan kepada Wali Kota untuk menetapkan status siaga darurat hidrometeorologi,” katanya, Selasa (13/1/2026).
BACA JUGA
Nur Hidayat menuturkan, langkah antisipasi sebenarnya telah disiapkan sejak akhir Oktober 2025, setelah terjadi puluhan kejadian kebencanaan akibat curah hujan tinggi dan angin kencang. Saat itu tercatat banyak atap rumah roboh serta pohon tumbang, sehingga BPBD memperkuat kesiapsiagaan guna meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi.
Sejumlah upaya telah dilakukan, antara lain pendirian posko siaga bencana di Jalan Tegal Turi, Umbulharjo, serta memastikan seluruh early warning system (EWS) berfungsi optimal. Melalui posko tersebut, BPBD menyiapkan personel dan peralatan untuk evakuasi korban ketika bencana terjadi.
Sementara itu, EWS telah terpasang di seluruh sungai yang melintas di Kota Jogja sebagai sistem peringatan dini bagi masyarakat saat debit air meningkat.
“Kami juga mengaktifkan posko komunikasi melalui radio. Setiap hari dilakukan komunikasi rutin dengan relawan dan Kampung Tangguh Bencana (KTB) di berbagai wilayah untuk memantau kondisi lapangan,” katanya.
Melalui komunikasi radio tersebut, relawan kebencanaan yang tersebar di seluruh KTB melaporkan kondisi terkini wilayah masing-masing. Dengan demikian, ketika potensi kebencanaan meningkat, BPBD dapat segera menyiapkan personel dan peralatan.
Nur Hidayat menyebut, karena Kota Jogja dilintasi sejumlah sungai, sebagian besar wilayah memiliki potensi bencana banjir dan longsor, terutama kawasan yang berbatasan langsung dengan aliran sungai. Ia menyoroti daerah yang dilintasi tiga sungai besar, yakni Sungai Gadjah Wong, Sungai Code, dan Sungai Winongo, yang hampir setiap tahun meluap saat musim hujan.
Selain itu, potensi genangan air juga kerap muncul di sejumlah ruas jalan, antara lain di sekitar Kali Mambu, Umbulharjo, dan Gondokusuman. Luapan air di kawasan tersebut disebabkan kapasitas drainase yang sering kali tidak mampu menampung tingginya debit air.
“Kalau hujan lebat di wilayah utara, debit air yang masuk ke Kota Jogja cukup besar, sementara salurannya terbatas sehingga meluap ke jalan,” katanya.
BPBD Kota Jogja mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, memantau informasi cuaca resmi, serta segera melapor apabila menemukan tanda-tanda potensi bencana di lingkungan sekitar.
BACA JUGA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- PAD Perikanan Rp314 Juta, TPI Baron Jadi Penyumbang Terbesar
- Abrasi hingga Lahan Jadi Alasan Kampung Nelayan di Kulonprogo Ditolak
- Jejak Diduga Macan Gegerkan Semanu, Muncul 2 Kali dalam 10 Hari
- Titik Terang Relokasi SDN Nglarang, Bangunan Baru Segera Dibangun
- Jembatan Sentolo-Nanggulan Ambles, Pemkab Bangun Jembatan Darurat
Advertisement
Advertisement





