Advertisement
PHRI DIY: Isu Biaya Hidup Mahal Tak Goyahkan Wisata Jogja
Wisatawan memadati kawasan Jalan Malioboro, Jogja. - Harian Jogja - Gigih M Hanafi
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Isu yang menyebut biaya hidup di Jogja sebagai yang termahal kedua di Indonesia sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY menilai isu tersebut tidak berdampak signifikan terhadap tingkat kunjungan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo, mengatakan dari perspektif industri pariwisata, klaim tingginya biaya hidup di Jogja masih patut dipertanyakan. Ia menilai persepsi wisatawan justru menunjukkan hal sebaliknya, yakni Jogja tetap dipandang sebagai destinasi yang ramah di kantong.
Advertisement
“Karena banyak wisatawan yang datang ke Jogja itu justru merasakan murah. Karena beberapa wisatawan yang datang ke Jogja itu selalu repeat kunjungannya,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Menurut Deddy, selama ini wisatawan masih menganggap belanja dan konsumsi di Jogja relatif terjangkau serta memberikan pengalaman yang memuaskan. Ia menegaskan kepuasan pengunjung menjadi indikator utama keberhasilan sektor pariwisata, terlepas dari isu yang berkembang di ruang digital.
BACA JUGA
“Nah, ini perlu dipertanyakan lagi. Tapi yang paling penting adalah wisatawan bisa berkunjung ke Jogja dan memuaskan selama ini,” ungkapnya.
PHRI DIY bersama pelaku industri pariwisata lainnya, lanjut Deddy, secara rutin mengantisipasi berbagai isu negatif yang berpotensi memengaruhi minat kunjungan wisatawan. Upaya mitigasi dilakukan bahkan sebelum isu tersebut berkembang luas di media.
“Sebelum ada itu kita sudah mengantisipasi. Salah satunya ya tentang berita satu Indonesia ke Jogja itu juga ada dampak positif dan negatifnya,” katanya.
Ia mencontohkan, salah satu dampak negatif dari isu tersebut adalah munculnya anggapan bahwa Jogja sudah terlalu padat sehingga wisatawan ragu untuk berkunjung. Persepsi itu bahkan membuat sebagian calon wisatawan mengira seluruh hotel di Jogja telah penuh.
“Mereka mengangggap hotel-hotel pasti sudah penuh. Itu negatifnya. Makanya kami memberikan informasi bahwa satu Indonesia ke Jogja itu belum tentu menginap, mungggkin hanya lewat, kami masih menyediakan kamar gitu lho,” paparnya.
Meski demikian, Deddy mengakui terdapat tantangan tersendiri dalam menarik wisatawan mancanegara. Salah satu kelemahan utama pariwisata Jogja saat ini adalah masih tingginya harga tiket pesawat direct flight menuju Yogyakarta International Airport (YIA).
“Bandara kita itu kan belum maksimal untuk penerbangan internasional, sekarang kita itu kalah dengan Surabaya dan Semarang,” katanya.
Ia menyebutkan, harga tiket penerbangan dari Semarang ke Malaysia bahkan lebih murah dibandingkan penerbangan dari YIA ke destinasi internasional yang sama. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi minat wisatawan asing untuk berkunjung ke Jogja.
“Ini yang harus kita benahi tadi. DIY itu istimewa tapi jangan terlena dengan keistimewaan kita,” ungkapnya.
Isu biaya hidup tinggi di Jogja mencuat setelah beredarnya sebuah konten di media sosial yang mengklaim berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), standar hidup di Jogja pada 2024 menjadi yang tertinggi kedua di Indonesia dengan pengeluaran per kapita mencapai Rp20,6 juta per tahun.
Dalam konten tersebut juga disebutkan bahwa daerah dengan biaya hidup tertinggi adalah Denpasar dengan pengeluaran Rp20,76 juta per tahun. Sementara peringkat ketiga ditempati Jakarta dengan angka Rp19,95 juta per tahun, disusul Batam dan Surabaya.
Klaim tersebut kemudian dibantah oleh BPS DIY. Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono, menjelaskan bahwa data yang digunakan dalam konten tersebut merupakan data pengeluaran per kapita yang disesuaikan, bukan data biaya hidup riil masyarakat.
Ia menerangkan, pengeluaran per kapita disesuaikan merupakan salah satu komponen dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang digunakan untuk membandingkan kemampuan daya beli antarwilayah. Nilai rupiah di setiap daerah memiliki daya beli yang berbeda-beda.
“Rp50.000 di Jogja bisa dapat apa, dibandingkan Rp50.000 ribu di Jakarta Selatan bisa dapat apa,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Menkeu Tunda Pajak Marketplace, Tunggu Ekonomi Tumbuh 6 Persen
Advertisement
Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 27 Januari 2026, Tarif Rp8.000
- Penataan Pantai Sepanjang Dinilai Sukses, DPRD Dorong Perluasan
- UMK Bantul Naik, Disnakertrans Intensifkan Pengawasan Perusahaan
- Status Siaga Bencana Gunungkidul Diperpanjang hingga 31 Maret 2026
- Jadwal KA Bandara YIA Reguler dan Xpress Selasa 27 Januari 2026
Advertisement
Advertisement



