Advertisement

Penyakit VTE Jadi Silent Killer, Guru Besar UGM Ingatkan Deteksi Dini

Sunartono
Selasa, 27 Januari 2026 - 21:02 WIB
Sunartono
Penyakit VTE Jadi Silent Killer, Guru Besar UGM Ingatkan Deteksi Dini Guru Besar Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Usi Sukorini. - Istimewa.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman penyakit trombosis vena atau venous thromboembolism (VTE) di Indonesia masih tergolong tinggi, terutama karena rendahnya deteksi dini yang membuat penyakit ini kerap baru teridentifikasi saat telah memicu komplikasi fatal berupa emboli paru. Kondisi tersebut menjadikan VTE sebagai salah satu penyakit pembuluh darah yang berpotensi menyebabkan kematian mendadak tanpa gejala jelas sebelumnya.

Minimnya kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap faktor risiko serta tanda awal trombosis vena menjadi persoalan utama yang memperparah keterlambatan diagnosis. Wujud dari VTE yaitu deep vein thrombosis (DVT) dan lebih parah lagi komplikasi menjadi emboli paru.

Advertisement

Hal ini diungkapkan Guru Besar Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Usi Sukorini.

“Di Indonesia, sebagian besar kasus deep vein thrombosis atau DVT ditemukan secara kebetulan, atau justru baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi emboli paru. Padahal emboli paru bisa terjadi secara tiba-tiba dan berakibat fatal,” ujar Prof. Usi dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar di Ruang Senat, Balairung UGM, Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa DVT merupakan kondisi terbentuknya trombus atau bekuan darah di dalam pembuluh darah vena, yang paling sering terjadi pada tungkai bawah. Dalam situasi tertentu, trombus tersebut dapat terlepas dan mengikuti aliran darah menuju paru-paru hingga menyumbat pembuluh darah paru, memicu emboli paru yang dikenal luas sebagai silent killer.

Kerumitan deteksi DVT juga dipengaruhi oleh gejala klinis yang tidak khas dan sangat bervariasi antarindividu. Prof. Usi menyebutkan, keluhan yang muncul bisa berupa nyeri pada betis, pembengkakan tungkai, rasa hangat, kemerahan, edema, hingga perbedaan ukuran antara kedua kaki. Namun, tidak sedikit pula pasien yang sama sekali tidak merasakan keluhan apa pun.

“Tidak ada satu tanda, gejala, pemeriksaan pencitraan, maupun biomarker tunggal yang bisa menegakkan diagnosis DVT secara pasti. Diagnosis harus dilakukan melalui analisis komprehensif antara kondisi klinis dan pemeriksaan penunjang,” katanya.

Kondisi tersebut semakin kompleks karena keterbatasan fasilitas pemeriksaan penunjang di berbagai daerah. Pemeriksaan D-dimer dan ultrasonografi doppler vena, yang menjadi standar dalam evaluasi trombosis vena, menurut Prof. Usi masih belum tersedia secara merata, khususnya di rumah sakit di luar kota-kota besar.

Dampak penyakit trombosis vena tidak hanya dirasakan dari sisi medis, tetapi juga meluas ke aspek ekonomi, psikologis, dan sosial. Prof. Usi menegaskan bahwa komplikasi seperti emboli paru dan post-thrombotic syndrome dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan.

“Komplikasi seperti emboli paru atau post-thrombotic syndrome dapat menurunkan kualitas hidup pasien secara signifikan. Biaya perawatan akut, pengobatan jangka panjang, hingga rehabilitasi menjadi beban berat, baik bagi pasien maupun sistem pelayanan kesehatan,” jelasnya.

Dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan, ia menyoroti tantangan besar dalam menjaga efisiensi anggaran, terutama terkait upaya deteksi risiko trombosis. Pemanfaatan biomarker untuk menentukan indeks trombosis dinilai masih menghadapi kendala serius.

“Biaya reagen yang tinggi, terlebih jika harus menggunakan kombinasi biomarker seperti F1+2, FPA, dan TM, menjadi hambatan signifikan dalam penerapannya di praktik klinis. Tidak semua fasilitas kesehatan memiliki sumber daya yang memadai,” ujarnya.

Selain persoalan biaya, keterbatasan ketersediaan dan stabilitas reagen pemeriksaan koagulasi di Indonesia juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi ini, menurut Prof. Usi, mendorong perlunya inovasi berkelanjutan yang tidak hanya kuat secara ilmiah, tetapi juga efisien dan realistis untuk diterapkan secara luas.

“Kami terus berupaya mencari kombinasi biomarker terbaik yang lebih sederhana, terjangkau, namun tetap andal untuk memprediksi risiko terjadinya DVT. Deteksi dini yang lebih luas menjadi kunci untuk menekan angka komplikasi dan kematian,” pungkas Prof. Usi Sukorini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

5 WNA Nigeria Ditangkap Terkait Love Scamming

5 WNA Nigeria Ditangkap Terkait Love Scamming

News
| Selasa, 27 Januari 2026, 22:02 WIB

Advertisement

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Wisata
| Selasa, 27 Januari 2026, 13:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement