Advertisement
DIY di Jalur Aktif Bumi: Mengapa Gempa Bumi Kerap Mengguncang Jogja
Guncangan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,4 mengejutkan warga Pacitan, Jawa Timur, dan sejumlah wilayah lain pada Jumat (6/2/2026) dini hari. - Instagram.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati posisi strategis sekaligus rentan dalam peta kebencanaan nasional, terutama terkait gempa bumi. Wilayah ini berada di kawasan dengan dinamika tektonik tinggi, sehingga aktivitas seismik menjadi fenomena yang relatif sering terjadi dan perlu dipahami secara komprehensif oleh masyarakat.
Diolah dari berbagai sumber, kerentanan gempa bumi di Jogja tidak terlepas dari kedekatannya dengan zona subduksi selatan Pulau Jawa. Pada zona ini, Lempeng Indo-Australia terus bergerak menunjam ke bawah Lempeng Eurasia, memicu penumpukan energi tektonik di dalam kerak bumi yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
Advertisement
Selain dipengaruhi aktivitas subduksi, daratan DIY juga dilalui sejumlah sesar atau patahan aktif. Salah satu yang paling dikenal adalah Sesar Opak–Oyo yang membentang dari wilayah selatan hingga timur Jogja. Aktivitas patahan ini kerap memicu gempa dangkal dengan pusat gempa yang relatif dekat permukaan, sehingga guncangannya terasa lebih kuat oleh masyarakat.
Berbagai penelitian geologi menunjukkan bahwa pergerakan sesar-sesar lokal tersebut masih berlangsung hingga kini. Gempa bumi yang dipicu oleh sesar darat umumnya bermagnitudo sedang, namun karena kedalamannya dangkal, dampaknya terhadap permukiman dan infrastruktur berpotensi cukup signifikan.
BACA JUGA
Kondisi geologi DIY atau Yogyakarta yang didominasi endapan vulkanik hasil aktivitas Gunung Merapi turut memengaruhi karakter guncangan gempa. Lapisan sedimen muda dan tanah lunak di sejumlah wilayah DIY dapat memperkuat rambatan gelombang seismik, meskipun gempa bermagnitudo tidak terlalu besar. Fenomena ini dikenal sebagai efek amplifikasi gelombang gempa.
Catatan sejarah kegempaan memperkuat fakta bahwa DIY atau Yogyakarta merupakan kawasan rawan gempa bumi. Salah satu peristiwa paling membekas terjadi pada 27 Mei 2006, ketika gempa berpusat di Kabupaten Bantul menyebabkan ribuan korban jiwa serta kerusakan bangunan dalam skala luas. Peristiwa tersebut menjadi pengingat nyata besarnya risiko gempa di wilayah ini.
Para ahli menegaskan bahwa gempa bumi di Jogja merupakan proses alamiah akibat dinamika bumi yang tidak dapat dihindari. Meski demikian, tingkat risiko dan dampaknya masih dapat ditekan melalui langkah mitigasi, mulai dari penerapan standar bangunan tahan gempa, pemetaan zona rawan bencana, hingga peningkatan literasi kebencanaan di tengah masyarakat.
Pemahaman terhadap karakter geologi dan penyebab gempa bumi di Jogja menjadi kunci penting agar masyarakat lebih siap menghadapi situasi darurat. Kesiapsiagaan tersebut diharapkan mampu membantu warga bertindak tepat dan tetap tenang saat gempa terjadi, sekaligus meminimalkan potensi kerugian.
Getaran Gempa Pacitan dan Dampaknya di Jogja
Getaran gempa bumi yang terasa di Jogja tidak selalu bersumber dari wilayah DIY. Dalam sejumlah peristiwa, guncangan yang dirasakan masyarakat Jogja berasal dari gempa yang berpusat di Pacitan, Jawa Timur, yang masih berada di jalur tektonik aktif selatan Pulau Jawa.
Gempa Pacitan umumnya merupakan gempa tektonik akibat aktivitas zona subduksi selatan Jawa, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Karakter gempa jenis ini memiliki jangkauan getaran luas, sehingga dampaknya dapat dirasakan hingga ratusan kilometer dari pusat gempa, termasuk wilayah Jogja.
Kuat atau lemahnya getaran yang dirasakan di DIY juga dipengaruhi kondisi geologi setempat. Endapan vulkanik muda serta lapisan sedimen lunak di sejumlah kawasan Jogja dapat memperkuat gelombang gempa yang datang, meskipun pusat gempa berada di luar daerah.
Para pakar menegaskan bahwa gempa Pacitan yang getarannya terasa di Jogja merupakan fenomena alamiah dan tidak selalu menandakan munculnya sumber gempa baru di wilayah DIY. Kendati demikian, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan serta memahami langkah mitigasi gempa sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan.
Gempa 6,4 Pacitan Dinihari
Terbaru guncangan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,4 mengejutkan warga Pacitan, Jawa Timur, dan sejumlah wilayah lain pada Jumat (6/2/2026) dini hari. Gempa Pacitan tersebut turut dirasakan hingga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan beberapa kawasan di Jawa Tengah, membuat sebagian warga terbangun dari tidur.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa Pacitan terjadi pada pukul 01.06 WIB. Berdasarkan data resmi BMKG, pusat gempa berada di koordinat 8,99 Lintang Selatan dan 111,18 Bujur Timur, dengan lokasi di laut pada jarak sekitar 90 kilometer arah tenggara Pacitan, Jawa Timur.
BMKG menyebutkan kedalaman gempa relatif dangkal, yakni 10 kilometer, sehingga getaran terasa cukup signifikan di wilayah daratan. Informasi tersebut disampaikan melalui unggahan akun resmi X (Twitter) @infoBMKG pada Jumat dini hari.
"#Gempa Mag:6.4, 06-Feb-26 01:06:10 WIB, Lok:8.99 LS,111.18 BT (90 km Tenggara PACITAN-JATIM), Kedlmn:10 Km," tulis admin BMKG.
Meski berkekuatan besar, BMKG memastikan gempa Pacitan tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Namun demikian, getaran gempa dilaporkan terasa di berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga DIY.
Di wilayah DIY, sejumlah warga Kota Jogja, Sleman, dan Gunungkidul melaporkan merasakan guncangan yang cukup kuat selama beberapa detik. Informasi serupa juga datang dari wilayah Jawa Tengah, termasuk Magelang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Gempa Pacitan Magnitudo 6,4 Ganggu KA Lodaya Jalur Selatan
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



