Advertisement
Hasto Dukung Gagasan Gentengisasi Prabowo, Bedah 200 Rumah Tahun Ini
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo saat melaksanakan program bedah rumah beberapa waktu lalu. Ist - Dok. Pemkot Jogja
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyambut baik gagasan “gentengisasi” yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, ide tersebut sejalan dengan program bedah rumah yang telah dijalankan Pemerintah Kota Jogja sejak awal kepemimpinannya.
Pada 2026 ini, Pemkot Jogja menargetkan renovasi 200 rumah tidak layak huni milik warga, dengan salah satu fokus utama penggantian atap menggunakan genteng tanah liat.
Advertisement
Hasto menilai keprihatinan Presiden Prabowo terhadap masih banyaknya rumah warga yang beratapkan seng atau asbes sejalan dengan perjuangan yang sudah ia lakukan sejak menjabat sebagai Bupati Kulonprogo.
“Saya merasa ada resonansi dan chemistry yang sama. Pak Prabowo menyampaikan itu, saya sangat berterima kasih. Sejak saya di Kulonprogo, saya sudah gemes kenapa banyak rumah masih pakai seng dan asbes,” ujar Hasto, Jumat (6/2/2026).
BACA JUGA
Menurutnya, penggunaan atap asbes dan seng bukan hanya berdampak buruk bagi kesehatan, tetapi juga kurang berpihak pada ekonomi masyarakat kecil. Asbes dinilai berisiko menyebabkan penyakit paru-paru kronis atau asbestosis, sementara seng mudah korosif dan cepat kotor.
“Asbes jelas berbahaya karena asbestosis. Seng juga kotor dan korosif. Makanya dulu saat menggerakkan Bela Beli Kulon Progo, saya berpikir kenapa kita tidak pakai genteng saja,” jelasnya.
Hasto menambahkan, genteng tanah liat memiliki nilai ekonomi lokal karena diproduksi oleh pengrajin kecil dan menengah di daerah. Berbeda dengan seng atau asbes yang umumnya berasal dari industri besar dan banyak bergantung pada bahan baku impor.
Dalam setiap program bedah rumah di Kota Jogja, penggantian atap menjadi prioritas. Ia memastikan tidak lagi menggunakan asbes dan menetapkan genteng sebagai standar atap rumah hasil renovasi.
“Kalau bedah rumah, atapnya selalu saya ganti genteng. Tidak pakai asbes, jelas tidak. Asbes sudah saya larang,” tegasnya.
Genteng untuk program tersebut dipasok dari berbagai sentra pengrajin di wilayah sekitar, seperti Sleman hingga Kebumen, sehingga turut menggerakkan ekonomi regional.
Untuk mencapai target 200 rumah tahun ini, Pemkot Jogja mengandalkan skema gotong royong serta pendanaan non-APBD dan non-APBN, termasuk melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Hasto optimistis target tersebut tercapai, mengingat dalam lima bulan terakhir saja pihaknya berhasil menyelesaikan renovasi 82 rumah tanpa menggunakan anggaran pemerintah.
“Saya akan berusaha keras agar 200 rumah bisa selesai tahun ini. Kemarin lima bulan saja sudah bisa 82 rumah, tanpa APBD dan tanpa APBN,” katanya.
Ia menjelaskan, penggunaan skema CSR memberikan fleksibilitas karena tidak mensyaratkan status kepemilikan tanah tertentu. Bagi Hasto, program bedah rumah bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi menjadi simbol kehadiran negara di tengah masyarakat.
Ia juga mengisahkan pengalaman emosional warga penerima bantuan. Banyak dari mereka sebelumnya berkali-kali mengajukan bantuan perumahan namun terkendala administrasi, hingga akhirnya terharu ketika rumah mereka benar-benar direnovasi melalui gotong royong.
“Mereka sampai ternyuh, bilang kok ternyata negara bisa hadir di rumah kami dan membangun bersama warga,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Gempa Pacitan M 6,2 Berdampak di Tiga Provinsi, BNPB Siaga Penuh
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



