Advertisement

Kasus Leptospirosis di Jogja Naik, Warga Diminta Waspada

Stefani Yulindriani Ria S. R
Sabtu, 07 Februari 2026 - 17:47 WIB
Maya Herawati
Kasus Leptospirosis di Jogja Naik, Warga Diminta Waspada Leptospirosis / Ilustrasi Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kasus leptospirosis di Kota Jogja pada 2025 meningkat signifikan dibandingkan 2024. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat 34 kasus leptospirosis sepanjang 2025, naik dari 10 kasus pada 2024, sehingga deteksi dini diperketat untuk mencegah komplikasi berat seperti gagal ginjal.

Lonjakan kasus leptospirosis tersebut mendorong puskesmas di Kota Jogja melakukan skrining lebih ketat terhadap pasien demam dengan riwayat paparan lingkungan berisiko.

Advertisement

Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Jogja, Anandi Iedha Retnani, menuturkan pemeriksaan dapat dilakukan melalui PCR pada fase awal infeksi, rapid diagnostic test (RDT) setelah tujuh hari demam, serta microscopic agglutination test (MAT) sebagai konfirmasi laboratorium.

“Sampel pasien dapat dikirim ke laboratorium rujukan, termasuk Balai Besar Laboratorium Kesehatan,” katanya, Sabtu (7/2/2026).

Ia menambahkan, upaya pencegahan leptospirosis dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan serta menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di lingkungan berisiko. Masyarakat diimbau mencuci tangan dan kaki seusai beraktivitas di luar, memakai alas kaki dan sarung tangan saat kerja bakti, menghindari kontak langsung dengan air banjir tanpa pelindung, menjaga kebersihan rumah, serta mengendalikan populasi tikus.

Warga juga diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas apabila mengalami demam disertai nyeri otot seusai terpapar lingkungan kotor atau genangan air. “Semakin cepat ditangani, risiko komplikasi berat dapat dicegah,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan leptospirosis merupakan penyakit menular akibat bakteri Leptospira yang bersifat zoonosis atau dapat menular dari hewan ke manusia. Bakteri tersebut masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka maupun selaput lendir seperti hidung, mulut, dan mata. Penularan paling sering terjadi melalui kontak dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan terinfeksi.

“Penularannya paling sering melalui tikus sehingga masyarakat sering menyebutnya flu tikus. Namun bakteri ini juga bisa berasal dari hewan lain seperti babi, kuda, dan kambing,” katanya.

Ia menyebut tingkat risiko penularan bergantung pada paparan. Kelompok berisiko tinggi antara lain pekerja sektor pertanian, peternakan, rumah potong hewan, petugas kebersihan, serta warga yang kerap beraktivitas di wilayah dengan genangan air, banjir, sanitasi buruk, atau populasi tikus tinggi.

Anandi mengingatkan gejala awal leptospirosis kerap dianggap ringan sehingga pasien terlambat berobat.

“Gejalanya berupa demam, nyeri otot, dan lemas. Sering disangka kelelahan atau masuk angin. Padahal jika tidak segera ditangani, penyakit ini bisa berkembang menjadi gagal ginjal dan memerlukan cuci darah,” katanya.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja, Endang Sri Rahayu, menyatakan peningkatan kasus leptospirosis pada 2025 perlu menjadi perhatian serius masyarakat.

“Peningkatan ini dipengaruhi kewaspadaan puskesmas yang lebih tinggi. Setiap pasien demam dengan faktor risiko kini langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis,” katanya.

Kewaspadaan tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan kasus leptospirosis di Kota Jogja, sekaligus menekan potensi komplikasi berat melalui deteksi dini dan pemeriksaan laboratorium yang lebih sistematis di seluruh fasilitas kesehatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BPBD Catat 43 Bangunan DampakGempa di Pacitan Jatim

BPBD Catat 43 Bangunan DampakGempa di Pacitan Jatim

News
| Sabtu, 07 Februari 2026, 20:17 WIB

Advertisement

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

Wisata
| Rabu, 04 Februari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement