Advertisement

Lewat Bahasa Isyarat, Santri Ponpes Darul Ashom Mengaji dalam Sunyi

Catur Dwi Janati
Selasa, 24 Februari 2026 - 12:17 WIB
Maya Herawati
Lewat Bahasa Isyarat, Santri  Ponpes Darul Ashom Mengaji dalam Sunyi Aktivitas santri di Ponpes Tunarungu Darul Ashom, Sleman, Jumat (20/2 - 2026). Para santri membaca Al/Qur'an dengan bahasa isyarat. / Harian Jogja/Catur Dwi Janati 

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Di sebuah ruang sederhana di sudut Kapanewon Godean, ayat-ayat suci tidak terdengar dalam lantunan suara, tetapi hidup melalui gerak jemari. Pondok Pesantren (Ponpes) Tunarungu Darul Ashom menghadirkan ruang belajar agama bagi ratusan santri tunarungu, tempat Al-Qur’an dipelajari dalam sunyi, namun penuh makna.

Suasana ruangan itu nyaris tanpa suara. Deretan santri duduk bersila di atas lantai keramik, masing-masing menatap mushaf yang terbuka di hadapan mereka. Tidak ada gema bacaan seperti di pesantren pada umumnya. Bibir mereka diam, tetapi tangan terus bergerak membentuk huruf-huruf hijaiyah. Dari gerak itulah ayat demi ayat dilafalkan, tanpa suara, namun terasa hidup.

Advertisement

Di Darul Ashom, mengaji tidak selalu berarti bersuara. Bagi para santri tunarungu, bahasa isyarat menjadi jalan untuk mendekat kepada kitab suci. Ketekunan mereka membentuk ritme tersendiri, sunyi yang justru terasa penuh.

Para santri datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan tujuan yang sama: belajar agama. Salah satunya Ahmad, santri berusia 21 tahun asal Bali yang datang pada 2022. Sebelum mengenal Darul Ashom, ia mengaku belum pernah mempelajari agama karena tidak ada yang mengajarkan.

"Dulu belum pernah belajar agama. Pertama [belajar] di sini. Agama bagi saya baru," kata Ahmad melalui bahasa isyarat  Jumat (20/2/2026).

Rutinitas Ahmad berjalan disiplin sejak dini hari hingga malam. Seusai bangun untuk tahajud, ia mengaji sendiri, lalu mengikuti kegiatan hafalan, kajian hadis, hingga belajar mandiri pada sore hari.

"Saya mengaji, terus siang hadis, terus sore itu belajar sendiri dan malam semua istirahat," ujarnya.

"Bangun tahajud, lalu mengaji sendiri," katanya.

Ketekunan itu membuahkan hasil. Ahmad kini telah menghafal dua juz Al-Qur’an dan terus menambah hafalannya.

"Alhamdulillah kemarin 2 juz sempurna, sekarang mungkin 3 juz," ujarnya.

Bagi Ahmad, belajar agama bukan sesuatu yang sulit. Ia hanya mengulang bacaan sedikit demi sedikit hingga akhirnya lancar.

"Dulu saya baca Al-Qur'an pelan-pelan, mengulangi besoknya sedikit-sedikit, [kini] bisa gampang dan lancar," katanya.

Dari perjalanan itu tumbuh cita-cita besar. Ahmad ingin menjadi ustaz bagi penyandang tunarungu lain, bahkan hingga ke luar negeri. "Saya mau jadi ustaz, mengajarkan anak-anak tuli di negara lain," katanya.

Meski lisannya tak melafalkan ayat, keyakinannya justru semakin kuat sejak mengenal agama.

"Saya merasakan saya memiliki ilmu, saya lebih yakin pada Allah. Tambah yakin pada Allah. Apalagi dulu sekolah saya enggak belajar agama, enggak ada yang ngajarin saya," ungkapnya.

"Sekarang saya mau belajar agama sampai saya mati syahid. Sampai saya meninggal," tutur Ahmad.

Bahasa Isyarat, Jembatan Ilmu

Perjalanan para santri tidak lepas dari peran guru yang belajar memahami dunia mereka. Salah satu pengajar, Muhammad Aldi, mengaku membutuhkan sekitar satu tahun untuk fasih berbahasa isyarat. Ia mempercepat proses itu dengan terus berbaur bersama santri.

"Kalau untuk belajar bahasa isyarat, asalkan terus bersama dengan mereka insyaallah akan terbiasa. Bahasa isyarat itu bahasa tubuh. Ketika kita bersama-sama dengan mereka, berbaur dengan mereka dan ingin tahu kehidupan mereka, ingin tahu bahasa mereka, maka akan mudah," ujarnya.

Aldi merasa terpanggil setelah melihat semangat anak-anak tunarungu dalam belajar agama.

"Dengan keterbatasan mereka, dengan pendengaran mereka yang ditangguhkan, tapi semangat ingin belajar agama, semangat ingin menghafal Al-Qur'an. Dari semangat anak-anak itulah saya terketuk ingin membersamai mereka," katanya.

Selama tiga tahun mengajar, ia melihat para santri seperti gelas kosong yang siap diisi ilmu dan langsung diamalkan.

"Anak-anak ini ketika diajarkan agama, ketika mereka paham satu ilmu, mereka langsung amalkan. Mereka ini ibarat benar-benar gelas kosong," ujarnya.

Tantangan tentu ada, terutama perbedaan kemampuan memahami pelajaran. Namun Aldi menilai kunci utama adalah kedekatan hati.

"Yang pertama kuncinya adalah Mahabbah. Jadi ketika kita tahu Mahabbah dengan santri, ketika sudah kena hatinya, sudah dapat hatinya, maka nanti tersendiri tantangan itu berbeda-beda," katanya.

Dari Dua Santri Menjadi Ratusan

Pengasuh sekaligus pendiri Ponpes Darul Ashom, Ustaz Abu Kahfi, menceritakan perjalanan pondok yang kini telah berusia enam tahun. Saat awal berdiri hanya ada dua santri, kemudian bertambah menjadi 12 orang dalam enam bulan. Kini jumlahnya mencapai sekitar 180 santri dari 28 provinsi. "Kegiatan mereka sama dengan kegiatan santri pada umumnya, santri salafiyah pada umumnya," ujarnya.

Sehari-hari santri menjalani tahajud, murajaah, kelas hafalan, kajian hadis, hingga belajar kitab. Aktivitas berlangsung sejak dini hari hingga malam.

Perkembangan para santri kerap membuat orang tua terharu. Abu menceritakan ada orang tua yang merasa tenang karena anaknya kini bisa membaca doa dan melaksanakan ibadah.

"Bahkan ada satu orang [tua] itu bilang, sekarang saya tenang kalau meninggal, ada yang mengirim Al-Fatihah buat saya," ujarnya.

Harapan terbesar Abu adalah para lulusan menjadi pengajar agama bagi komunitas tunarungu, karena saat ini masih sangat minim. "Dengan Al-Quran, dengan ilmu agama, kamu harus jadi pengajar. Kalian lulus dari sini harus jadi pengajar. Kalian harus menyelamatkan dunia pendidikan di tunarungu," katanya.

Di Darul Ashom, sunyi bukanlah keterbatasan. Ia justru menjadi ruang tempat iman tumbuh, melalui jemari yang bergerak, ayat-ayat tetap melangit, dan keyakinan terus hidup dalam keheningan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Meksiko Serahkan Puluhan Anggota Kartel Narkoba ke AS Sejak 2025

Meksiko Serahkan Puluhan Anggota Kartel Narkoba ke AS Sejak 2025

News
| Selasa, 24 Februari 2026, 14:47 WIB

Advertisement

Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah

Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah

Wisata
| Selasa, 24 Februari 2026, 13:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement