Jelang HUT ke-81 RI, DPRD Bantul Ajak Warga Kibarkan Merah Putih
Jelang HUT ke-81 RI, DPRD Bantul mengajak warga mengibarkan Merah Putih dan menjaga kondisi serta pemasangannya.
Foto ilustrasi sakit perut/keracunan. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Kasus dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Jetis, Bantul membuat puluhan siswa mengalami gejala serupa, dengan jumlah sementara mencapai sekitar 80 orang.
Mayoritas korban berasal dari SMP Negeri 3 Jetis, sementara satu kasus lainnya dilaporkan dari SMP Muhammadiyah Jetis, di Jetis, Bantul.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul, Hermawan Setiaji, menyebut data tersebut masih bersifat sementara.
“Data ini masih sementara, data siang kemarin ya. Infonya ada sekitar 80 yang terdampak, 79 dari SMP 3 Jetis dan 1 dari SMP Muhammadiyah Jetis,” katanya Rabu (15/4).
Ia merinci, sebanyak 77 siswa dan dua guru di SMP Negeri 3 Jetis mengalami gejala keracunan.
Gejala tersebut diduga berkaitan dengan menu MBG yang dikonsumsi pada Senin (13/4), namun baru dirasakan pada Selasa (14/4).
Penyaluran MBG di dua sekolah tersebut diketahui berasal dari SPPG Patalan yang telah beroperasi sejak 2025.
Namun, pemerintah daerah masih belum memastikan status operasional penyedia layanan tersebut pascakejadian.
“Untuk hari ini saya belum monitor lagi, untuk penutupan kami masih menunggu keputusan dari Badan Gizi Nasional BGN,” ujar Hermawan.
Desakan Penyelidikan dan Sanksi Tegas
Kasus ini memicu desakan dari Jogja Police Watch (JPW) agar aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan.
JPW menilai perlu ada langkah hukum apabila ditemukan unsur kelalaian dalam penyediaan makanan.
Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba, menegaskan sanksi tidak cukup hanya administratif.
Menurutnya, jika terbukti ada kelalaian dari pihak penyedia jasa, maka penindakan hukum pidana juga harus diterapkan.
“Jika ada kelalaian dari SPPG maka harus ada sanksi hukum yang tegas,” katanya.
Hingga kini, proses penelusuran masih berlangsung untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Kasus Serupa Terjadi Sebelumnya
Sebelumnya, pada 2 April 2026, insiden serupa juga dilaporkan terjadi di Seloharjo, Pundong, Bantul, yang berkaitan dengan distribusi makanan dari SPPG Seloharjo 2.
Beberapa hari berselang, pada 8 April 2026, kasus kembali muncul dan menimpa 19 siswa SD Negeri Monggang, di Bantul, yang menerima makanan dari SPPG Srihardono 1.
Dua kejadian tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Bantul mengambil langkah penghentian sementara operasional dua dapur MBG.
Kebijakan itu diambil sambil menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan sumber penyebab keracunan.
Meski seluruh siswa dilaporkan telah pulih, rangkaian kejadian ini memicu evaluasi terhadap sistem distribusi dan pengawasan makanan dalam program MBG di tingkat daerah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jelang HUT ke-81 RI, DPRD Bantul mengajak warga mengibarkan Merah Putih dan menjaga kondisi serta pemasangannya.
Warna paspor ternyata terbagi dalam empat kelompok utama. Simak alasan paspor berwarna merah, biru, hijau, dan hitam.
Rekomendasi 5 HP AMOLED 144Hz dengan layar 6,78 inci mulai Rp2 jutaan, lengkap dengan spesifikasi, baterai, dan harga.
Wisata medis Korea Selatan mencatat 2,01 juta pasien asing sepanjang 2025, naik 71,9 persen dengan China dan Jepang sebagai pasar terbesar.
Suami di Taiwan menang gugatan perselingkuhan setelah merekam istri dengan robot vacuum, tetapi kemudian dihukum lima bulan karena melanggar privasi.
Rekomendasi laptop untuk animasi 2026 dengan RTX, RAM besar, SSD cepat, dan layar akurat untuk motion graphics hingga rendering 3D.