Advertisement

El Nino Mengancam Gunungkidul, Petani Diminta Waspadai Kemarau Panjang

David Kurniawan
Minggu, 29 Maret 2026 - 17:57 WIB
Sunartono
El Nino Mengancam Gunungkidul, Petani Diminta Waspadai Kemarau Panjang Ilustrasi Kekeringan / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan mengeluarkan peringatan dini bagi para petani di wilayah Bumi Handayani terkait datangnya musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi pada April 2026.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun sebelumnya akibat adanya potensi fenomena El Nino.

Advertisement

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menegaskan bahwa kesiapan mental dan teknis para petani sangat krusial guna menghadapi ancaman kekeringan ekstrem ini.

"Ada potensi terjadi El Nino sehingga harus diwaspadai oleh para petani," ujar Rismiyadi saat memberikan keterangan di Wonosari, Minggu (29/3/2026). Sebagai langkah mitigasi, dinas telah melakukan sosialisasi masif agar petani beralih menanam komoditas dengan masa tanam pendek atau varietas yang tahan terhadap kondisi minim air.

Rismiyadi mengimbau para petani untuk tidak memaksakan diri menanam padi apabila ketersediaan pasokan air di lahan tidak mencukupi. Alternatif tanaman pangan seperti jagung, kacang tanah, hingga kedelai dinilai jauh lebih aman untuk meminimalisir risiko kerugian materiil.

“Kalau memang airnya tidak mencukupi, maka jangan memaksa menanam padi. Bisa tanam yang lain seperti jagung, kacang tanah hingga kedelai,” katanya. Langkah preventif ini diambil agar ketahanan pangan daerah tetap terjaga meskipun cuaca tidak mendukung.

Selain pemilihan varietas tanaman, pemerintah daerah juga tengah mengoptimalkan infrastruktur sumber daya air melalui program pompanisasi air sungai dan pembangunan sumur bor di lahan-lahan kritis. Dinas Pertanian juga mendorong para petani untuk mulai mengadopsi teknologi pertanian hemat air, salah satunya adalah sistem irigasi tetes (drip irrigation).

“Sudah ada teknologi seperti irigasi pertanian dengan model tetes sehingga bisa menghemat penggunaan air, tapi tanamannya bisa tetap tumbuh subur,” tambah Rismiyadi.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, turut memberikan penekanan bahwa fenomena El Nino tahun ini merupakan kebalikan dari La Nina atau kemarau basah yang menguntungkan petani tahun lalu. El Nino diprediksi akan menekan produktivitas pertanian secara signifikan jika tidak disikapi dengan perencanaan masa tanam yang matang.

“Kami siapkan penyuluh lapangan untuk terus melakukan pendampingan. Selain itu, juga rutin melaksanakan sekolah iklim guna membantu dalam persiapan masa tanam,” jelas Raharjo.

Guna membentengi sektor pertanian dari dampak El Nino, Pemkab Gunungkidul juga telah menerbitkan surat edaran resmi kepada seluruh kelompok tani. Pendampingan dari penyuluh lapangan akan diperketat, terutama dalam memandu petani membaca anomali cuaca melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI).

Sinergi antara pemanfaatan teknologi, kearifan lokal dalam memilih tanaman, serta bantuan infrastruktur air diharapkan mampu menyelamatkan para petani Gunungkidul dari ancaman gagal panen massal di musim kemarau 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pentagon Rancang Operasi Serangan Darat ke Iran, Tunggu Perintah Trump

Pentagon Rancang Operasi Serangan Darat ke Iran, Tunggu Perintah Trump

News
| Minggu, 29 Maret 2026, 18:47 WIB

Advertisement

Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing

Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing

Wisata
| Sabtu, 28 Maret 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement