Advertisement
Petani Gunungkidul Beralih ke Bawang Merah Seusai Panen Padi
Sejumlah petani di Padukuhan Ploso, Giritirto terlihat sedang menyiapkan lahan untuk menanam bawang merah, Selasa (7/4).Harian Jogja - David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Pola tanam petani di Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari mulai bergeser setelah panen padi. Lahan yang sebelumnya ditanami komoditas pangan kini banyak dialihkan untuk budi daya bawang merah karena dinilai lebih menguntungkan.
Perubahan ini terlihat jelas di Padukuhan Ploso, di mana pada musim tanam kedua petani memilih meninggalkan padi dan beralih ke bawang merah yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Advertisement
Dukuh Ploso, Giritirto, Purwosari, Ari Setiyawan menjelaskan, padi hanya ditanam saat awal musim penghujan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Setelah panen, lahan langsung dimanfaatkan untuk komoditas lain.
“Untuk awal penghujan memang masih menanam padi guna mencukupi kebutuhan pangan. Tapi, setelah itu banyak lahan yang dimanfaatkan menanam bawang merah,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).
BACA JUGA
Menurut Ari, peralihan ini didorong oleh potensi keuntungan yang jauh lebih besar. Dengan modal benih sekitar 1,5 kuintal, petani bisa meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah jika harga pasar sedang tinggi.
“Dengan bibit 1,5 kuintal, keuntungannya bisa tembus Rp70 juta kalau harga sedang bagus. Makanya, para petani lebih memilih menanam bawang merah,” katanya.
Ia menambahkan, tren budi daya bawang merah di wilayah tersebut sudah dimulai sejak 2014. Awalnya belum banyak diminati, namun sejak 2019 jumlah petani yang menanam terus meningkat karena prospeknya yang menjanjikan.
Meski demikian, petani masih menghadapi tantangan fluktuasi harga yang tidak stabil. Mereka berharap ada kepastian harga agar keuntungan tetap terjaga.
Hal senada disampaikan warga Padukuhan Ploso, Suharno yang telah menanam bawang merah selama enam tahun terakhir. Ia mengaku tetap menanam padi di awal musim, tetapi beralih ke bawang merah setelah panen.
“Tetap menanam padi saat awal musim hujan. Setelah panen, langsung saya ganti dengan menanam bawang merah agar mendapatkan untung yang lebih,” katanya.
Dalam satu musim tanam, Suharno mengaku menggunakan benih sekitar satu kuintal dan berpotensi menghasilkan hingga 60 kuintal saat panen.
“Semoga hasil dan harga saat dijual juga bagus,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono membenarkan bahwa Kapanewon Purwosari menjadi salah satu sentra produksi bawang merah di wilayah tersebut.
Menurutnya, selain Purwosari, sejumlah kapanewon lain seperti Wonosari, Semin, Paliyan, Playen, dan Tanjungsari juga dikenal sebagai daerah penghasil komoditas ini.
“Memang ada beberapa wilayah penghasil bawang merah, salah satunya di Kapanewon Purwosari,” kata Raharjo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Koperasi Desa Merah Putih di DIY Belum Optimal, Ini Kendalanya
- Pelajar Bantul Dikenalkan Pertanian, Siapkan SDM Unggul
- Petugas TPR JJLS Gunungkidul Dicopot Usai Viral Tiket Tak Sesuai
- Banjir Kali Belik Jogja Terulang, Sudetan Disiapkan Mulai Tahun Ini
- Api Muncul di Kolong Jembatan Gondolayu, Ini Dugaan Penyebabnya
Advertisement
Advertisement








