Advertisement
Potensi Gempa M 8,7 di Selatan Jawa, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Pusat gempa Bantul, Selasa (27/1/2026) berada di darat. - ist - BMKG
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Kawasan selatan Pulau Jawa, termasuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dikenal sebagai daerah dengan potensi tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Hal ini disebabkan oleh letaknya yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif atau zona subduksi, yang menjadi sumber aktivitas seismik di Indonesia.
Menurut Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Ardhianto Septiadhi, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Namun demikian, potensi kejadian gempa di suatu wilayah dapat dikaji melalui penelitian ilmiah dan teknologi kebumian.
Advertisement
Salah satu hasil kajian yang kerap disalahartikan adalah estimasi magnitudo maksimum gempa, seperti potensi gempa hingga M 8,7 di zona subduksi selatan Jawa. Ia menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah prediksi waktu kejadian, melainkan parameter ilmiah yang digunakan sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana.
Dalam studi kegempaan, dikenal pula konsep recurrence interval atau periode ulang gempa, yaitu perkiraan rata-rata jarak waktu antar kejadian gempa besar pada suatu segmen patahan atau megathrust. Namun, konsep ini bersifat probabilistik dan memiliki rentang waktu yang panjang, sehingga tidak bisa dijadikan acuan pasti kapan gempa akan terjadi.
BACA JUGA
“Pemahaman yang tepat sangat penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan informasi ilmiah sebagai prediksi kejadian,” jelasnya.
Berbagai hasil kajian tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana. Di antaranya melalui penyusunan peta bahaya gempa dan tsunami, penentuan jalur evakuasi, hingga pengembangan sistem peringatan dini yang lebih cepat dan akurat.
Selain itu, hasil riset juga menjadi acuan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur tahan gempa, guna meminimalkan dampak kerusakan apabila bencana terjadi.
Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tingkat literasi kebencanaan masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan diperlukan agar masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa maupun potensi tsunami.
Dengan pemahaman yang utuh, informasi mengenai potensi gempa tidak lagi menimbulkan kepanikan, melainkan menjadi bekal penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan.
Penguatan sistem mitigasi bencana, didukung kajian ilmiah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan mampu menciptakan ketahanan yang lebih baik bagi wilayah DIY dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- Remaja Tenggelam di Parangtritis Ditemukan Meninggal Dunia
- Ribuan Ikan Mati di Sungai Belik Pandes, Tercemar Limbah IPAL
- Disiapkan 12 Hektare, Proyek Kantor Terpadu Pemkab Gunungkidul Lanjut
- Embarkasi Hotel Kulonprogo Siap Dipakai Perdana Besok
- iPhone Tertinggal di Stasiun Tugu, Sempat Dibawa ke Luar Kota
Advertisement
Advertisement







