DPRD Sleman Soroti Pola Asuh Orang Tua untuk Cegah Stunting

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Senin, 26 Oktober 2026 11:57 WIB
DPRD Sleman Soroti Pola Asuh Orang Tua untuk Cegah Stunting

Ilustrasi anak-anak mengukur tinggi badan. - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Pola asuh orang tua menjadi salah satu aspek penting dalam upaya mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang anak. Komisi B DPRD Sleman, Dara Ayu Suharto, menekankan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemenuhan gizi hingga perbaikan sanitasi dan akses pelayanan kesehatan.

Dara mengatakan lima tahun pertama kehidupan merupakan periode penting yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak pada masa mendatang. Karena itu, orang tua perlu memanfaatkan masa tersebut untuk memenuhi kebutuhan gizi sekaligus mendukung perkembangan anak.

“Lima tahun pertama kehidupan anak merupakan masa emas yang menentukan kualitas tumbuh kembangnya pada masa mendatang. Karena itu, periode ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan gizi dan mendukung perkembangan anak,” katanya, Senin (26/10/2026).

Menurut Dara, gangguan pertumbuhan pada masa balita, termasuk stunting, dapat memengaruhi kualitas hidup anak di kemudian hari. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan emosional, kemampuan belajar, serta perilaku sepanjang hidup.

Pola Asuh Bukan Sekadar Pemenuhan Gizi

Dara menjelaskan keluarga menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya. Karena itu, pola asuh yang tepat tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan bergizi, tetapi juga perlu disertai perhatian, kasih sayang, stimulasi, dan pendampingan sesuai kebutuhan anak.

“Pola asuh harus menjadi perhatian orang tua. Anak membutuhkan lingkungan yang sehat, aman, dan penuh kasih sayang agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,” ujarnya.

Dia juga menyoroti perubahan pola kerja yang membuat sebagian orang tua memiliki waktu terbatas untuk mendampingi anak. Dalam kondisi tersebut, pengasuhan terkadang diserahkan kepada pengasuh atau tempat penitipan anak.

Meski demikian, kualitas pengasuhan tetap perlu menjadi perhatian agar kebutuhan anak dapat terpenuhi. Pendampingan yang sesuai dibutuhkan untuk menunjang perkembangan anak selama masa pertumbuhan.

Ekonomi Keluarga dan Sanitasi Turut Berpengaruh

Selain pola asuh, pencegahan stunting berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga. Pendapatan yang rendah dan kenaikan harga pangan dapat membatasi kemampuan keluarga dalam mengakses makanan bergizi.

Faktor lainnya meliputi pemberian ASI eksklusif, pengetahuan orang tua mengenai gizi, kondisi sanitasi, ketersediaan air bersih, serta akses terhadap pelayanan kesehatan. Berbagai aspek tersebut perlu diperhatikan secara bersamaan dalam penanganan stunting.

“Penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada pemenuhan makanan. Perlu pendekatan lintas sektor agar berbagai faktor penyebabnya dapat ditangani secara menyeluruh,” katanya.

Oleh karena itu, edukasi kepada orang tua, peningkatan akses terhadap pangan bergizi, perbaikan sanitasi, dan penguatan pelayanan kesehatan perlu berjalan beriringan. Sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, dan keluarga diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan stunting sejak dini.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online