Prof Uceng Singgung Sumpah Pemuda dan Serukan Revolusi di Jogja

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Rabu, 28 Oktober 2026 21:57 WIB
Prof Uceng Singgung Sumpah Pemuda dan Serukan Revolusi di Jogja

Aksi unjuk rasa di Titik Nol Kilometer Jogja, Rabu (28/10/2026) sore. - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Prof Uceng, mengajak massa aksi mengacungkan tiga jari sambil meneriakkan kata “revolusi” saat berorasi di Titik Nol Kilometer Jogja, Rabu (28/10/2026) sore. Dalam orasinya, ia menyerukan persatuan lintas kelompok dan mengajak anak muda membangun sumpahnya sendiri untuk mendorong perubahan.

Uceng mengaitkan seruannya dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda. Menurutnya, peringatan tersebut tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah, tetapi perlu diwujudkan melalui keberanian generasi muda menyuarakan keresahan terhadap berbagai persoalan.

“Tidak ada gunanya kita berbicara untuk mengatakan kehebatan Sumpah Pemuda kalau anak muda sekarang tidak membangun sumpahnya sendiri,” ujarnya di sela unjuk rasa.

Ia juga mengkritik kondisi ketika semangat persatuan berhadapan dengan pembungkaman terhadap masyarakat yang menyampaikan kritik. Menurutnya, persatuan tidak akan bermakna jika kebebasan menyampaikan pendapat dibatasi.

Prof Uceng Serukan Revolusi dan Ajak Massa Acungkan Tiga Jari

Dalam orasinya, Uceng kemudian mengajak massa meneriakkan kata “revolusi” berulang kali sambil mengacungkan tiga jari sebagai simbol perlawanan. Seruan tersebut disambut sorakan ratusan peserta aksi yang berkumpul di kawasan Titik Nol Kilometer Jogja.

Uceng menegaskan anak muda harus mengambil peran dalam menentukan masa depan Indonesia, terutama dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Ia menilai masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang saat ini menyuarakan keresahan dan tuntutan perubahan.

“Karena masa depan kita itu milik anak muda. Indonesia apa? Cemas atau emas di 2045 itu bukan milik saya barangkali atau milik kita-kita yang sudah tua. Tapi milik anak muda,” ujarnya.

Menurut Uceng, keresahan generasi muda terhadap berbagai persoalan perlu disuarakan dan disatukan menjadi gerakan bersama. Ia memahami kemarahan anak muda, tetapi menilai energi tersebut perlu diarahkan menjadi dorongan untuk melakukan perubahan.

Singgung Polarisasi Politik dan Penegakan Hukum

Prof Uceng juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam polarisasi politik yang memecah belah. Ia menyinggung istilah “cebong” dan “kampret” yang populer beberapa tahun lalu sebagai gambaran persaingan politik yang mempertajam sekat-sekat di tengah masyarakat.

Sebagai akademisi hukum, Uceng turut menyampaikan keresahannya terhadap praktik penyelenggaraan negara yang dinilainya belum berjalan sesuai prinsip yang diajarkan di ruang kuliah. Hal itu mencakup mekanisme checks and balances, pembentukan peraturan perundang-undangan, hingga penegakan hukum.

“Saya ngajar teori checks and balances, enggak ada yang jalan,” katanya.

Ia berharap aksi demonstrasi dapat semakin besar untuk menunjukkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Uceng juga menegaskan masyarakat memiliki peran dalam mengawasi jalannya kekuasaan.

Aliansi Jogja Memanggil Gelar Aksi di Titik Nol

Aksi di Titik Nol Kilometer Jogja merupakan bagian dari demonstrasi berbagai elemen masyarakat pada Rabu (28/10/2026). Mahasiswa, pengemudi ojek online (ojol), dan suporter sepak bola yang tergabung dalam Aliansi Jogja Memanggil menggelar aksi di depan Kantor Gubernur DIY sebelum melakukan long march menuju Titik Nol.

Dalam demonstrasi tersebut, massa menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejumlah persoalan yang disorot meliputi tuntutan upah layak, dugaan tindakan represif aparat, serta dugaan korupsi Stadion Mandala Krida.

Massa juga mendesak DPR RI menggunakan hak angket untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden. Berbagai tuntutan itu disuarakan dalam aksi yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat di Jogja.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online