Tahukah Anda? Padi Bisa Ditanam di Perkotaan, Warga Tompeyan sudah Membuktikan

Tanaman Padi Belut yang dipamerkan pada Gelar Potensi Pertanian di Lapangan Balaikota Jogja, Kamis (12/4) - JIBI/Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
13 April 2018 13:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

 

Harianjogja.com, JOGJA- Gelar Potensi Pertanian tahun ini menghadirkan beragam potensi unik. Salah satunya, potensi penanaman padi, sayuran dan tanaman pangan lainnya di kawasan perkotaan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto mengatakan metode penanaman dilahan pekarangan mulai dilakukan oleh masyarakat. Salah satunya dengan menanam padi belut yang dilakukan warga Tompeyan Tegalrejo. Warga memanfaatkan lahan pekarangan yang ada di rumah dengan tananam padi. 

"Dengan begini, meskipun luas lahan pertanian di Kota Jogja terbatas, namun kami tetap mampu mengembangkan sektor pertanian," katanya di sela-sela Gelar Potensi Pertanian, Kamis (12/4/2018).

Pengembangan Padi Belut ini, katanya dilakukan oleh Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi Tompeyan. Mereka menanam padi di kontainer plastik sembari memelihara belut. Bahkan kelompok ini mampu memanen dua kali Padi Belut.

Sebenarnya kata Sugeng, tidak hanya di Tompeyan, metode bertani dengan memanfaatkan lahan pekarangan sudah banyak dilakukan oleh kelompok tani di hampir semua kecamatan. Hanya saja, produk tanamannya berbeda-beda. Seperti sayur-sayuran, cabai maupun tanaman hias.

"Istilahnya ini metode budi daya vertikultu. Beberapa produk selada dari kelompok tani ada yang masuk ke pasar swalayan dan digunakan oleh salah satu hotel berbintang," kata Sugeng.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Perkotaan Sidodadi Eka Yulianta mengatakan padi belut yang ditanam warga Tompeyan sudah dua kali panen. Hasilnya pun dinilai bagus. "Kualitas dan kuantitas butir dan kandungan ainya lebih bagus dibandingkan padi di sawah. Padahal kami hanya menggunakan varietas IR 64," katanya.

Menurutnya, tanaman padi yang dihasilkan adalah padi organik karena menggunakan media tanam dari batang pisang yang divermentasikan ditambah kompos daun dan kotoran hewan. Tanaman padi belut yang dibudidayakan warga tidak pernah terserang hama.

Beras yang dihasilkan pun berkualitas baik, bahkan bisa bertahan sekitar dua hari setelah dimasak. "Kami tidak menggunakan pupuk pabrikan dan tidak menggunakan pestisida apapun. Jadi sangat aman," katanya.

Saat ini, di Tompeyan baru terdapat sebanyak 40 kontainer padi belut. Jumlah tersebut akan bertambah menjadi 1.500 kontainer plastik pada Oktober nanti. "Dari setiap kontainer plastik, bisa menghasilkan sekitar 0,6 kilogram gabah dan enam hingga delapan ekor belut," katanya.

Sekretaris Daerah Kota Jogja Titik Sulastri berharap, Gelar Potensi Pertanian tersebut mampu memberikan informasi yang lebih lengkap kepada kelompok tani lainnya terkait perkembangan teknologi pertanian. Sebab penggunaan teknologi dan metode pertanian terbaru dinilai penting untuk menyiasati keterbatasan lahan pertanian namun tetap menghasilkan produk yang optimal.

"Kalau inovasi di bidang pertanian terus dilakukan maka kesejahteraan petani akan semakin meningkat. Yang paling penting ketahanan pangan warga perkotaan tetap terjaga," harapnya.