Alissa Wahid Contohkan Pilkada Jatim yang Tanpa Sentimen Agama

Alissa Wahid memberikan keterangan kepada wartawan disela acara Temu Nasional Penggerak Jaringan Gusdurian 2018 di Asrama Haji DIY, Sinduadi, Mlati, Sleman, Sabtu (11/8/2018). - Harian Jogja/Irwan A. Syambudi
12 Agustus 2018 16:17 WIB Irwan A Syambudi Sleman Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN-Sentimen agama dinilai masih kerap digunakan dalam politik praktis demi meraih kekuasaan. Dalam Pemilu 2019 nanti diharapkan tidak lagi menggunakan sentimen agama untuk meraih kekuasaan sesaat.

Hal itu diungkapkan oleh putri sulung Gus Dur, Alissa Qotrunnada Munawaroh atau Alissa Wahid di sela acara Temu Nasional Penggerak Jaringan Gusdurian 2018 di Asrama Haji DIY, Sinduadi, Mlati, Sleman, Sabtu (11/8/2018) kemarin. Menurut putri presiden keempat ini, sentimen agama harus dihentikan oleh para politisi.

Ia berharap dalam Pemilu 2019 nanti dapat seperti Pilkada Jawa Timur (Jatim) beberapa waktu lalu. “Seperti Pilkada Jatim kemarin tidak bisa pakai politik agama kan. Karena sama-sama dari NU [Nahdlhatul Ulama] dan sama-sama muslim. Semoga ini [Pemilu 2019] menjadi seperti itu juga,” ujarnya.

Masukknya KH Maruf Amin dalam kontestasi Pemilu 2019 sebagai calon wakil presiden (Cawapres) mendampingi calon presiden (Capres) Joko Widodo (Jokowi) diharapkan dapat menghentikan sentimen agama.

“Semoga [dapat menghentikan sentimen agama]. Saya menilai Pak Jokowi mempertimbangkan itu ketika memilih figur KH Maruf Amin yang kita tahu mewakili kekuatan masyarakat muslim moderat. Tapi ya kita tunggu apakah harapan itu benar-benar bisa terwujud,” kata Alissa yang juga merupakan Koordinator Jaringan Gusdurian.

Ad Tokopedia