Pelajar Kritik Layanan Publik lewat Lomba, SMAN 2 Jogja Jadi Pemenangnya

Salah satu peserta unjuk gigi dalam Grand Final Lomba Kreativitas Pelajar Se-DIY bertajuk Seberapa Gereget Kamu Terhadap Layanan Publik DIY? yang digelar oleh ORI DIY di halaman Kantor Harian Jogja, Minggu (11/11/2018). - Harian Jogja/Desi Suryanto
11 November 2018 15:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 30 kelompok pelajar DIY mengikuti Grand Final Lomba Kreativitas Pelajar Se-DIY bertajuk Seberapa Greget Kamu? Terhadap Layanan Publik DIY. Acara yang diinisiasi oleh Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY dan digelar di halaman Kantor Harian Jogja, Minggu (11/11/2018) itu diikuti oleh pelajar dari berbagai SMA/SMK/MA di DIY.

Dalam lomba tersebut Tim Jangan Menyerah dari SMAN 2 Jogja berhasil meraih juara pertama dengan nilai 923,3. Disusul Tim Teenegerz yang juga dari SMAN 2 Jogja menjadi terbaik kedua dengan nilai penjurian 893,3 dan Tim Sableng Squad dari SMAN 1 Bantul menjadi juara ketiga dengan nilai 851,6.

Selain itu, dalam kompetisi tersebut ditetapkan SMKN 1 Bantul sebagai tim yang paling totalitas dalam mengikuti perlombaan. Sedangkan suporter terunik dalam event tersebut diraih oleh MAN 3 Sleman.

Ketua ORI DIY Budhi Masthuri menjelaskan pelajar merupakan segmen strategis untuk diberikan suntikan pemahaman dan penyadaran tentang layanan publik. Pihaknya mengemas sosialisasi tersebut melalui permainan dan kompetisi agar mereka merasa enjoy bisa melekat dalam ingatan.

Dengan begitu saat mereka mengalami dan mengetahui di sekitar mereka adanya layanan publik yang kurang padahal masyarakat berhak mendapatkannya maka bisa melakukan tindakan nyata seperti melapor.

"Apalagi mereka adalah generasi berikutnya yang akan ada di instansi publik strategis, ada di masyarakat, jadi di tokoh masyarakat. Sehingga mereka ketika duduk di instansi tidak asing lagi tentang bagaimana layanan publik lebih baik tersebut," katanya di sela-sela pelaksanaan kegiatan, Minggu.

Budhi menilai remaja milenial saat ini termasuk peka terhadap layanan publik dan memiliki ekspresi tersendiri. Sehingga proses penyadaran harus menggunakan pendekatan yang sejalan dengan keinginan dan pemikiran remaja.

Menurutnya kompetisi semacam ini merupakan pertamakalinya digelar ORI DIY. "Permainan semacam ini kan ada tren musiman, mungkin tahun berikutnya jika ada tren baru di kalangan remaja ya kami akan ikuti dengan cara yang berubah pula mengikuti tren mereka," ujarnya.