Rayakan HUT Desa, Warga Sendangsari Gelar Kirab Budaya

Air dari Sendang Beji yang diambil oleh warga dan perangkat desa secara estafet sebelum dimulainya kirab budaya pada 18 November lalu. - Istimewa
03 Desember 2018 22:20 WIB Rahmat Jiwandono Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Dalam rangka memeringati Hari Jadi Desa yang ke-72, warga Desa Sendangsari menggelar Kirab Budaya pada 18 November lalu. Sebagian besar elemen masyarakat Desa Sendangsari turut andil dalam kirab budaya tersebut. Kepala Desa Sendangsari Muhammad Irwan Susanto mengatakan masyarakat yang terdiri dari 18 dusun, baik dari golongan muda atau tua bersatu dalam kirab budaya tersebut.

Kemeriahan kirab budaya menarik perhatian hingga para penonton yang berada di sepanjang jalan rute dilaksanakannya kirab budaya. "Kirab Budaya dimulai dari Lapangan Sendangsari dan berakhir di Balai Desa Sendangsari," ujar Irwan, Senin (3/12/2018).

Lebih lanjut, dia menyampaikan harapannya agar Desa Sendangsari. Kirab Budaya diawali oleh Kepala Desa Sendangsari yang menunggangi kuda kemudian disusul oleh barisan pamong dan perangkat, serta diikuti oleh bregada yang merupakan wakil dari dari 18 dusun di Desa Sendangsari. “Masing-masing bregada dipimpin langsung oleh kepala masing-masing dusun,” ucap Irwan.

Dalam kirab budaya tersebut, masing masing dusun menyerahkan sedekah bumi berupa gunungan yang disusun sedemikian rupa sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah berupa hasil bumi yang melimpah.

Gunungan berupa hasil bumi juga beragam, menyesuaikan dengan potensi masing-masing dusun. Misalnya Dusun Beji Kulon yang menyajikan ayam ingkung dan telur, serta masih banyak lagi gunungan dari dusun yang lain. Sesampainya di Balai Desa Sendangsari, gunungan diperebutkan oleh warga.

Kirab budaya ini menjadi agenda tradisi yang akan terus dilaksanakan sebagai wujud syukur dan melestarikan budaya leluhur.

Carik Desa Sendangsari Zuchri Saren Satrio mengatakan sebelum kirab dimulai beberapa warga dan perangkat mengambil air dari Sendang Beji dengan menggunakan kendi. Prosesi mengambil air tersebut dinamai Ngarak Toya. “Hal ini karena di sekitar wilayah Sendangsari banyak ditemukan Sendang,” kata dia.