KASUS PORNOGRAFI: Divonis 10 Bulan Penjara, Ini Respons Pihak Siskaeee
Hakim memvonis terdakwa kasus pornografi siskaeee lebih ringan dari tuntutan jaksa.
Ilustrasi./Reuters-Mike Hutchings
Harianjogja.com, SLEMAN--Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman tahun ini menargetkan pemasangan baru sebanyak 1.500 unit. Sampai dengan Juni ini sudah sekitar 600 unit yang terpasang, dimana sebagian besar pelanggan baru itu merupakan kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Direktur Utama PDAM Sleman Dwi Nurwata mengatakan dari target itu, 1.000 diantaranya adalah MBR sedangkan 500 lainnya reguler. "Saat ini sudah 450-an masyarakat berpenghasilan rendah yang terealisasi untuk pemasangan sambungan baru, dan sisanya dikebut sampai bulan September," kata Dwi saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (28/6/2019).
Dwi mengatakan, konsentrasi pencapaian target MBR itu demi mendukung program 100-0-100 yang tengah digalakkan oleh pemerintah.
Sebagaimana diketahui, 100-0-100 merupakan program untuk mewujudkan akses air minum yang terpenuhi 100 persen, menghilangkan kawasan kumuh hingga 0 persen, dan terpenuhinya sanitasi lingkungan dengan baik.
Tahun ini, lanjut Dwi, pihaknya mengusulkan pemasangan sambungan baru bagi 1.100 masyarakat berpenghasilan rendah. Namun setelah disurvei oleh petugas yang berwenang dari pusat, hanya 1.036 nama yang dinyatakan lolos.
"Penentuannya dilakukan oleh Jakarta, kami hanya menyiapkan by name dan by address untuk diajukan. Setelah terpasang pun nantinya akan diverifikasi oleh BPKP untuk mengetahui pemasangan itu tepat sasaran atau tidak," ungkap Dwi.
Dwi menjelaskan, berbeda dengan kategori reguler, calon pelanggan PDAM dari kalangan MBR dikenai biaya pemasangan bertarif jauh lebih rendah yakni Rp300.000 per sambungan sedangkan reguler mencapai Rp1.050.000. Adapun kriteria masyarakat berpenghasilan rendah yakni rumah tangga yang menggunakan listrik dengan daya di bawah atau maksimal 900 VA.
"Harapan kami lewat program MBR ini, semua lapisan masyarakat bisa mengakses kebutuhan air yang layak sehingga meningkatkan derajat kesehatan dan ekonomi," ujarnya.
Anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Sleman, Hempri Suyatna mengatakan jika program MBR dinilainya bagus terkait dengan aksesibilitas masyarakat miskin dalam mengakses air bersih.
"Yang perlu dicermati adalah kriteria MBR agar jangan salah sasaran," kata Hempri, Jumat (28/6/2019).
Oleh karena itu, kata Hempri, pendataan dan akurasi data menjadi penting. Perlu sinergi juga dengan tim koordinasi penanggulangan kemiskinan.
"Buat program tetap mengena dan tidak tumpang tindih," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hakim memvonis terdakwa kasus pornografi siskaeee lebih ringan dari tuntutan jaksa.
Hari Keluarga Internasional 2026 menyoroti dampak ketimpangan sosial terhadap kesejahteraan anak dan kondisi keluarga.
Enam wakil Indonesia gugur di Thailand Open 2026. Leo/Daniel dan Hira/Jani jadi harapan terakhir menuju semifina
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa