Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ketua Koperasi Tri Dharma, Mudjiyo (dua dari kiri) didampingi LKBH Pandawa mendatangi Kantor Wali Kota Jogja untuk audiensi, Senin (22/7/2019)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana penataan letak lapak-lapak pedagang kaki lima (PKL) di sisi barat Malioboro secara ungkur-ungkuran (saling membelakangi) diprotes para pedagang yang tergabung dalam Koperasi Tri Dharma Jogja.
Ketua Koperasi Tri Dharma, Mudjiyo, mengaku khawatir jika kebijakan tersebut diterapkan maka ruang yang dimiliki PKL semakin sempit. "Kami juga akan kesulitan dalam menata dagangan, kalau ada yang beli, nanti kami melayaninya susah," ujarnya kepada wartawan, Senin (22/7/2019).
Mudjiyo menjelaskan saat ini setiap pedagang anggota Koperasi Tri Dharma telah mengantongi izin dari Wali Kota Jogja terkait dengan penggunaan lapak seluas 1,5 x 1,5 meter. Dengan sistem saling membelakangi, pedagang diakui dia tak lagi mendapat ruang seluas itu lantaran terpotong trotoar pejalan kaki.
Bahkan sebelum penataan, banyak pedagang sudah kehilangan sebagian ruang lapaknya akibat digunakan sebagai penambahan akses masuk toko. Mudjiyo menyebutkan beberapa pedagang hanya memiliki dua tegel atau 30 sentimeter.
Dalam konsep penataan tersebut, imbuh dia, pedagang anggota Koperasi Tri Dharma akan ditempatkan di depan menghadap jalan, sementara pedagang lain di belakangnya. Ia khawatir jika ruang yang semula ditempati pedagang jadi kosong justru diisi pedagang baru lagi. "Apa pemerintah bisa menjamin tidak ada pedagang yang baru lagi?" ujar dia.
Mudjiyo menjelaskan anggota Koperasi Tri Dharma saat ini berjumlah sekitar 920 pedagang yang terbagi ke dalam 27 kelompok dan tersebar di sepanjang Malioboro. Mereka kebanyakan telah berdagang secara turun temurun. “Kebijakan ungkur-ungkuran ini memang masih hal baru dan belum pernah diujicobakan,” ucap dia.
Wali Kota Jogja, Haryadi suyuti, mengaku bakal menjamin tidak akan ada pengurangan jumlah pedagang. "Kami hanya menata, bukan menggusur. Dengan harapan Malioboro tambah rapi, tambah banyak pengunjungnya menikmati Malioboro," kata dia.
Dia pun mengaku sudah lama menyosialisasikan soal penataan itu kepada para pedagang. Soal ruang pedagang yang semakin sempit, menurutnya wajar. Pasalnya Malioboro memang sudah sempit, jadi tidak mungkin diperlebar. "Kami mengurangi volume gerobak. Kalau lebih kecil lebih rapi kan pengunjung jadi nyaman," kata Wali Kota.
Dia menilai jika pedagang menolak dengan alasan semakin sepi, itu terlalu dini karena justru dengan kebijakan ini Pemkot berharap Malioboro semakin ramai. Ia mengungkapkan penataan ini telah disiapkan dengan matang dan akan diterapkan secepatnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Kasus korupsi Unsoed mengungkap celah jalur mandiri PTN. KPK menetapkan enam tersangka dan pengawasan perguruan tinggi didorong diperkuat.
Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri membongkar peredaran permen yang mengandung narkotika golongan I jenis delta-9-tetrahydrocann
UNICEF mencatat 3,7 juta anak Afghanistan mengalami malnutrisi akut, termasuk sekitar 1 juta anak dengan gizi buruk berat.
Eugene Panji meninggal dunia di usia 52 tahun. PB PARFI mengenang sutradara berbakat itu lewat karya film, video musik, dan kiprah sosialnya.
Harga pangan 26 Agustus 2026, cabai rawit merah Rp64.100 per kg dan telur ayam Rp28.800 berdasarkan data PIHPS Nasional.