Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Warga Dusun Plumbungan, Putat, Patuk menggelar rasulan atau bersih desa di balai dusun setempat. Momen ini dijadikan sebagai sarana bersama berbagi masyarakat untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Senin (10/8/2020)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Plumbungan, Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, Gunungkidul menggelar tradisi rasulan atau bersih desa, Senin (10/8/2020). Di tengah pandemi Covid-19, penyelenggara tradisi ini tetap mengacu pada protokol kesehatan pencegahan penyebaran virus Corona.
Kepala Dusun Plumbungan, Sulistyo, mengatakan bersih desa berjalan lancar dari awal sampai akhir acara. Kegiatan ini merupakan bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia yang diberikan dan juga sebagai pengharapan agar kehidupan mendatang bisa lebih lagi, terutama menyangkut masalah hasil pertanian.
“Ini sebagai bentuk syukur kepala Allah SWT. Lewat kegiatan rasulan, kami juga meminta berkah atas hasil pertanian yang lebih baik lagi,” kata Sulis kepada wartawan, Senin.
BACA JUGA: Dilaporkan Terkait Konten Covid-19, Anji Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya
Menurut dia, penyelenggaraan sekarang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena pandemi. Biasanya, kata Sulis, di setiap rasulan ada kirab budaya lengkap dengan gunungan hasil bumi. Namun, tahun ini prosesi itu ditiadakan dan rasulan hanya diisi pembagian nasi kenduri yang berasal dari warga dusun.
“Nasi beserta ingkung ayam berasal dari masyarakat. Setelah acara kenduri selesai langsung dibagikan kembali. Ini dikarenakan sebagai bagian dari berbagi bersama antar masyarakat,” ungkapnya.
BACA JUGA: Midodareni di Solo Diserang Massa Atas Nama Agama, Ini Pernyataan Gusdurian
Dia pun memastikan penyelenggaran rasulan menerapkan protokol kesehatan. Setia warga yang datang ke balai dusun diminta untuk cuci tangan dan wajib menggunakan masker. Selain itu, warga juga dicek suhu badannya sebelum ke acara kenduri. “Kami tetap menaati imbauan pemerintah untuk disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan,” katanya.
Salah seorang warga Plumbungan, Ranto Wiyatno, mengaku senang karena rasulan yang digelar setiap tahun bisa tetap terlaksana.
Menurut dia, penyelenggaraan ini merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama. Ranto pun hanya bisa berharap agar pandemi bisa segera berlalu sehingga kehidupan di masyarakat bisa kembali normal seperti semula. “Mudah-mudahan wabah bisa berakhir dan kehidupan bisa normal lagi. Adanya Corona sangat berdampak di masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.