Kekeringan Gunungkidul Meluas, 16 Kapanewon Sudah Terima Air Bersih
Krisis air bersih di Gunungkidul meluas. BPBD mencatat 16 kapanewon terdampak dan lebih dari 700 tangki air telah disalurkan.
Seseorang pengujung sedang memotret di depan pintu masuk kawasan Hutan Wonosadi di Kalurahan Kampung, Ngawen. /Harian Jogja-David Kurniawan.
Harianjogja.com, NGAWEN–Masyarakat di sekitar Hutan Wonosadi di Kalurahan Beji, Ngawen, Gunungkidul terus berupaya menjaga kelestarian di kawasan hutan. Bentuk komitmen tersebut dapaat dilihat adanya kebijakan menembang atau mengambil kayu atau pepohonan dari hutan seluas sekitar 25 hektare ini.
Tokoh masyarakat di kawasan Hutan Wonosadi, Sariyo mengatakan, masyarakat masih memegang teguh kearifan lokal yang berlangsung secara turun temurun untuk menjaga kelestarian hutan. Komitmen ini selain sebagai menjaga kawasan hutan tidak rusak, juga sebagai upaya menjaga cadangan air bagi masyarakat sekitar.
BACA JUGA : Puluhan Hektare Lahan Rusak, Ratusan Monyet di Hutan
“Hutan juga sebagai penyimpan cadangan air. Jadi harus terus dilestarikan, kami bersyukur masyarakat masih memegang teguh komitmen ini,” katanya Kamis (10/9/2020).
Menurut dia, hingga sekarang kawasan Hutan Wonosadi masih tetap lestari. Warga pun tidak ada berani yang menebang atau mengambil kayu dari dalam hutan. Sariyo menuturkan, ada keperecanaay bahwa kayu dari Wonosadi tidak akan tahan lama saat dipergunakan, salah satunya membangun rumah.
“Pohon-pohonnya dibiarkan menjulang. Kalau ada yang roboh juga dibiarkan dan tidak ada yang mau mengambil, karena kepercayaan yang telah berlangsung secara turun temurun ini,” katanya.
Untuk koleksi, Sariyo mengakui banyak jenis pohon yang masuk kategori langka. Adapun usia juga sudah mencapai ratusan tahun. Ia mencotonhkan, salah satu tanaman di hutan ini adalah rotan.
BACA JUGA : Perkuat Pariwisata di Era Baru, Gunungkidul Gelar Program
Menurut dia, dari sisi manfaat rotan memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena saat disulap menjadi barang kerajinan memiliki harga yang mahal. Hanya saja, warga tidak memanfaatkan tanaman tersebut dan dibiarkan tumbuh secara liar.
“Banyak rotannya dengan panjang 30 meter lebih dibiarkan bergelantungan dan menjadi koleksi di Hutan Wonosadi,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh, Sunardi, salah seorang warga di Kalurahan Kampung. Menurut dia, warga terus menjaga kelestarian hutan agar bisa dinikmati oleh anak cucu mendatang.
BACA JUGA : Pelajaran Berharga dari Wonosadi
“Dengan tetap menjaga kelestarian, warga bisa merasakan manfaatnya karena berfungsi sebagai penyimpan cadangan air,” katanya.
Meski demikian, ia mengungkapkan adanya satu masalah, yakni keberadaan monyet ekor panjang yang merusak area tanaman milik warga.
“Serangan monyet ini yang harus diperhatikan karena merugikan petani. Harapannya ada solusi agar serangan tidak semakin meluas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Krisis air bersih di Gunungkidul meluas. BPBD mencatat 16 kapanewon terdampak dan lebih dari 700 tangki air telah disalurkan.
Honor resmi luncurkan Robot Phone dengan gimbal titanium terkecil di industri. Kamera 200 MP bisa bergerak 4 arah, rekam 4K, dan punya 100 ekspresi wajib.
Putri Anne mengaku kembali menjadi murid Yesus saat menjawab pertanyaan netizen soal hijab. Ia juga buka suara mengenai pandangannya terhadap pernikahan setelah
Petenis Indonesia Janice Tjen masuk unggulan ke-32 Cincinnati Open 2026. Status ini membuatnya langsung lolos ke babak kedua. Simak jadwal dan daftar pesaingnya
Cristiano Ronaldo kembali ke Al Nassr usai menikahi Georgina Rodriguez. Rambut emas barunya jadi sorotan, sementara target 1.000 gol menantinya di musim 2026/20
Masyarakat bisa mengajukan pembaruan data DTSEN melalui aplikasi Cek Bansos atau kelurahan. Simak cara, syarat, dan alasan desil tidak langsung berubah.