18 Gerai KDMP Gunungkidul Lolos Verifikasi, 12 Lainnya Ditarget Rampung November
Sebanyak 18 dari 30 gerai KDMP di Gunungkidul telah selesai diverifikasi. Seluruh gerai belum beroperasi dan 12 lainnya ditargetkan diperiksa awal November.
Bayi lobster./HarianJogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sedikitnya tujuh investor berminat untuk melakukan aktivitas penangkapan benur atau benih lobster di perairan Gunungkidul. Hal ini terlihat dengan adanya komunikasi antara investor dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul.
Ketua HNSI Gunungkidul, Rujimanto mengatakan, tujuh investor yang menjalin komunikasi berasal dari Banten, Jawa Barat, Jawa Timur hingga Sulawesi. Komunikasi dilakukan untuk membantu dalam upaya penangkapan benur di perairan Gunungkidul.
Meski demikian, lanjut dia, pihaknya belum bisa memberikan kepastian karena secara persyaratan para investor belum melengkapi syarat-syarat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pasalnya pada saat komunikasi belum ada komitmen untuk mendirikan lokasi budidaya dari hasil penangkapan, padahal di dalam peraturan terbaru investor diwajibkan membangun.
“Kami minta ikuti prosedur. Baru setelah semuanya beres berbicara masalah penangkapan,” kata Rujimanto kepada Harianjogja.com, Rabu (7/10/2020).
Menurut dia, kelompok nelayan tidak bisa menolak secara tegas niatan investor untuk menangkap benur. Hal ini dikarenakan secara aturan diperbolehkan melaksanakan aktivitas tersebut. “Makanya kami dorong ikuti aturan yang ada,” tegasnya.
Ditambahkan Rujimanto, dibandingkan dengan wilayah Bantul ataupun Kulonprogo, perairan di Gunungkidul lebih potensial untuk tempat berkembangbiak lobster. Ini dikarenakan lokasi di perairan banyak terdapat karang-karang sehingga menjadi tempat yang aman untuk lobster bertelur.
Beberapa waktu lalu, sambung dia, sempat ada aktivitas penangkapan benur oleh nelayan dari luar daerah. Meski demikian, aktivitas tersebut sudah dihentikan karena adanya peringatan dari nelayan lokal untuk menghentikan hingga adanya perusahaan yang resmi memiliki izin penangkapan benur.
“Harga benur Rp8.000-10.000 per ekornya. Lumayan tinggi, tapi secara pribadi lebih memilih penangkapan lobster agar ketersediaan benih terjaga. Di sisi lain, kalau benih diekspor, lobster kita tidak laku karena nantinya pengimpor sudah bisa memenuhi kebutuhan di dalam negerinya sendiri karena pembesaran benur-benur yang didatangkan dari Indonesia,” kata nelayan yang beraktivitas di Pantai Ngandong, Kapanewon Tepus ini.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Krisna Berlian saat dihubungi belum bisa memberikan konfirmasi terkait dengan perkembangan rencana penangkapan benur di perairan Gunungkidul. Saat dihubungi, ia berdalih sedang menerima tamu.
Meski demikian, beberapa waktu lalu ia menyatakan, adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.12/2020 tentang Pengelolaan Lobster Kepiting dan Rajungan sudah memberikan dampak terhadap usaha. Hingga saat ini sudah ada investor yang tertarik datang ke Gunungkidul.
“Sudah ada calon investor. Tapi berhubung ranahnya di provinsi, maka diminta ke Dinas Kelautan dan Perikanan DIY,” kata Krisna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 18 dari 30 gerai KDMP di Gunungkidul telah selesai diverifikasi. Seluruh gerai belum beroperasi dan 12 lainnya ditargetkan diperiksa awal November.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 31 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Simak jam keberangkatan dari kedua stasiun.
Jadwal KA Bandara YIA 31 Oktober 2026 tersedia untuk layanan reguler dan Xpress. Simak jam keberangkatan, kedatangan, dan rute kereta.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 31 Oktober 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal lengkap setiap stasiun.
Borneo FC bermodal kemenangan 2-1 atas PSS Sleman jelang menghadapi PSIM Jogja pada pekan kedelapan Super League di Bantul.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 31 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan setiap stasiun dan tarif Rp8.000.