Kawasan Industri Gunungkidul Diperluas Jadi 1.500 Hektare
Kawasan industri Gunungkidul diperluas menjadi sekitar 1.500 hektare untuk menarik investasi dan perusahaan besar serta menyerap tenaga kerja.
Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—BPBD Gunungkidul mencatat sedikitnya 92.578 orang terdampak kekeringan di musim kemarau tahun ini. Jumlah tersebut masih bisa bertambah karena belum semua kapanewon menyerahkan warga yang kekurangan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan dari 18 kapanewon, baru sepuluh kanewon yang memberikan data. “Sudah ada koordinasi, tapi masih ada yang dalam proses pendataan,” kata Edy, Selasa (6/7/2021).
BACA JUGA: Rekor, 52 Warga DIY Meninggal karena Covid-19 dalam Sehari
Sepuluh kapanewon yang telah menyerahkan data kekeringan meliputi Girisubo, Paliyan, Panggang, Patuk, Rongkop, Saptosari, Semin, Wonosari, Tanjungsari dan Tepus. Kapanewon yang belum menyerahkan adalah Gedangsari, Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Playen, Ponjong, Purwosari dan Semanu.
Total hingga sekarang sudah ada 92.578 jiwa yang terdampak kekeringan. Kapanewon Tepus menjadi wilayah terparah karena ada sekitar 28.292 jiwa. Di urutan kedua ada Kapanewon Tanjungsari dengan jumlah warga terdampak sebanyak 20.071 jiwa.
“Pasti akan bertambah. Apalagi saat sekarang belum memasuki puncak musim kemarau,” katanya.
Ia mengungkapkan distribusi air bersih sudah dilakukan sejak pertengahan Juni lalu. Total anggaran yang disedikan besarannya mencapai Rp700 juta. “Sudah kami jadwalkan. Sebgai contoh pekan ini, droping difokuskan ke beberapa kapenewon seperti Girisubo, Semin dan Tanjungsari,” katanya.
Menurut Edy, penyaluran air bersih sangat bergantung dengan permintaan resmi dari masing-masing kalurahan.
BACA JUGA: Covid Indonesia Hari Ini: Positif Bertambah 31.189, Meninggal 728 Orang
Panewu Anom Girisubo, Arif Yahya mengatakan, di wilayahnya masih termasuk kapanewon yang mengalami krisis air pada saat kemarau. Meski demikian seiring dengan adanya instalasi jaringan PDAM yang masuk, jumlah warga terdampak kekeringan berkurang di tahun ini. “Memang belum menyasar ke semua wilayah, tapi setidaknya mengurangi warga terdampak kekeringan,” katanya.
Arif mengungkapkan kapanewon mengalokasikan anggaran secara mandiri untuk bantuan air bersih. Namun demikian, didalam pelaksanaan tetap membutuhkan dukungan dari BPBD Gunungkidul. “Kami sudah koordinasi dan BPBD siap membantu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kawasan industri Gunungkidul diperluas menjadi sekitar 1.500 hektare untuk menarik investasi dan perusahaan besar serta menyerap tenaga kerja.
Cleberson menyebut dukungan suporter menjadi kekuatan PSS Sleman saat menghadapi Dewa United di Banten International Stadium.
Kemenkeu mengungkap perkembangan pengalihan saham PSBI dan pembayaran utang Whoosh yang kini memasuki tahap finalisasi.
MTQ Nasional XXXI 2026 di Jawa Tengah berakhir dengan Jateng meraih peringkat kedua. Taj Yasin mendorong pembinaan Al-Qur’an berkelanjutan.
Aduan sampah di Sleman naik sekitar 40% pada 2026. Pembakaran sampah menjadi salah satu laporan yang paling banyak ditangani Satpol PP.
Pilur serentak Gunungkidul digelar 26 September 2026. Sebanyak 630 personel TNI-Polri disiapkan untuk pengamanan pemilihan.