Serangan Monyet Bikin Resah Petani Tanjungsari Gunungkidul
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Basar salah seorang petani di Kalurahan Bulurejo, Semin sedang memanen singkong yang ditanamnya sejak awal tahun, Sabtu (21/8/2021). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Petani di Gunungkidul mulai panen raya singkong. Dinas Pertanian dan Pangan pun berharap panen di tahun ini bisa menembus 832.000 ton singkong atau ubi kayu.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, hasil pendataan yang dilakukan, di tahun ini ada lahan seluas 44.025 hektare yang ditanami singkong. Adapun penanaman sudah dilakukan sejak awal tahun dan sekarang sudah mulai memasuki panen raya.
Menurut dia, belum ada upaya pengubinan untuk menentukan besaran produktivitas singkong di tahun ini. Meski demikian, menurut Raharjo, produktifitas panen bisa mencapai 17 ton hingga 21 ton per hektarenya.
Baca juga: Hendak Menyalip, Pengendara Motor Tewas Tertabrak di Jalan Godean
“Dengan perhitungan yang ada diperkirakan panennya bisa mencapai 832.000 ton,” katanya, Minggu (21/8/2021).
Raharjo menuturkan, tanaman singkong merupakan komoditas unggulan selain padi. Untuk penanaman hampir merata di seluruh wilayah di Gunungkidul. Meski demikian, banyak petani yang menanam dengan model tumpang sari sehingga ada komoditas singkong ditanam bersama dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, kacang atau lainnya.
“Masa tanamnya lebih lama. Jadi, agar tetap produktif dilakukanlah cara penanaman tumpang sari,” katanya.
Baca juga: 476 Nakes di Kulonprogo Sudah Disuntik Vaksin Moderna
Ia pun optimistis target panen singkong ini bisa terpenuhi dan hasilnya dapat dinikmati para petani. “Sama seperti produksi padi yang surplus. Untuk singkong saya yakin hasilnya juga akan bagus. Untuk panenya akan berlangsung mulai Agustus hingga September,” katanya.
Ia menambahkan, usai panen singkong ini, para petani akan mulai mempersiapkan untuk masa tanam pertama di awal musim hujan. “Siklusnya di Gunungkidul, masa tanam pertama didominasi padi. Sedankang untuk masa tanam kedua dan ketiga, padi tak lagi dominan karena petani banyak yang memilih tanaman lain seperti kacang, jagung, kedelai hingga singkong,” katanya.
Salah seorang petani asal Bulurejo, Kapanewon Semin, Basar mengatakan sudah mulai memanen singkong yang ditanamnya, sejak awal tahun. Menurut dia, masa pemeliharaan singkong sekitar delapan bulan sehingga lahan yang dimiliki tidak hanya ditanami satu jenis tanaman.
“Saya gunakan model tumpang sari. Selain singkong yang ditanam, ada juga tanaman lain seperti kedelai dan kacang,” katanya.
Basar mengakui dengan model tumpang sari, maka petani bisa tetap produksi, sambil menunggu singkong yang ditanam bisa dipanen. “Ya kalau hanya singkong saja, pasti akan rugi karena waktu tanamnya lama,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Tren Manhattan, Brooklyn, Queens, The Bronx, dan Staten Island versi Jogja viral di TikTok. Simak asal-usul lima borough New York dan pemetaannya di DIY.
India resmi mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026 demi hadapi Brasil. Timnas Indonesia kehilangan lawan di Grup A. India terancam denda Rp439 juta dan cari dua laga u
PSG mengalahkan Aston Villa 2-1 dan menjadi klub ketiga dalam sejarah yang menjuarai Piala Super Eropa dua musim beruntun
Rekomendasi 8 HP flagship bekas terbaik 2026 dengan harga turun drastis. Dari Samsung Galaxy S23 Rp6 jutaan hingga iPhone 13 Pro Rp9,5 jutaan. Cek tips membelin
Xavi Hernandez resmi jadi pelatih Timnas Belanda dengan kontrak hingga Piala Dunia 2030. Ia sebut dirinya "anak sepak bola Belanda" dan ingin bawa filosofi meny