Syarat Pendaftaran Sekolah Rakyat Gunungkidul, Dibuka SD hingga SMA
Penjaringan siswa Sekolah Rakyat di Gunungkidul dimulai untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA bagi keluarga kurang mampu.
Ilustrasi monyet/Pixabay
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Lahan pertanian di Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, banyak dirusak kawanan monyet ekor panjang. Berbagai upaya belum membuahkan hasil karena serangan tetap ada hingga sekarang.
Salah satu keluhan berkaitan dengan serangan monyet ekor panjang diutarakan Lurah Kepek, Suhut. Menurut dia, serangan ini sudah terjadi sejak lama dan hingga sekarang belum ada solusi jitu guna menangkal serangan kawanan primata ini.
BACA JUGA: Jelang PPKM Berakhir Hari Ini, Sat Pol PP DIY Temukan Makin Banyak Pelanggaran
“Tidak kenal musim karena baik penghujan maupun kemarau tetap saja ada serangan terhadap lahan-lahan pertanian milik warga,” kata Suhut kepada wartawan, Senin (13/9/2021).
Para petani sudah menunggu lahan pertanian yang digarap. Bahkan, agar monyet takut, petani juga membawa senapan, tapi hasilnya tidak signifikan karena serangan tetap terjadi.
“Memang ditunggui, tetapi kalau ditinggal barang sejam hingga dua jam, lahan langsung dirusak. Tidak hanya tanaman pangan, buah-buahan seperti pisang hingga pepaya ikut dijarah,” katanya.
Suhut mengungkapkan serangan sudah terjadi di seluruh wilayah di enam dusun di Kalurahan Kepek. “Tidak hanya di Kepek, tetapi hampir merata di Kapanewon Saptosari. Kami hanya bisa berharap bantuan dari BKSDA untuk mengendalikan serangan monyet-monyet ini,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan Lurah Planjan, Saptosari, Muryono. Menurut dia, di wilayahnya ada 12 dusun yang terdampak serangan monyet ekor panjang. “Hanya dua dusun yang masih aman. Tapi, di musim kemarau ini, serangan tidak hanya ke lahan pertanian, namun juga sudah meluas dan mulai masuk ke permukiman,” katanya.
BACA JUGA: Sultan HB X Keberatan dengan Banyaknya Bus Wisata: Mau Bikin Jogja Merah Lagi?
Muryono mengungkapkan petani sudah menyanggongi lahan pertanian. Sejak dua tahun lalu juga ada pawang yang bertugas menangkapi kawanan monyet.
Namun, penangkapan oleh pawang belum berdampak signifikan karena serangan hanya mereda sementara waktu. “Setelah beberapa saat serangan kembali muncul. Penangkapan oleh pawang di Planjang terakhir dilakukan di tahun lalu,” katanya.
Muryono mengatakan pawang-pawang tersebut langsung mendatangi ladang-ladang untuk menangkap. “Tidak lewat kalurahan karena mereka langsung datang lalu menangkap dan membawanya pergi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penjaringan siswa Sekolah Rakyat di Gunungkidul dimulai untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA bagi keluarga kurang mampu.
TPR lama Parangtritis dibongkar di Bantul, akses wisata dialihkan sementara dan jalur utama ditata ulang untuk kelancaran lalu lintas.
Apple Shortcuts di iOS bisa digunakan untuk melacak iPhone hilang lewat foto dan lokasi otomatis sebagai lapisan keamanan tambahan.
“Restorasi Gumuk Pasir menjadi salah satu program unggulan dalam penataan kawasan wisata pantai selatan,"
Sarwendah bantah keras fitnah ikut pesugihan di Gunung Kawi. Kuasa hukum sebut itu murni syuting horor dan bidik konten video Pesulap Merah.
Konsep halal tidak cukup dipahami sebatas label pada kemasan produk. Kehalalan harus dibangun dari niat dan kesadaran pelaku usaha.