Ubur-Ubur Menghilang dari Pantai Gunungkidul, Wisatawan Tetap Waspada
Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron memastikan ancaman ubur-ubur menghilang di kawasan pantai, tapi pengunjung diminta waspada potensi laka laut.
Sebuah alat berat digunakan untuk menimbun sampah di kawasan TPAS Wukirsari, Desa Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul, Sabtu (6/6/2020)./Istimewa-Dokumen UPT Kebersihan dan Pertamanan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari di Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari terus bertambah setiap tahun. Untuk mencegah terjadi over kapasitas, selain upaya perluasan area TPAS, masyarakat juga diminta berpartisipasi dengan pengolahan secara mandiri sebelum dibuang.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan dan Pertamanan, DLH Gunungkidul, Heri Kuswantoro mengatakan, di 2021 lalu volume sampah di TPAS mencapai 17.763,5 ton. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan periode sama di tahun sebelumnya yang hanya sebesar 15.844,73.
“Memang ada kenaikan sampah yang dibuang ke TPAS. Ini harus menjadi perhatian berkaitan dengan kapasitas di TPAS Wukirsari,” katanya kepada wartawan, Minggu (9/1/2022).
Dia menjelaskan, sampah yang didominasi dari wilayah umum di masyarakat. sebagai contoh, total dari pembuangan di 2021 sebanyak 17.763,5 ton, yang berasal dari kawasan pantai hanya 599,75 ton. Sedangkan yang berasal dari nonpantai sebanyak 16.961,15 ton.
“Kalau dari sisi pembuangan memang ada kenaikan dan kemungkinan ini juga tidak lepas dari aktivitas di masyarakat yang semakin longgar,” katanya.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Aris Suryanto mengatakan, volume sampah yang terus meningkat di TPAS sangat berbahaya bagi keberlangsungan tempat pembuangan ini. Pasalnya, akan berpengaruh terhadap kapasitas sehingga TPAS terancam segera penuh dalam beberapa tahun. “Ya kalau volumenya terus meningkat, maka over kapasitas di TPAS bisa semakin cepat,” katanya.
Aris mengakui untuk mencegah terjadinya over kapasitas sudah dilakukan beberapa cara. Selain program pembuatan tempat pembuangan di kawasan pesisir, juga ada upaya perluasan di area TPAS.
“Kami bekerja sama dengan Pemda DIY untuk menambah sel-sel baru yang data digunakan menampung sampah lebih banyak lagi sehingga usianya bisa lebih panjang lagi,” katanya.
Selain itu, untuk mengurangi risiko over kapasitas di TPAS, juga dibutuhkan partisipasi dari masyarakat. Aris tidak menampik selama ini semua sampah langsung dibuang tanpa melakukan proses pengolahan secara mandiri.
Oleh karenanya, pengolahan di tingkat keluarga dengan cara memilah, mengurangi serta mendaur ulang sangat penting sehingga sampah yang dibuang ke TPAS merupakan barang-barang yang benar-benar sisa dan tidak dapat dipergunakan lagi. “Prinsip 3R [reduce/mengurangi, reuse/menggunakan ulang, recycle/mendaur ulang) harus terus digalakkan agar yang dibuang ke TPAS merupakan residu dan bukan semua dibuang secara langsung,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron memastikan ancaman ubur-ubur menghilang di kawasan pantai, tapi pengunjung diminta waspada potensi laka laut.
Utang luar negeri Indonesia mencapai Rp8.211,8 triliun per Juli 2026, naik 4,9% YoY. ULN publik naik, sedangkan swasta terkontraksi.
Kelok 23 Bantul-Gunungkidul diperpanjang demi mengurangi risiko tebing runtuh. DPRD DIY juga soroti potensi ekonomi dan pariwisata.
Serah terima jabatan Menkeu berlangsung singkat. Purbaya hanya menyampaikan 57 kata sebelum menyerahkan jabatan kepada Suahasil Nazara.
Pemkot Jogja mengembangkan Bang Kosim untuk memperkuat ekosistem industri kreatif dan mengoptimalkan layanan desain serta manufaktur kreatif.
Operasi SAR pencarian 8 wartawan dan 3 kru kapal di Selat Sunda diperpanjang hingga 17 September 2026 setelah tujuh hari belum membuahkan hasil.