Groundbreaking PSEL Jogja Ditarget Juni 2026
Pemerintah pusat targetkan groundbreaking PSEL di Jogja dan empat wilayah lain Juni 2026. DLHK DIY tunggu pemenang lelang sambah jadi energi listrik untuk atasi
Ilustrasi nelayan di Bantul./Harian Jogja
Harianjogja, BANTUL—Setelah beberapa kali gelombang tinggi dan angin kencang yang menyebabkan sebagian besar nelayan tak melaut, kini nelayan di BAntul justru mendapat hasil yang bagus dari aktivitas melaut dengan metode memancing.
Ketua Koperasi Wisata Minabahari 45, Sutarlan, menjelaskan saat ini sebagian besar nelayan sudah kembali melaut karena kondisi gelombang sudah cukup aman untuk aktivitas nelayan. Tak hanya itu, untuk beberapa jenis ikan yang ditangkap dengan cara dipancing melimpah.
BACA JUGA: Netizen Gemas! Cor-Coran Belum Kering di Malioboro Diinjak-injak Pengunjung
“Sekarang ini sudah kembali normal [kondisi gelombang]. Terus kemaren banyak hasil tangkapan, lebih dari kuintalan kemaren. Ada beberapa kapal yang kemaren mendapat banyak. Ikannya bagus-bagus,” ujarnya, Kamis (4/8/2022).
Adapun jenis ikan yang banyak didapat para nelayan ini seperti kerapu, manyung, kakap dan lainnya. Menurutnya saat ini merupakan bulan yang bagus untuk ikan-ikan jenis itu. Maka kebanyakan nelayan yang sudah kembali melaut adalah nelayan yang memiliki alat pancing.
Nelayan dengan jaring saat ini kebanyakan hanya mencari umpan. “Kalau yang punya pancing pada melaut. Kalau yang ga punya pancing enggak. Ini bulannya bulan untuk mincing, jadi banyak yang kena pancingan. Kalau yang jaring cuma cari umpan saja.
Kondisi gelombang saat ini sudah relatif lebih aman untuk aktivitas melaut. Meski masih besar, anginnya tidak kencang sehingga tidak membahayakan. “Kalau gelombang walau besar tapi angin tidak terlalu kencang jadi bisa untuk melaut kalau pagi,” kata dia.
BACA JUGA: Kementerian Pendidikan Didesak Beri Efek Jera ke Sekolah Pemaksa Siswi Berjilbab
Koordinator SAR Satlinmas Wilayah III Bantul, Muhammad Arief Nugraha, menuturkan saat ini memang kondisi gelombang tidak tinggi dan aman untuk aktivitas nelayan. Namun gelombang tinggi bisa kembali terjadi pada pertengahan bulan kalender Jawa. “Pasti terjadi setiap tengah bulan Jawa,” ungkapnya.
Gelombang tinggi biasanya terjadi setiap tanggal 13-17 kalender Jawa. Pada tanggal itu ia menyarankan nelayan untuk tidak melaut karena bisa berbahaya. “Gelombang tinggi itu yang terjadi pertama kali di paling selatan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemerintah pusat targetkan groundbreaking PSEL di Jogja dan empat wilayah lain Juni 2026. DLHK DIY tunggu pemenang lelang sambah jadi energi listrik untuk atasi
Kemenkeu menyiapkan perluasan basis pajak 2027 dengan menyasar potensi penerimaan dari aset properti yang disewakan.
Kebakaran di kawasan Gunung Bromo meluas ke arah Bukit B29. Petugas mengerahkan dua helikopter water bombing untuk memadamkan api.
Lemak berlebih di perut dapat memicu resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Simak penjelasan dokter dan terapinya.
Road to Alfamart Run 2026 digelar di Plaza Malioboro, Jogja, diikuti lebih dari 300 runner sebagai pemanasan menuju ajang utama di GBK.
Jenang Darmini di Pasar Beringharjo diburu wisatawan. Saat ramai, lebih dari 100 gelas jenang bisa terjual dalam sehari.