Bocah Hilang Terseret Ombak di Bantul, SAR Lanjutkan Pencarian Besok
Anak 8 tahun terseret ombak di Pantai Gua Cemara Bantul. Tim SAR lanjutkan pencarian esok hari.
Tim Grhasia Sadewa RSJ Grhasia DIY usai peluncuran aplikasi Grhasia Sadewa, Selasa (16/8/2022). Aplikasi ini mampu memotong rantai birokrasi penjemputan ODGJ dari lima hari menjadi satu hari saja./Ist
Harianjogja.com, SLEMAN—Untuk memberikan pelayanan terbaik bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), RSJ Grhasia DIY meluncurkan aplikasi Grhasia Sadewa, Selasa (16/8/2022). Aplikasi ini mampu memotong rantai birokrasi penjemputan ODGJ dari lima hari menjadi satu hari saja.
Direktur RSJ Grhasia, Akhmad Akhadi, mengatakan penanganan ODGJ hingga kini masih menghadapi masalah mulai dari stigmatisasi ODGJ, aksesibilitas bagi ODGJ, hingga masalah kapabilitas SDM kesehatan jiwa. Secara nasional prevelansi ODGJ yang belum mendapatkan pengobatan sekitar 16,1% sementara di DIY angkanya menyentuh 22,1%.
"Kondisi ini terjadi akibat adanya stigmatisasi negatif ODGJ di masyarakat. Masih banyak yang beranggapan ODGJ ini memalukan. Dampaknya masih ada ODGJ yang dipasung atau diisolir dari lingkungan," katanya usai kegiatan Soft Launching Aplikasi Layanan Penjemputan ODGJ Ghrasia Sadewa, Selasa (16/8/2022).
Untuk memberikan aksesibilitas yang luas bagi masyarakat, lanjut Akhadi, RSJ Grhasia merilis aplikasi Grhasia Sadewa. Layanan Penjemputan ODGJ ini bisa dilakukan oleh keluarga, petugas Puskesmas atau tokoh masyarakat setempat. "Jadi layanan ini mempermudah permintaan evakuasi ODGJ dari lokasi ke RSJ Ghrasia," katanya.
BACA JUGA: Mulai 22 Agustus, Vaksinasi Booster di Sleman Bisa Diakses di Balai Desa
Layanan Grhasia Sadewa tersebut, lanjut Akhadi, mampu memangkas lamanya birokrasi surat menyurat. Dari sebelum penjemputan ODGJ bisa dilakukan lima hari sejak surat dikirim, dengan aplikasi tersebut hanya membutuhkan waktu satu hari. Dia berharap aplikasi layanan penjemputan ODGJ tersebut mampu membantu masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses layanan kesehatan jiwa.
"Sebelumnya dilakukan simulasi ke Playen Gunungkidul, setelah menerima permintaan dan dilakukan asessmen hanya butuh waktu 8 jam ODGJ sudah tiba di RSJ Grhasia. Kalau di Sleman setidaknya bisa 6 jam," katanya.
Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan RSJ Grhasia, Sudiharja, mengatakan layanan penjemputan ODGJ menggunakan aplikasi Grhasia Sadewa tersebut sudah bisa diakses oleh masyarakat dan akan dievaluasi penggunaannya setelah setahun diluncurkan. "Sebenarnya layanan penjemputan ODGJ sudah lama kami lakukan hanya saja belum ada SOP yang baku dan membutuhkan birokrasi yang lama," katanya.
Dengan memangkas birokrasi dari sebelumnya lima hari menjadi satu hari, penggunaan layanan digital tersebut diharapkan membantu masyarakat yang membutuhkan. Apalagi, katanya, prevalensi ODGJ di wilayah DIY terbilang tinggi bahkan nomor 2 se Indonesia. Prevalensi ODGJ secara Nasional sebesar 7 permil sementara di DIY 10,4 permil.
"Kalau diasumsikan dengan jumlah penduduk di DIY angkanya luar biasa. Bahkan hasil SPK Program Indonesia Sehat yang diadakan Kemenkes kemarin, nyuwunsewu, 44% ODGJ di DIY belum dirawat dan ditelantarkan, menggelandang atau ditaruh di panti-panti," katanya.
BACA JUGA: 6.000 Pekerja Konstruksi Tol Jogja-Bawen Diasuransikan
Agar pemerintah bisa hadir untuk menangani ODGJ, layanan penjemputan ODGJ tersebut diharapkan bisa membuka akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Pasalnya, lanjut Sudi, selain stigmatisasi ODGJ, tidak sedikitAgar pemerintah bisa hadir untuk menangani ODGJ, layanan penjemputan ODGJ tersebut diharapkan bisa membuka akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa.
Pasalnya, lanjut Sudi, selain stigmatisasi ODGJ, tidak sedikit masyarakat yang terkendala masalah biaya sehingga enggan mengantar pasien ke RSJ. "Dengan layanan ini masalah biaya juga bisa tereduksi karena kami bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk penanganan ODGJ," katanya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anak 8 tahun terseret ombak di Pantai Gua Cemara Bantul. Tim SAR lanjutkan pencarian esok hari.
Presiden Federasi Sepak Bola Prancis mengecam komentar Jose Luis Chilavert yang menyebut Timnas Prancis sebagai tim Afrika menjelang Piala Dunia 2026.
Disdikpora Bantul menyiapkan regrouping satu SD negeri di Dlingo yang terus kekurangan murid dan tidak membuka pendaftaran siswa baru pada SPMB 2026.
Osmar Loss dikabarkan lebih dekat ke Dewa United sebagai pelatih baru. Jurnalis Italia bantah rumor Loss ke Persib Bandung. Simak update bursa transfer Liga.
DPRD Bantul mengkritik kesiapan TPR Parangtritis yang dinilai belum layak dan berpotensi memengaruhi PAD serta citra wisata unggulan daerah.
Amerika Serikat menghadapi Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Tuan rumah mengandalkan Pulisic, sementara Belgia mengandalkan De Bruyne dan Lukaku.