TKP Senopati Kini Jadi Pangkalan Andong dan Becak Jogja
TKP Senopati Jogja kini jadi pangkalan andong dan becak untuk atasi kepadatan Malioboro.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA — Jembatan Srandakan III yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kulonprogo bakal dibangun dengan mengolaborasikan konsep tradisional DIY dan penghijauan.
Gubernur DIY Sultan HB X juga memberikan masukan terkait dengan tanaman yang digunakan untuk jembatan tersebut. Selain itu, dia juga mengusulkan terkait dengan penamaan jembatan tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) DIY, Anna Rina Herbranti menyampaikan desain Jembatan Srandakan III telah di-review Kementerian PUPR Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional [PJN] Wilayah DIY-Jateng.
Dia menyampaikan Sri Sultan HB X telah menyetujui desain tersebut. Selanjutnya pembangunan akan dilakukan Kementerian PUPR. “Ini sudah disetujui oleh Ngarsa Dalem desain tersebut sehingga ini nanti dari Kementerian [PUPR] akan memprogramkan untuk pembangunannya,” kata dia di kompleks Kepatihan, Senin (6/2/2023).
Targetnya, kata dia, pembangunan jembatan tersebut selesai pada 2024.
BACA JUGA: Jembatan Srandakan 3 Masuk ke Tahap Perancangan Desain
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY, Beny Suharsono berharap adanya Jembatan Srandakan 3 dapat digunakan dilaksanakan secepatnya. "Jembatan, yang sudah disiapkan tahun ini bisa dimulai pelaksanaannya, karena penganggaran di awal tahun," katanya.
Saat berkunjung ke Kantor Gubernur DIY, Senin (6/2/2023), Wida Nurfaida Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Jateng-DIY menyampaikan Februari 2023 dapat dilakukan proses lelang, dengan desain yang sudah ditetapkan.
Wida menyampaikan desain Jembatan Srandakan III yang ada telah ditetapkan. Dari desain tersebut, arsitekturnya mengedepankan unsur tradisional daerah dan penghijauan.
Wida menyampaikan nantinya kawasan Jembatan Srandakan III akan ditanami sejumlah pohon. Dia menyampaikan dalam pertemuannya dengan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, ada sejumlah masukan dari Sri Sultan HB X terkait dengan tanaman yang akan digunakan untuk Jembatan Srandakan III. “Di tengah [jembatan] tanaman yang tidak terlalu tinggi, seperti cemara udang, tingginya dua atau tiga meter,” kata dia.
Selain itu, Sri Sultan HB X juga memberikan arahan untuk memberikan nama untuk jembatan tersebut menjadi Jembatan Pandansimo. “Tadi kami menyampaikan [paparan desain Jembatan Srandakan III] dan beliau [Sri Sultan HB X] sudah memberikan arahan namanya menjadi Jembatan Pandansimo,” katanya.
Aristek Yori Antar dipercaya untuk merancang tampilan Jembatan Srandakan III. Yori menyampaikan Jembatan Srandakan III akan dirancang dengan tradisional daerah serta penghijauan dengan menggunakan material lokal, termasuk sejumlah pohon yang akan ditanami di sekitar jembatan tersebut.
Nantinya, Yori menyampaikan kesan modern, futuristik, sekaligus berakar dari tradisi setempat berupaya untuk ditampilkan.
“Proyek infrastruktur PUPR itu memang arahannya jangan cuma jadi beton, harus ada wajah baru, khususnya wajah selatan. Ini harus jadi generator ekonomi, dan harus ada ikon dari budaya setempat,” katanya.
Dia menyampaikan pembangunan Jembatan Srandakan III pun tak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik jembatan, namun jembatan tersebut perlu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar. “Ini bukan hanya jembatan atau beton yang menghubungkan, tapi ada value, nilai, landmark,” katanya.
“Program infrastruktur semua enggak harus jadi beton, harus mempunyai nilai tambah, harus jadi destinasi wisata juga, mengangkat ikon lokal, ke-lokalan juga,” imbuhnya.
Nantinya, Jembatan Srandakan III akan menyediakan area bagi pejalan kaki, jogging, dan ruang terbuka hijau. “Bisa lihat Kali Progo dan harus jadi ikon yang men-generate ekonomi dan wajah baru di wilayah selatan,” katanya.
Nantinya Jembatan Srandakan III akan dibangun sepanjang 1,9 kilometer yang membelah Kali Progo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
TKP Senopati Jogja kini jadi pangkalan andong dan becak untuk atasi kepadatan Malioboro.
Polri menegaskan kesiapan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan diresmikan secara serentak oleh Presiden Prabowo Subianto.
Forum Anak Daerah (FAD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sukses menggelar hari pertama dari rangkaian kegiatan "Temu Hati #17" di Ruang Nyi Ageng Serang
Dinkes Sleman ungkap keracunan Toragan akibat Salmonella dari makanan hajatan, seluruh pasien kini telah pulih.
Prabowo resmikan Museum Marsinah di Nganjuk, soroti keadilan sosial dan nilai Pancasila dalam kasus buruh Indonesia.
Gunungkidul perketat pengawasan hewan kurban 2026 dengan 120 petugas dan pemeriksaan SKKH di pasar hewan.