Kekeringan Sleman 2026 Diwaspadai, Pakem Tempel Paling Rawan
BPBD Sleman mewaspadai kekeringan 2026. Pakem, Tempel, dan Minggir menjadi wilayah dengan distribusi air bersih tertinggi empat tahun terakhir.
Ilustrasi terminal Jombor./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA — Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY mendukung kebijakan Provinsi DIY terkait penetapan lokasi transit untuk bus-bus pariwisata. Hanya saja, GIPI menegaskan agar sistem penataan bus mulai dari lokasi transit, shuttle, hingga sirkulasi ke wilayah perkotaan harus jelas.
Ketua GIPI DIY, Bobby Ardyanto Setyo Aji mengatakan bahwa dengan sistem penataan bus mulai dari lokasi transit, shuttle, hingga sirkulasi yang jelas, maka tidak akan timbul kekecauan.
“Selagi hal tersebut dipersiapkan dengan baik, seperti titik berhenti di Giwangan, Adisucipto, atau Jombor, bahkan jika ada moda transportasi seperti shuttle untuk menuju wilayah perkotaan, maka akan kami dukung,” kata Bobby, Senin (6/3/2023).
Bobby kembali menegaskan bahwa persiapan dan sosialisasi menjadi kunci utama untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di wilayah perkotaan.
BACA JUGA: Cegah Kemacetan di Tengah Kota, Bus Wisata Bakal Diwajibkan Parkir di 3 Titik Ini
Dia berharap jangan sampai sistem penataan yang digunakan untuk mengatasi kepadatan lalu lintas tersebut justru berbanding terbalik dengan harapan hanya karena persiapan dan sosialisasi tidak matang.
“Sudah seharusnya jika ada perubahan-perubahan di Jogja, maka harus ada sosialisasi agar tidak menjadi keluhan wisatawan karena ketidakjelasan. Kami pasti mendukung jika memang penataan tersebut digunakan untuk manjemen traffic di Jogja,” katanya.
Sekali lagi katanya, poin sosialisasi yang jelas dan sistem yang dapat memberikan standar kenyamanan bagi wisatawan menjadi hal yang harus dititikberatkan.
“Pokoknya jangan sampai perubahan-perubahan itu tidak tersosialisasikan dengan baik. Karena kalau begitu nanti akan ada keluhan dari wisatawan. Dengan begitu akan menjadi peluang bagi oknum-oknum tertentu untuk mengambil keuntungan sepihak. Jangan sampai situasi ini dimanfaatkan oleh mereka yang tidak bertanggung jawab,” ucapnya.
Menanggapi shuttle yang kemungkinan akan diadakan, Bobby menegaskan bahwa shuttle apapun harus representatif dalam arti nyaman bagi wisawatan. Lalu, jalur shuttle harus jelas, sehingga dapat menjahit semua titik yang menjadi tujuan wisatawan.
“Jangan sampai shuttle ini keluar dari jalur yang sudah ditetapkan. Nah, karena itu penting untuk monitoring dan evaluasi [monev],” lanjutnya. Bobby menegaskan bahwa cukup banyak wisatawan yang menggunakan bus pariwisata datang ke Jogja.
“Terutama di Senopati dan jalan-jalan sepanjang Sultan Agung. Itu yang cukup crowded menuju titik parkir,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan bahwa kebijakan penetapan lokasi transit bus pariwisata yang berada di luar kota Jogja akan berdampak pada konsumen hotel.
“Kami belum tahu [kebijakan tersebut]. Tetapi yang jelas wacana tersebut akan berdampak bagi hotel-hotel dan resto yang ada di kota Jogja. Mereka akan memilih hotel-hotel yang berbatasan dengan kota Jogja,” kata Deddy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Sleman mewaspadai kekeringan 2026. Pakem, Tempel, dan Minggir menjadi wilayah dengan distribusi air bersih tertinggi empat tahun terakhir.
Argentina dan Swiss melengkapi 8 besar Piala Dunia 2026. Simak jadwal perempat final dan link nonton resmi di sini.
Tol Prambanan–Purwomartani disiapkan untuk mudik Lebaran 2027. Flyover exit Purwomartani akan difungsikan dua arah.
Danantara gandeng Tony Blair Institute percepat transformasi BUMN, dorong investasi global, hilirisasi, dan daya saing Indonesia.
India bantu konservasi Candi Prambanan. Dispar DIY optimistis kolaborasi ini perkuat pelestarian dan daya tarik wisata Jogja.
Bapanas gelar 5.597 Gerakan Pangan Murah sepanjang 2026. Inflasi pangan turun ke 5,58% pada Juni, harga makin terkendali.