Krisis Air Bersih Mengancam, Gunungkidul Petakan Sumber Air Baru
BPBD Gunungkidul memetakan sumber air baru di daerah kekeringan sebagai solusi jangka panjang bagi warga yang terdampak musim kemarau.
Sapi - Ilustrasi freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus kematian sapi secara mendadak di Gunungkidul kembali terjadi. Kali ini ditemukan di Dusun Ngasemrejo, Ngawu, Playen, Gunungkidul.
Kapolsek Playen, AKP Sigit Teja Sukmana mengatakan, sapi yang mati mendadak dimiliki oleh Cipto Wiyono. Sebelum mati, pemilik sempat memberikan minuman konsentrat polar dengan campuran air kedelai.
Saat itu, kondisi sapi sudah lemah dengan gejala perut kembung. Pada Rabu malam akhirnya mati untuk kemudian dikebumikan. “Untuk mengurangi risiko penularan antraks di lokasi penguburan juga disiram formalin oleh petugas kesehatan hewan,” katanya.
Dia berharap kepada masyarakat untuk tidak panik serta saat menemukan hewan ternak mati mendadak langsung dikubur. “Tujuannya untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit,” katanya.
Kepala Dusun Ngasemrejo, Sugeng Riyadi membenarkan adanya sapi mati secara mendadak di wilayahnya. Ia tidak menampik sapi tersebut sempat disembelih dengan dalih untuk mengempeskan perut yang kembung.
“Tujuannya memang untuk mengempeskan perut dan tidak ada upaya mengkonsumsinya,” katanya.
Menurut dia, sapi itu langsung dikuburkan serta diambil sampel untuk mengetahui pasti penyebab kematian. Namun, hingga Kamis (13/7/2023) sore, Sugeng mengakui belum mendapatkan hasil tes tersebut.
“Kami menduga kematian terjadi karena keracunan makanan. Tapi, untuk kepastian masih menunggu hasil pengetesan,” katanya.
Terpisah, Kepala Disnak Kabupaten Gunungkidul Wibawanti membenarkan sapi milik warga Ngasemrejo, Ngawu, Playen mati mendadak. Namun demikian pihaknya belum memastikan apakah terpapar antraks.
Hingga sekarang pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium guna memastikan penyebab kematian. Ia berharap kasus penyebaran antraks bisa dikendalikan.
Oleh karenanya, Wibawanti meminta masyarakat untuk tidak menyembelih hewan ternak yang mati secara mendadak. Langkah ini sebagai upaya mengurangi risiko penyebaran bakteri yang menjadi sumber penyakit.b“Kalau disembelih maka bisa menyebar. Jadi, lebih baik langsung dikubur guna mengurangi risiko penularan,” katanya.
Menurut dia, upaya pencegahan terus dilakukan. Selain memberikan sosialisasi ke masyarakat, juga dilakukan pemberian suntikan anti biotic dan vaksinasi kepada hewan ternak di seputaran temuan kasus.
“Untuk detailnya masih kami himpun. Tapi, upaya penyuntikan untuk pencegahan ke hewan ternak terus dilakukan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul memetakan sumber air baru di daerah kekeringan sebagai solusi jangka panjang bagi warga yang terdampak musim kemarau.
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 28 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Cek 12 jadwal perjalanan dan tarif tetap Rp8.000.
Kemkomdigi meminta publik melihat utuh pernyataan Presiden Prabowo soal "londo ireng" dan menegaskan tidak ditujukan kepada profesi atau kelompok tertentu.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 28 Juli 2026 tersedia dengan 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur.
Megawati Soekarnoputri meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli di Kantor DPP PDIP dan mengajak generasi muda tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa.
Polres Bantul menyita 307 botol miras berbagai merek dari 14 lokasi dalam operasi KRYD untuk menekan peredaran minuman keras ilegal.