Kalurahan Plembutan Gunungkidul Kembangkan Mitigasi Banjir, Dilirik ASEAN
Kalurahan Plembutan, Gunungkidul, mengembangkan mitigasi banjir berbasis peringatan dini setelah banjir 2017 dan 2025. Program ini menarik perhatian ASEAN.
Salah seorang petani di Kalurahan Rejosari, Semin memanfaatkan lahan di depan rumah untuk ditanami kacang dan ubi kayu. Foto diambil Kamis (16/11/2023) David Kurniawan/Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Hujan yang mulai mengguyur di wilayah Gunungkidul dimanfaatkan petani untuk awal masa bercocok tanam. Ditargetkan hingga akhir November sudah ada 33.000 hektare lahan yang ditanami.
Salah seorang petani di Kalurahan Rejosari, Semin, Giyanto mengatakan, wilayahnya sudah mulai hujan. Hal ini pun disambut baik karena pertanda musim tanam sudah tiba.
Ia mengakui persiapan musim tanam sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Adapun prosesnya dengan cara membersihkan area lahan, dilanjutkan mengolah hingga menaburi dengan pupuk kandang. “Sudah ada hujan dan bisa untuk ditanami,” kata Giyanto, Jumat (17/11/2023).
BACA JUGA: Polemik Program Nyamuk Wolbachia, Begini Penjelasan Lengkap Peneliti UGM
Dia menjelaskan, untuk komoditas di awal musim hujan dipilih menanam padi ketan yang dikobinasikan dengan ubi kayu. Giyanto berharap penanaman di awal musim penghujan bisa berjalan lancar sehingga panennya juga dapat dimaksimalkan. “Mudah-mudahan tidak ada masalah dan panenya bagus,” katanya.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, berdasarkan koordinasi dengan BMKG diperkirakan musim hujan di Gunungkidul mulai dasarian kedua November. Namun demikian, di awal-awal curahnya baru sekitar 70-100 milimeter. “Untuk Desember diperkirakan curahnya sudah mencapai 300 milimeter,” kata Raharjo.
Meski saat ini intensitasnya masih rendah, namun ia mengklami sudah bisa untuk memulai masa tanam. Hasil pemantauan di lapangan, proses penaman sudah terlihat di zona selatan seperti di Kapanewon Girisubo, Rongkop, Tanjungasari, Tepus dan Saptosari. “Caranya dengan ngawu-awu, benih padi mulai ditebar di area lahan,” katanya.
Hingga sekarang sudah ada lahan sekitar 8.000 hektare yang ditanami. Ditargetkan pada akhir November 33.000 hektare lahan di Gunungkidul sudah ditanami.
Untuk komoditas, ia tidak menampik di awal penghujan didomonasi jenis padi. Namun demikian, ada juga lahan yang ditanami komoditas pangan lain seperti jagung, kacang tanah, ubi kayu dan lain sebagainya. “Mudah-mudahan dapat lancar dan panennya juga bisa dimaksimalkan,” katanya.
Menurut Raharjo, untuk meningkatkan produktivitas pertanian, rutin memberikan bantuan alat pertanian modern seperti traktor dan lain sebagainya. Di sisi lain juga ada bantuan benih unggul kepada para petani. “Bantuan benih padi sudah disalurkan sehingga sekarang bisa ditanam di awal penghujan ini,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kalurahan Plembutan, Gunungkidul, mengembangkan mitigasi banjir berbasis peringatan dini setelah banjir 2017 dan 2025. Program ini menarik perhatian ASEAN.
Prakiraan cuaca DIY Kamis, 29 Oktober 2026, meliputi hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah. Simak suhu dan kelembapannya.
Cek jadwal DAMRI dari Bandara YIA ke Jogja dan Sleman, Kamis 29 Oktober 2026. Tersedia lima tujuan dengan tarif normal Rp80.000.
SIM Keliling Jogja Kamis 29 Oktober 2026 melayani malam hari di Alun-Alun Kidul. Simak jadwal, lokasi, jam layanan, dan syarat perpanjangan SIM.
Cek jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Kamis, 29 Oktober 2026. Tarif Rp12.000 sekali jalan, tersedia enam jadwal pergi dan pulang.
Cek jadwal KSPN dari Malioboro ke Obelix Sea View dan Pantai Drini pada 29 Oktober 2026, lengkap dengan tarif dan jadwal pulang.