BPD DIY Juara Frontliner Championship 2026, Bidik Dominasi Tahun Depan
BPD DIY meraih tiga prestasi di Frontliner Championship BPDSI 2026. Capaian ini menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas layanan nasabah.
Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY, Yuna Pancawati sedang menjelaskan situasi stok dan harga bahan pokok (bapok) di Pasar Wates, Rabu (6/12/2023)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kulonprogo memprediksi kenaikan bahan pokok (bapok) menjelang perayaan Natal dan libur akhir tahun tidak akan ekstrem.
Kepala Disdagin Kulonprogo, Sudarna mengatakan kenaikan harga terjadi akibat dinamika pasar dan Pemkab memiliki tugas menyediakan stok bapok.
Apabila permintaan naik, kata dia, maka harga ikut naik. “Kalau saya melihatnya pasti naik. Tetapi tidak akan ekstrem. Kami masih melihatnya dengan pergerakan harga di mana kalau membandingkan dengan tahun lalu masih sama,” kata Sudarna, Rabu (6/12/2023).
Sampai saat ini, Disdagin menggandeng pihak ketiga telah menggelar beberapa kali pasar murah di sejumlah daerah di Kulonprogo guna menstabilkan harga pasar. Selain itu, hari ini, Disdagin juga menggelar pengawasan bersama Tim Pemantau Inflasi Daerah (TPID) DIY di Pasar Wates dan produsen beras.
“Kami lakukan pemantauan karena untuk memastikan stok dan memantau harga. Kami harap dari sisi pasokan cukup dan dari sisi harga masih dalam konteks wajar sehingga masyarakat masih mampu membeli,” katanya.
Dia menerangkan musim hujan baru saja datang, sebab itu beberapa komoditas tanaman belum optimal. Dengan begitu ada keterbatasan dari sisi produksi dan tidak semua bapok tersedia di Kulonprogo. “Memang ada beberapa komoditas di Kulonprogo yang termasuk produsen seperti cabai dan bawang merah. Itu pun tidak serta merta lebih murah,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIY, Yuna Pancawati mengatakan El-Nino yang melanda Indonesia menurunkan produksi bapok sehingga membuat harga menjadi naik seperti cabai. “Cabai merah, rawit, setan itu mengalami kenaikan. Mudah-mudahan dengan adanya operasi pasar dapat menurunkan harga-harga,” kata Yuna.
BACA JUGA: Jelang Nataru, Stok Bahan Pokok di Sleman Aman
Yuna menambahkan selain cabai, kenaikan harga juga menyasar komoditas beras, telur, gula pasir, minyak, bawang putih, dan bawang merah.
Meski begitu, dia menegaskan kenaikan masih berada diambang batas wajar, tidak lebih dari 6%. “Kalau ketersediaan menjelang HBKN [hari besar keagamaan nasional] natal dan tahun baru cukup,” katanya.
Kenaikan harga, kata dia dipengaruhi juga karena banyaknya pertemuan dan kegiatan akhir tahun, termasuk untuk menyambut wisatawan.
Penelaah Kebijakan Teknis di Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo, Nur Kurniawati mengatakan produksi cabai keriting dari Januari sampai bulan November 2023 mencapai 23.504,07 ton, sedangkan cabai rawit mencapai 6.303,77 ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPD DIY meraih tiga prestasi di Frontliner Championship BPDSI 2026. Capaian ini menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas layanan nasabah.
Jogja Expo 2026 di JEC Bantul mencatat potensi perputaran ekonomi lebih dari Rp25 miliar dengan 121 tenant dan 5.382 peserta.
Jumlah pedagang di 32 pasar rakyat Sleman turun 297 orang. Disperindag menyebut faktor usia, kesehatan, regenerasi, dan tekanan ekonomi.
Perlinsos Digital mempermudah warga pelosok Padang Pariaman mengakses bansos. Eli Suarni akhirnya menerima PKH setelah menunggu sejak 2018.
Kemenhub mendorong KAI mempercepat pengadaan 35 KRL baru dan dua retrofit agar seluruhnya dapat beroperasi pada 2027.
Kemnaker menyiapkan pelatihan vokasi bagi 50.000 pekerja terdampak PHK. Simak bidang pelatihan, fasilitas, syarat, dan cara pendaftarannya.