K-24 Healthy Run 2026 di Jogja Diikuti 2.400 Peserta, Ini Jadwalnya
Sebanyak 2.400 peserta akan mengikuti K-24 Healthy Run 2026 di GIK UGM, Jogja, pada Minggu (25/10/2026), dengan kategori lari 5K dan 2,4K.
Ilustrasi, warga antre untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di puskesmas./Antara-Raisan Al Farisi/agr
Harianjogja.com, JOGJA—Kasus diare di Kota Jogja mencapai 15.086 kasus berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) pada periode 4–10 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.283 kasus tercatat di puskesmas dan 7.803 kasus di rumah sakit, sementara sepanjang 2025 jumlah kasus diare di Kota Jogja mencapai 20.234 kasus.
Tingginya angka tersebut menjadi perhatian karena diare berkaitan erat dengan kualitas air bersih, kebersihan makanan, perilaku hidup bersih, serta kondisi sanitasi lingkungan. Risiko penularan juga perlu diperhatikan di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, termasuk sejumlah wilayah permukiman di Kota Jogja.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2024 menyatakan diare merupakan penyebab kematian ketiga terbesar pada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Penyakit tersebut bertanggung jawab atas kematian sekitar 443.832 anak setiap tahunnya, sehingga upaya pencegahan melalui perbaikan kesehatan lingkungan menjadi penting.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja, Endang Sri Rahayu, menjelaskan diare merupakan kondisi buang air besar (BAB) dengan konsistensi tinja cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam 24 jam dan berlangsung kurang dari 14 hari. “Diare dapat terjadi sebagai gejala dari penyakit tertentu,” kata Endang kepada wartawan, Rabu (21/10/2026).
Kepadatan Penduduk Tingkatkan Perhatian terhadap Sanitasi
Endang menjelaskan sanitasi lingkungan yang memadai, ketersediaan air bersih, dan fasilitas jamban layak menjadi faktor penting dalam mencegah diare. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian di Kota Jogja yang memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi.
Kota Jogja memiliki luas wilayah 32,819 kilometer persegi dengan jumlah penduduk sebanyak 415.779 jiwa. Tingkat kepadatan penduduknya mencapai 12.668 jiwa per kilometer persegi.
Untuk menggambarkan kepadatan tersebut, satu kilometer persegi setara dengan sekitar 140 lapangan sepak bola jika menggunakan ukuran lapangan di Stadion Mandala Krida, yakni panjang 105 meter dan lebar 68 meter. Dengan perbandingan itu, terdapat 12.668 penduduk dalam luasan yang setara dengan gabungan sekitar 140 lapangan tersebut.
Angka itu hanya menggambarkan kepadatan penduduk, bukan jarak antarrumah ataupun luas hunian yang dimiliki setiap orang. Sebab, dalam satu kilometer persegi juga terdapat jalan, fasilitas umum, sekolah, pertokoan, dan ruang terbuka.
Salah satu wilayah yang memiliki kepadatan penduduk tinggi adalah Kemantren Ngampilan, dengan angka mencapai 21.327 jiwa per kilometer persegi. Kondisi kawasan permukiman padat seperti ini membuat faktor higiene dan sanitasi perlu menjadi perhatian dalam upaya pencegahan diare.
Penularan Diare Berkaitan dengan Air, Makanan, dan Kebersihan
Menurut Endang, diare dapat menular ketika makanan, minuman, tangan, atau lingkungan terkontaminasi tinja yang mengandung agen penyebab penyakit. Karena itu, pencegahan tidak hanya bergantung pada penanganan pasien, tetapi juga pada kebersihan pribadi, keamanan pangan, kualitas air, dan sanitasi di lingkungan tempat tinggal.
Faktor-faktor tersebut menjadi perhatian khusus di kawasan permukiman padat di Kota Jogja. Ketersediaan jamban layak, air bersih, serta kebiasaan menjaga kebersihan perlu diperhatikan untuk menekan risiko penularan penyakit.
Dinkes Perkuat Pemantauan Kasus Diare
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus diare, Dinkes Kota Jogja memperkuat pemantauan melalui analisis tren mingguan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Pemantauan ini digunakan untuk memetakan wilayah dengan jumlah kasus tinggi sekaligus memverifikasi apabila ditemukan peningkatan kasus atau dugaan kejadian luar biasa (KLB).
Upaya pencegahan juga dilakukan melalui edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Masyarakat didorong membiasakan cuci tangan menggunakan sabun, menggunakan jamban sehat, mengolah air minum secara aman, serta menjaga kebersihan makanan dan peralatan makan.
Dinkes turut memperkuat sanitasi berbasis masyarakat melalui koordinasi dengan perangkat wilayah dan instansi terkait. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong penerapan lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), termasuk pengelolaan sampah.
Selain itu, pengawasan higiene dan sanitasi pangan serta sarana air minum diperkuat, terutama pada tempat pengelolaan pangan dan sarana air minum yang berisiko.
Oralit, Zinc, dan Imunisasi Rotavirus untuk Pencegahan
Dari sisi pelayanan kesehatan, puskesmas didorong memastikan penanganan diare sesuai standar. Upaya ini mencakup edukasi penggunaan oralit dan zinc, serta pengenalan dini tanda bahaya dan dehidrasi, khususnya pada bayi dan balita.
Masyarakat juga diimbau melengkapi imunisasi rotavirus pada bayi sesuai jadwal yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Imunisasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk mencegah diare berat akibat infeksi rotavirus.
Oralit berfungsi mencegah dan mengatasi dehidrasi akibat kehilangan cairan selama diare. Sementara itu, zinc membantu mempercepat pemulihan dan mengurangi durasi diare.
Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan diare di Kota Jogja, mulai dari pemantauan kasus, perbaikan sanitasi, edukasi kebersihan, hingga penguatan pelayanan kesehatan. Perhatian terhadap faktor lingkungan dan perilaku sehari-hari diperlukan untuk mengurangi risiko penularan, terutama di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 2.400 peserta akan mengikuti K-24 Healthy Run 2026 di GIK UGM, Jogja, pada Minggu (25/10/2026), dengan kategori lari 5K dan 2,4K.
Polda DIY memastikan 32 peserta aksi di Gedung DPRD DIY telah dipulangkan pada Rabu dini hari. Situasi Malioboro dan Titik Nol kembali normal.
Polda Metro Jaya membongkar dua lokasi produksi obat keras ilegal di Sukoharjo. Polisi menyita 7,86 juta butir obat dan mengamankan 16 orang.
Sebanyak 30 ban pengaman di jalur ekstrem menuju Pantai Wediombo, Gunungkidul, terbakar. Warga mengumpulkan ban pengganti untuk mengurangi risiko kecelakaan.
Oknum TNI berpangkat Letkol ditetapkan sebagai tersangka kasus penyewaan rumah dinas di Cijantung yang diduga terkait operasional judi online.
Argentina memimpin daftar negara dengan utang IMF terbesar 2026 sebesar US$56,9 miliar. Simak 10 negara dengan kredit IMF tertinggi.