Hanya Khusus Penumpang, Stasiun Lempuyangan Jogja Tak Layani Angkutan Barang di 2028
Stasiun Lempuyangan Jogja bakal khusus penumpang. Angkutan barang dipindah ke Brambanan, dengan akses lokal, KRL, dan jarak jauh dipisahkan.
Transmigrasi - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, BANTUL–Minat masyarakat Kabupaten Bantul untuk ikut program transmigrasi cukup tinggi. Meski begitu, setiap tahun kuota transmigrasi masih minim.
Kepala Disnakertrans Bantul Istirul Widilastuti menyampaikan minat masyarakat Bantul yang mengikuti program tersebut cukup tinggi, setiap tahun ada sekitar 5-10 KK yang mendaftar program tersebut. Sementara saat ini masih ada sekitar 60-70 KK yang masuk daftar tunggu transmigran. Menurut dia, penumpukan antrian itu terjadi karena terbatasnya kuota. Sementara minat untuk transmigrasi masih cukup tinggi.
Dari jumlah tersebut menurut Istirul peminat program transmigrasi masih tergolong muda, berkisar 45-55 tahun, selain itu belakangan ada beberapa pendaftar program transmigrasi dengan usia berkisar 25-30 tahun.
Para pendaftar tersebut pun sebagian telah memiliki pendidikan sarjana di bidang tertentu. Sehingga menurutnya, mereka telah memiliki dasar pendidikan yang dapat menjadi bekal untuk program tersebut.
“Jadi memang dua tahun ini ada tren anak muda yang mendaftar untuk transmigrasi, usia 30-an. Karena memang niat mereka yang ingin meningkatkan taraf hidupnya,” katanya saat ditemui di kantornya, Senin (29/1/2024).
Dia menyampaikan Disnakertrans Bantul selama ini telah membekali calon transmigran dengan beberapa keahlian sebelum diberangkatkan, antara lain pertanian, perkebunan, dan peternakan. Calon transmigran juga dibekali dengan pelatihan kewirausahaan, budi daya ikan, dan permebelan.
“Jadi harapannya mereka dapat mengembangkan skill itu di wilayah tujuan transmigrasi,” katanya.
BACA JUGA: Bakal Ada Tiga Titik Shuttle Bus di Gunungkidul, Ini Lokasinya
Selain itu menurut Istirul, Disnakertrans Bantul juga memberi uang saku Rp10 juta kepada setiap KK untuk modal usaha lokasi penempatan. Selain itu, transmigran juga akan diberikan jaminan hidup (jadup) dari pemerintah daerah lokasi transmigrasi.
Walaupun nanti di sana selama satu tahun masih ada jatah hidup untuk yang lahan basah 1,5 tahun dan yang lahan kering satu tahun,” jelas Istirul.
Meski minat masyarakat Bantul cukup tinggi mendaftar program transmigrasi, menurut Istirul kuota program transmigrasi di Bantul cenderung masih sedikit. Tahun 2022 Bantul mendapatkan kuota 15 KK. Sementara tahun 2023, Bantul hanya mendapatkan kuota 4 KK.
Saat ini menurut Istirul, pihaknya masih menunggu pembagian kuota transmigrasi dari pemerintah pusat. Penentuan kuota dan wilayah diperkirakan turun pada bulan Maret 2024.
“Tetapi pada prinsipnya kegiatan kami tetap jalan. Kami tetap memberikan informasi kepada masyarakat bahwa program transmigrasi masih dilaksanakan. Terkait kuota kami masih menunggu dari pusat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Stasiun Lempuyangan Jogja bakal khusus penumpang. Angkutan barang dipindah ke Brambanan, dengan akses lokal, KRL, dan jarak jauh dipisahkan.
KPK menemukan sejumlah ATM dan rekening yang diduga digunakan untuk menampung setoran di lingkungan Kanwil BPN Jawa Timur.
Penyintas KDRT di Salatiga memilih bercerai demi anak setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan dan kini bekerja di luar negeri.
Bus sekolah Gunungkidul kembali melayani antar jemput sejak 7 September setelah Pemkab menyiapkan tambahan anggaran Rp270 juta.
Cidro Asmoro tayang 8 Oktober di bioskop. Film ini membawa konsep Jawanisasi Modern dengan musik, drama dan komedi.
Menhub Dudy Purwagandhi menyebut aturan impor KRL merupakan kewenangan Kemendag dan KAI belum mengajukan usulan resmi.