Motor Curian Dijual Rp2,3 Juta, Warga Karangmojo Ditangkap Polisi
Polsek Wonosari menangkap pelaku curanmor asal Karangmojo yang menjual motor curian ke Kota Jogja seharga Rp2,3 juta.
Pasien antraks - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Praktik brandu di Masyarakat menjadi tradisi yang sulit dihilangkan, meski menjadi penyebab utama kasus penyebaran antraks di wilayah DIY. Hal ini menjadi tantangan yang harus dipecahkan agar Masyarakat benar-benar paham berkaitan dengan konsumsi hewan yang tidak sehat dapat menyebabkan terjadinya penyakit.
Guru Besar Bidang Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Tri Wibawa mengatakan praktik brandu yang berkembang di Masyarakat tidak lepas kurangnya pemahaman tentang konsumsi daging ternak yang harus memiliki prinsip Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Menurutnya, mengonsumsi daging dari ternak yang sakit tanpa ada rekomendasi dari dokter hewan tidak dianjurkan. “Hal ini penting agar tidak kecolongan tertular penyakit seperti antraks,” kata Tri Wibawa saat dihubungi, Jumat (8/3/2024).
Ia sepakat praktik brandu di masyarakat harus diberantas. Meski demikian, Tri Wibawa berpendapat disusunnya peraturan untuk melarang praktik tersebut bukan menjadi solusi sehingga tradisi tersebut bisa dihilangkan. “Bisa dibuatkan aturan untuk pelarangan. Tapi, setelah terbit apa benar, praktik brandu bisa dihilangkan di Masyarakat? Belum tentu karena pelarangan tanpa adanya peningkatan kesadaran warga hasilnya juga tidak akan efektif,” katanya.
Baca Juga
Diduga Antraks, 7 Ekor Ternak Milik Warga Gayamharjo Prambanan Mendadak Mati
BREAKING NEWS:Kasus Antraks Kembali Ditemukan di Gunungkidul, Dinkes Terjunkan Tim Survei
Kronologi Seorang Warga Gunungkidul Suspek Antraks
Menurut dia, kunci utama menghilangkan praktik brandu dengan menggelar sosialisasi secara rutin di Masyarakat. Untuk pelaksananannya, tidak hanya dilakukan oleh instansi pemerintah, tetapi juga bisa melibatkan tokoh Masyarakat maupun tokoh agama. “Wawasan dari Masyarakat harus ditingkatkan dan ini bisa efektif dengan melibatkan warganya sehingga bisa saling mengingatkan,” katanya.
Ia meyakini dengan adanya tokoh kunci yang berperan dalam edukator, maka pemahaman tentang bahaya brandu bisa lebih diterima dengan baik. “Bisa Pak Guru atau Pak Ustaz maupun orang-orang yang dianggap memiliki pengetahuan dan dipercaya oleh warga akan lebih efektif. Ketimbang adanya intervensi dari luar seperti peraturan pelarangan, malah belum tentu bisa ditaati,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polsek Wonosari menangkap pelaku curanmor asal Karangmojo yang menjual motor curian ke Kota Jogja seharga Rp2,3 juta.
OpenAI meluncurkan ChatGPT Finance yang bisa terhubung ke rekening bank dan investasi untuk analisis keuangan personal pengguna.
Ekonom UAJY menilai pelemahan rupiah tetap berdampak ke warga desa dan kritik pernyataan Prabowo soal dolar AS.
KKMP di Kota Jogja sudah produksi ribuan batik ASN dan siapkan 65.000 seragam sekolah meski belum punya gerai permanen.
Apple mulai uji produksi chip iPhone dan Mac di Intel untuk kurangi ketergantungan pada TSMC di tengah tekanan AI dan geopolitik
Tech3 resmi perpanjang kontrak jangka panjang dengan KTM demi hadapi regulasi baru MotoGP 2027. Tetap dapat pasokan motor spesifikasi pabrikan.