Dua Atlet Menembak Gunungkidul Bidik Tiket Olimpiade 2028
Dua atlet menembak Gunungkidul, Kanuruan Al Ghozi dan Anang Febrian, mengikuti Pelatnas untuk kejuaraan dunia Qatar sebagai kualifikasi Olimpiade 2028.
Pasien antraks - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Praktik brandu di Masyarakat menjadi tradisi yang sulit dihilangkan, meski menjadi penyebab utama kasus penyebaran antraks di wilayah DIY. Hal ini menjadi tantangan yang harus dipecahkan agar Masyarakat benar-benar paham berkaitan dengan konsumsi hewan yang tidak sehat dapat menyebabkan terjadinya penyakit.
Guru Besar Bidang Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Tri Wibawa mengatakan praktik brandu yang berkembang di Masyarakat tidak lepas kurangnya pemahaman tentang konsumsi daging ternak yang harus memiliki prinsip Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Menurutnya, mengonsumsi daging dari ternak yang sakit tanpa ada rekomendasi dari dokter hewan tidak dianjurkan. “Hal ini penting agar tidak kecolongan tertular penyakit seperti antraks,” kata Tri Wibawa saat dihubungi, Jumat (8/3/2024).
Ia sepakat praktik brandu di masyarakat harus diberantas. Meski demikian, Tri Wibawa berpendapat disusunnya peraturan untuk melarang praktik tersebut bukan menjadi solusi sehingga tradisi tersebut bisa dihilangkan. “Bisa dibuatkan aturan untuk pelarangan. Tapi, setelah terbit apa benar, praktik brandu bisa dihilangkan di Masyarakat? Belum tentu karena pelarangan tanpa adanya peningkatan kesadaran warga hasilnya juga tidak akan efektif,” katanya.
Baca Juga
Diduga Antraks, 7 Ekor Ternak Milik Warga Gayamharjo Prambanan Mendadak Mati
BREAKING NEWS:Kasus Antraks Kembali Ditemukan di Gunungkidul, Dinkes Terjunkan Tim Survei
Kronologi Seorang Warga Gunungkidul Suspek Antraks
Menurut dia, kunci utama menghilangkan praktik brandu dengan menggelar sosialisasi secara rutin di Masyarakat. Untuk pelaksananannya, tidak hanya dilakukan oleh instansi pemerintah, tetapi juga bisa melibatkan tokoh Masyarakat maupun tokoh agama. “Wawasan dari Masyarakat harus ditingkatkan dan ini bisa efektif dengan melibatkan warganya sehingga bisa saling mengingatkan,” katanya.
Ia meyakini dengan adanya tokoh kunci yang berperan dalam edukator, maka pemahaman tentang bahaya brandu bisa lebih diterima dengan baik. “Bisa Pak Guru atau Pak Ustaz maupun orang-orang yang dianggap memiliki pengetahuan dan dipercaya oleh warga akan lebih efektif. Ketimbang adanya intervensi dari luar seperti peraturan pelarangan, malah belum tentu bisa ditaati,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua atlet menembak Gunungkidul, Kanuruan Al Ghozi dan Anang Febrian, mengikuti Pelatnas untuk kejuaraan dunia Qatar sebagai kualifikasi Olimpiade 2028.
Pre-order iPhone 18 Pro dan Pro Max di Indonesia dibuka 7 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB. Simak cara pesan dan yang perlu disiapkan.
IABI menyebut gempa Lombok Barat M5 merupakan gempa intraslab di dalam Lempeng Australia, bukan akibat sesar aktif dangkal di Lombok.
Kasus ISPA di Gunungkidul mencapai 2.296 kasus dalam sepekan saat kemarau. Dinkes mengimbau warga menjaga kesehatan dan memakai masker.
Spanyol bangkit dari ketertinggalan dan mengalahkan Kroasia 2-1. Dua gol Mikel Merino menjaga La Furia Roja tetap sempurna di Grup A3.
MK menyatakan permohonan sengketa syarat pendidikan Gibran tak dapat diterima. Mahkamah juga tak menemukan bukti ijazah setara SMA.