Pilur Gunungkidul 2026, 31 Kalurahan Segera Bentuk Panitia Pemilihan
Pilur Gunungkidul 2026 segera dimulai. Regulasi hampir rampung, 31 kalurahan siap gelar pemilihan lurah serentak mulai Juni.
Ilustrasi panen padi - ist/ngawikab.go.id
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pertanian mencatat mulai Maret ini, petani di Sleman mulai memasuki panen raya. Diharapkan masa panen ini menambah stok beras sebanyak 46.924 ton.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono mengatakan adanya kemarau Panjang di 2023 berdampak terhadap sektor pertanian. Hal ini dikarenakan masa tanam mengalami kemunduran sehingga panen raya ikut mundur.
Diperkirakan luas lahan yang mengalami kemunduran untuk menanam padi mencapai 10.000 hektare karena baru direalisasikan di awal 2024. “Harusnya penanaman bisa dilakukan mulai Oktober hingga Desember, tetapi realisasinya baru pada Januari dan Februari 2024,” kata Suparmono, Selasa (12/3/2024).
Meski mundur, ia mengakui pada saat sekarang di Kabupaten Sleman sudah memasuki masa panen raya. Diperkirakan masa panen akan berlangsung hingga akhir April mendatang. “Sudah mulai panen, tapi puncaknya terjadi pada April. Memang untuk Januari dan Februari sudah ada yang panen, tetapi luasannya masih relatif kecil,” katanya.
BACA JUGA: Polres Gunungkidul Menyisir Ruas Jalan Rawan Selama Bulan Puasa
Suparmono mengungkapkan untuk panen di bulan ini diperkirakan seluas 4.051 hektare. Diharapkan dengan total luas lahan ini mampu memproduksi beras 15.071 ton.
Adapun April yang menjadi puncak panen ada padi seluas 6.868 hektare yang siap dipetik hasilnya. “Untuk April kami perkirakan bisa menghasilkan beras sebera 25.553 ton,” kata Suparmono.
Dia berharap dengan masa panen ini, maka ada tambahan produksi beras sebesar 46.924 ton. Jumlah tersebut merupakan akumulasi hasil panen dari Januari-April mendatang.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah mengatakan luasan sawah di Sleman terus menyusut. Hal ini menjadi tantangan untuk tetap bisa menjaga produktivitas padi untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Menurut dia, salah satu upaya yang dilakukan dengan pemakaian bibit unggul serta pengembangan varietas padi yang masa tanamnya lebih pendek. Biasanya, lanjut Siti, padi ditanam hingga panen memerlukan waktu sekitar hampir empat bulan sehingga dalam setahun hanya panen tiga kali.
Namun demikian, ia mengaku saat ini sudah ada varietas unggul dengan masa panen yang lebih pendek. Jenis benih yang dikembangkan adalah varietas Pajajaran MD 70 dan Siliwangi.
Padi jenis ini sudah mulai diujicoba di Kapanewon Prambanan di 2023. Total lahan yang ditanam seluas 118 hektare.
“Ini yang coba dikembangkan. Di 2024 ada lahan seluas 1.414 hektare yang ditanam padi berusia pendek dan terdistribusi di sejumlah kapanewon seperti Kalasan, Prambanan, Godean dan lainnya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Gunungkidul 2026 segera dimulai. Regulasi hampir rampung, 31 kalurahan siap gelar pemilihan lurah serentak mulai Juni.
Kemenko PMK dan TWC perkuat 10 sekolah di Sesar Opak lewat program SPAB. Momentum 20 tahun Gempa Jogja dorong budaya sadar bencana.
Apple uji iPhone 19 Pro dengan layar melengkung 4 sisi dan Face ID di bawah layar. Desain futuristik diprediksi hadir pada 2027.
Listrik padam total di Sumatera Bagian Tengah dan Utara sejak Jumat malam. PLN ungkap gangguan sistem, warga Pekanbaru terdampak luas.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo temukan kandang ayam dan pendangkalan di Sungai Code. Pemkot siapkan normalisasi dan wisata arung jeram.
Honor dikabarkan menyiapkan HP lipat layar lebar 7,6 inci dengan chipset 2nm Snapdragon 8 Elite Gen 6. Siap meluncur 2027.