Koperasi Merah Putih di DIY Tumbuh Sesuai Kebutuhan Warga
Koperasi Merah Putih di DIY berkembang sesuai kebutuhan warga, mulai dari distribusi pupuk hingga pemasok sembako dan UMKM.
Ilustrasi-Petugas memilah sampah plastik di BUMDes Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah (Kupas) Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (7/2/2023). Kelompok itu mengolah sampah organik menjadi kompos dan sampah plastik menjadi batako. – Antara/Hendra Nurdiansyah
Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul melakukan percepatan pembangunan beberapa Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Bantul. Percepatan tersebut dilakukan untuk segera mengoptimalkan program desentralisasi sampah di Bantul seiring ditutupnya TPA Piyungan
Kepala DLH Bantul Bambang Purwadi menyampaikan pekerjaan konstruksi beberapa TPST lain masih terus dilakukan. Menurut Bambang, ITF Modalan ditargetkan rampung akhir Mei 2024. Sementara untuk TPST Dingkikan ditargetkan akan mulai beroperasi pada Juni 2024. Target tersebut maju dibandingkan sebelumnya yang ditargetkan rampung pada September 2024.
Saat ini progres TPST Dingkikan sekitar 30 persen. Meski begitu, Bambang optimis pada Juni 2024 pembangunannya akan rampung. Sementara TPST Modalan ditargetkan mulai beroperasi pada September atau Oktober 2024.
Bambang menyampaikan pihaknya terus berupaya mengejar target tersebut sehingga pengolahan sampah desentralisasi di Bantul dapat sesuai target.
BACA JUGA: 3 TPST Dibangun di Bantul Tahun Ini, Pemkab Klaim Total Kapasitas Sampah Mencapai 150 Ton
Sementara selagi beberapa TPST belum rampung dibangun, Pemkab Bantul telah mulai membuang sampah ke TPS Sementara Wonoroto, Gadingsari. Pembuangan sampah ke TPS Sementara Wonoroto dimulai pada awal Mei 2024, langkah tersebut menurut Bambang dilakukan agar tidak terjadi penumpukan sampah di Bantul.
"TPS Sementara Wonoroto tujuannya menjadi kanal untuk menampung sampah yang sekitar 90 ton," katanya.
Dia menuturkan Pemkab Bantul pun berupaya meningkatkan pengolahan sampah melalui TPS3R dan bank sampah yang ada ditempat wilayah.
"Kita harus tetap melakukan pemilahan, dan mengurangi produksi sampah dari hulu," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Koperasi Merah Putih di DIY berkembang sesuai kebutuhan warga, mulai dari distribusi pupuk hingga pemasok sembako dan UMKM.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 31 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Yogyakarta hingga Palur.
Pemkab Kulon Progo dan BBWS Serayu Opak mengeruk Sungai Serang untuk mitigasi banjir sekaligus memanfaatkan sedimen bagi infrastruktur Porda DIY 2027.
DPC PDIP Sleman menggelar sarasehan dan nobar film Kudatuli di Minggir sebagai pendidikan politik serta penguatan soliditas kader menuju Pemilu 2029.