Hasil Pertanian Wadas Menurun, Project Multatuli Soroti Dampaknya
Hasil pertanian Wadas menurun sejak penambangan Bendungan Bener. Project Multatuli menilai perubahan lingkungan turut mengubah pola hidup warga
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul sedang menyiapkan armada tangki air di Alun-alun Wonosari, Senin, (15/7/2024). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul menggelar apel kesiapsiagaan musim kemarau di Alun-alun Wonosari, Senin, (15/7/2024).
Apel ini menjadi ruang koordinasi lintas sektor, sehingga penanganan/ pencegahan dampak kemarau dapat dilakukan secara efektif-efisien.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan ada 148 padukuhan yang terdampak kekeringan yang tersebar di 29 kalurahan di Gunungkidul. Dari jumlah itu, ada 15.251 kepala keluarga terdampak atau 53.818 jiwa.
BACA JUGA: Hujan Deras Merata di Gunungkidul Kemarin, BPBD: Tak Pengaruhi Ketersediaan Air Bersih
Hingga saat ini, BPBD telah mendistribusikan 288 tangki dari alokasi anggaran untuk 1.000 tangki. Rinciannya yaitu Kapanewon Panggang 104 tangki, Saptosari delapan tangki, Tepus 76 tangki, Girisubo 68 tangki, dan Rongkop 32 tangki.
Selain dari BPBD, Pemerintah Daerah Gunungkidul melalui tiga belas kapanewon juga memiliki anggaran dropping air bersih antara lain Gedangsari dengan 253 tangki, Girisubo 275 tangki, Nglipar 60 tangki, Paliyan 250 tangki, Panggang 250 tangki, Patuk 153 tangki, dan Ponjong 110 tangki.
Selanjutnya Purwosari 250 tangki, Rongkop 295 tangki, Semanu 95 tangki, Tanjungsari 251 tangki, Tepus 295 tangki, dan Saptosari 104 tangki. "Anggaran dari kecamatan itu untuk 2.741 tangki,” kata Purwono ditemui di Alun-alun Wonosari, Senin, (15/7/2024).
Purwono menerangkan puncak kemarau akan terjadi pada Agustus – September. Awal Oktober, kata dia sudah mulai masuk pancaroba. Masuk musim hujan, dia meminta warga tetap waspada, karena ada potensi bencana longsor di beberapa daerah.
Ancaman bencana longsor berada di zona utara seperti Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan sebagian Ponjong. “Itu rawan longsor ketika hujan pertama turun,” katanya.
Adapun banjir dapat terjadi di daerah yang dilewati aliran Sungai Oya seperti Kapanewon Semin, Ngawen, Karangmojo, Wonosari, Nglipar, dan Playen. Mayoritas lahan terdampak banjir diprediksi adalah lahan pertanian. Sedangkan, permukiman warga hanya sebagian saja.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta mengatakan Kabupaten Gunungkidul merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi kerawanan bencana cukup tinggi di DIY.
Untuk mencegah dan menekan potensi bencana tersebut, Pemkab telah melakukan tindakan mitigasi dengan salah satunya memanfaatkan sumber air secara efektif dan efisien serta memperbanyak resapan air.
"Keterlibatan dan peran aktif seluruh unsur masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana akan menjadi poin penting dalam mewujudkan masyarakat Gunungkidul yang peka, tanggap, dan tangguh dalam menghadapi kemungkinan resiko bencana kekeringan ini," kata Sunaryanta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hasil pertanian Wadas menurun sejak penambangan Bendungan Bener. Project Multatuli menilai perubahan lingkungan turut mengubah pola hidup warga
Portugal vs Spanyol di 16 besar Piala Dunia 2026. Oyarzabal percaya diri, cek prediksi skor dan susunan pemain.
Prabowo dan PM Singapura Lawrence Wong bertemu di Leaders’ Retreat 2026 Jakarta, bahas kerja sama strategis dan proyek bilateral.
Jokowi mulai safari politik ke sejumlah daerah usai Lampung. PSI jadi titik awal, partai lain ikut memberi respons.
Menpar dorong integrasi Pokdarwis dan koperasi untuk perkuat desa wisata, tingkatkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
Mendikdasmen ungkap skema kantin dalam program MBG masih dikaji, bantuan hanya untuk siswa yang membutuhkan.