Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta saat mengukuhkan pengurus FPRB di Kantor Setda Gunungkidul. Sabtu (1/2/2025)./ Ist - Humas Pemkab Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengukuhkan pengurus Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB), di Ruang Handayani, Kantor Setda, Sabtu (1/2/2025). Diharapakan Lembaga ini bisa dioptimalkan dalam upaya mitigasi maupun penanganan kebencanaan di Bumi Handayani.
“Saya ucapkan selamat atas kepengurusan baru. Mudah-mudahan bisa Amanah dan dapat memberikan dampak yang baik bagi Masyarakat,” kata Sunaryanta.
Dia menjelaskan, FPRB dibentuk untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap masalah kebencanaan. Selain itu juga memiliki tugas lain, seperti memastikan pembangunan daerah yang berbasis pengurangan risiko bencana, bisa berkoordinasi dan bersinergi dengan bai kantar kelembagaan penanggulangan bencana.
“Koordinasi ini penting untuk mengurangi adanya risiko bencana baru,” ungkap Sunaryanta.
Bupati berharap dalam menghadapi ancaman kebencanaan untuk tidak berjalan sendiri. Pasalnya, juga butuh dengan berbagai stakeholder serta melibatkan masyarakat bersama-sama meminimalisir dampak yang diakibatkan dari sebuah bencana.
“Peran FPRB sangat dibutuhkan dalam upaya mitigasi kebencanaan,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono. Menurut dia, perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap masalah kebencanaan sehingga butuh antisipasi agar saat terjadi bencana dampaknya bisa ditekan sekecil mungkin.
“Upaya mitigasi akan terus dilakukan, termasuk melibatkan FPRB agar kesiapsiagaan bisa semakin diperkuat,” katanya.
Menurut Purwono, berdasarkan hasil pemetaan yang telah dilakukan di wilayah Gunungkidul ada beberapa potensi bencana. Sebagai contoh, untuk tanah longsor berada di zona utara seperti di Kapanewon Patuk, Nglipar, Gedangsari, Ngawen hingga Semin.
Di sisi lain, juga ada potensi angin kencang yang kerawanannya menyebar merata di seluruh Gunungkidul. Adapun potensi banjir juga ada ancaman, khususnya di daerah aliran sungai (DAS) Kali Oya sehingga kesiap-siagaan wajib ditingkatkan, khususnya pada saat musim penghujan.
“Dampak dari bencana hidrometeorologi harus diwaspadai. Upaya mitigasi juga butuh peran dan partisipasi aktif dari Masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Sleman menjadi lokasi piloting Perlinsos Digital. Sebanyak 76.315 KK telah terdaftar untuk mendukung penyaluran bansos tepat sasaran.
Upaya melestarikan bahasa dan aksara Jawa terus dilakukan di tengah perkembangan teknologi digital.
BSSN mengingatkan AI membuat serangan siber ke sektor keuangan makin otomatis, personal, dan sulit dibedakan dari komunikasi asli.
Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 tak lagi sekadar menjadi acara puncak HUT Kota Jogja. Perayaan yang memasuki tahun ke-10 itu dikemas menjadi WJNC Festiv
PSEL Piyungan diproyeksikan mengolah 1.000 ton sampah per hari. DIY menyiapkan pasokan dari Gunungkidul, Kulonprogo hingga Jateng.