Produksi Ikan Turun Drastis, Nelayan Gunungkidul Pilih Tangkap Benur
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Ilustrasi cuaca ekstrem - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--BPBD Gunungkidul meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai dampak dari cuaca ekstrem di masa pancaroba. Hal ini dilakukan sebagai upaya mitigasi sehingga dampak dari bencana dapat ditekan sekecil mungkin.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, terus melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait dengan perkembangan terkini cuaca maupun musim. Untuk saat ini, di wilayah Gunungkidul masih masa pancaroba atau peralihan dari musim hujan ke kemarau.
BACA JUGA: Waspadai ISPA saat Musim Pancaroba
Meski intensitas hujan tak lagi setinggi di awal-awal tahun, namun potensi dari cuaca ekstrem tetap harus diwaspadai. Pasalnya, hujan deras dan angin kencang masih berpotensi terjadi sehingga dampaknya wajib ditekan sekecil mungkin.
Ia mencontohkan, pada Minggu (11/5/2025) malam sempat terjadi hujan deras, tapi tidak ada laporan berkaitan dengan kebencanaan. Namun demikian, hal itu tidak bisa menjadi acuan karena pada Jumat (9/5/2025) juga terjadi hujan lebat dan ada laporan belasan rumah rusak dan pohon tumbang karena diterjang angin kencang.
“Intinya tetap harus waspada terhadap potensi bencana, meski sudah masuk peralihan dari musim hujan ke kemarau,” katanya, Senin (12/5/2025).
Dia menjelaskan, masa pancaroba bisa dilihat dari perubahan cuaca yang begitu cepat. Purwono mencontohkan, pada saat pagi hingga siang cuaca cerah, tapi memasuki sore hari terjadi mendung hingga hujan yang disertai dengan angin kencang.
Guna mengurangi risiko dari cuaca ekstrem di masa panca roba, ia mengimbau kepada Masyarakat untuk terus memperbaharui perkembangan cuaca lewat BMKG. Selain itu, juga dilakukan upaya gotong royong membersihkan saluran drainanse di sekitar rumah sehingga aliran dari air hujan dapat lancar dan tidak terjadi genangan atau banjir.
“Antisipasi juga dapat dilakukan dengan memangkas dahan dan ranting pohong yang telah lapuk atau rindang. Tujuannya, untuk mengurangi risiko pohon tumbang,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi mengatakan, awal musim kemarau di Bumi Handayani terjadi mulai akhir Mei. Upaya persiapan telah dilakukan dengan mengalokasikan anggaran droping air sebanyak 1.500 tangki yang siap disalurkan ke Masyarakat yang membutuhkan.
“Masih dalam pagu anggaran karena realisasi masih menunggu koordinasi untuk pemetaan rawan kekeringan bersama kapanewon,” katanya.
Selain alokasi yang dipersiapkan oleh BPBD, ia mengakui sejumlah kapanewon juga memiliki anggaran droping sendiri. Hanya saja, ia belum mengetahui besaran pasti yang dimiliki untuk penyaluran air bersih secara swadaya di kapanewon.
“Nanti saat koordinasi akan diketahui berapa anggaran pastinya. Yang jelas, kalau ada kekurangan kami siap membantunya,” kata Sumadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Penjaga TPR lama Pantai Parangtritis disabet clurit oleh pelaku tak dikenal. Polisi masih memburu pelaku dan mendalami motif penyerangan.
Jadwal bus KSPN Malioboro ke Pantai Ndrini dan Obelix Sea View Senin 18 Mei 2026, lengkap dengan rute dan tarif.
Program UKDW Scholarship membuka kesempatan bagi siswa berprestasi untuk menempuh pendidikan tinggi sekaligus mengembangkan potensi akademik maupun non-akademik
Arab Saudi akan mendenda hingga Rp93 juta bagi jemaah haji ilegal tanpa izin resmi dan memberi sanksi deportasi serta larangan masuk 10 tahun.
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian hari ini 18 Mei 2026 terpantau stabil. Simak daftar lengkap harga jual dan buyback.