Hadapi Kemarau Panjang, Warga Gunungkidul Diminta Bijak Memakai Air
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Pelaksanaan tradisi Grobyak Telaga di Padukuhan Bendogede, Sumbergiri, Ponjong. Minggu (22/6/2025./ Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ratusan warga mengikuti tradisi Grobyak Telaga di Padukuhan Bendogede, Sumbergiri, Ponjong, Minggu (22/6/2025). Kegiatan menangkap ikan di telaga yang mengering ini berlangsung meriah karena juga diikuti oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntarningsih beserta jajarannya.
Tradisi ini diawali dengan pentas tari dan kenduri. Kenduri dilakukan sebagai bentuk wujud Syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa serta kepada alam.
Warga pun antusias mengikuti Grobyak Telaga dengan alat tangkap yang dimiliki. yakni anco, jaring serok besar yang diberi gagang panjang dan pecak atau serok keci) untuk menangkap ikan air tawar hasil budidaya.
Ketua Panitia Grobyak Telaga, Zainal mengatakan, tradisi menangkap ikan di telaga mengering merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun. Kegiatan ini berlangsung dengan meriah karena ratusan warga bersama dengan bupati ikut turun menangkap ikan.
“Alhamdulillah, Grobyak massal bisa terlaksana dengan lancar di Telaga Klepeng. Hingga sekarang masih lestari dan harus terus dijaga,” kata Zainal, Minggu.
BACA JUGA: Ditarget Rp32 Miliar, PAD Wisata Gunungkidul Baru Tercapai Rp12 Miliar
Menurut dia, kegiatan grobyak bukan sekadar panen ikan secara bersama-sama. Pasalnya, kegiatan ini juga sebagai bentuk pelestarian lingkungan.
Diharapkan dengan menangkap ikan di dasaran telaga mengering dapat menutup ponor-ponor tanah sehingga airnya tidak cepat mengering. “Ini juga untuk menjaga kebersihan telaga karena sampah-sampah yang ada juga ikut terangkut,” katanya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, senang atas kekompakan dan kemandirian warga dalam melestarikan tradisi ini. Ia berjanji menjadikan Tradisi Grobyak Telaga menjadi kalender resmi di Kabupaten Gunungkidul.
Hal itu dikarenkan even ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga nilai-nilai tradisi dan kelestarian alam. Diharapkan ke depan pengunjung dari luar daerah bisa mengikuti kegiatan ini dengan menyewa alat milik warga sehingga menumbuhkan roda perekonomian.
“Kegiatan ini banyak maknanya dan sudah berlangsung selama puluhan tahun dan terus dijaga,” katanya.
Bupati juga menekankan bahwa budaya merawat alam adalah bagian dari kebudayaan yang dimiliki sendiri. Pasalnya, kegiatan menginjak-injak lumpur menjadi bagian dari revitalisasi telaga. “Ini kearifan lokal untuk melesetarikan dengan cara yang menyenangkan,” kata Mbak Endah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau hingga 7 bulan diprediksi terjadi di Gunungkidul. BPBD siapkan jutaan liter air, warga diminta hemat sejak dini.
Jadwal pemadaman listrik DIY hari ini Rabu 20 Mei 2026 terjadi di Sleman dan Bantul. Simak wilayah terdampak dan jam pemeliharaan PLN.
Jadwal DAMRI YIA ke Jogja hari ini, tarif Rp80.000, rute lengkap menuju Sleman dan pusat kota.
Program Mas Jos di Tegalpanggung Jogja berhasil menekan volume sampah. Sistem transporter dan bank sampah kini berjalan lebih tertata.
Mobil listrik bekas makin diminati di tengah kenaikan harga BBM. Penjualan mobil diesel bekas justru melambat di pasar otomotif domestik.
Demo ojol Jogja hari ini berpotensi memicu kemacetan di Malioboro, Tugu, dan Ringroad Utara Sleman. Simak rute lengkap aksi damai driver online.