Lereng Merapi Bersiap Panen Lebih Besar Saat Kebun Kopi Meluas
Pemkab Sleman menargetkan penambahan 110 ha kawasan budidaya Kopi Merapi pada 2026 sebagai bagian dari pengembangan industri kopi dari hulu hingga hiliri.
Salak - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 10 ton salak asal Kabupaten Sleman, DIY, diekspor ke Kamboja.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengaku ekspor ini menjadi bukti bahwa Bumi Sembada siap bersaing di kancah global dalam pertanian salak.
BACA JUGA: Produksi Salak di Sleman Capai 30.000 Ton Sepanjang 2024
Danang mengatakan ekspor salak oleh CV. Mitra Turindo menjadi bukti bahwa pertanian dapat menjadi pilar ketahanan pangan, penggerak ekonomi rakyat apabila dikelola dengan baik. Dia berharap juga ekspor salah dapat menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia.
“Ekspor salak ke luar negeri adalah cita-cita yang selama ini kita bangun bersama. Kita ingin petani salak Sleman tidak hanya menjual buah di pasar tradisional, tetapi juga menembus pasar internasional,” kata Danang dalam keterangan tertulis.
Danang menambahkan penguatan kualitas salak sebagai komoditas ekspor unggulan perlu ditingkatkan. Peningkatan kualitas akan diiringi dengan peningkatan nilai tambah produk pertanian lokal. Sebab itu, dia berterima kasih kepada Kepala Bank Indonesia Perwakilan DIY yang telah memberikan fasilitas pendukung ekspor buah salak.
“Dengan demikian, salak pondoh tidak hanya dikenal karena keunikan rasanya, tetapi juga bermutu tinggi, standar ekspor yang terpenuhi, serta ketepatan dalam pengiriman dan penyimpanan,” katanya.
Ketua Paguyuban CV. Mitra Turindo, Suroto, mengatakan pihaknya mengekspor sebanyak 10 ton salak ke Kamboja pada Kamis (31/7/2025). Ekspor ke negeri Angkor Wat ini telah dilakukan sejak 2017. Selain ke Kamboja, Suroto juga mengekspor salak hingga China.
Suroto dan petani salak semakin bersemangat lantaran ada kemudahan dalam pengelolaan dan pengolahan salak setelah mendapat bantuan dari Bank Indonesia.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan DIY, Sri Darmadi Sudibyo, mengatakan bahwa ekspor memiliki peran penting untuk menyumbang devisa negara. Ekspor menurutnya juga berperan dalam memperluas lapangan kerja serta menjadi tumpuan ekonomi di Sleman, dan Indonesia pada umumnya.
“Bank Indonesia merasa bangga dengan peran para petani salak di Sleman ini. Ini adalah hal strategis yang perlu kita tumbuhkembangkan bersama. Dengan fasilitas yang kami serahkan ini harapannya dapat mendukung produktivitas petani salak di Sleman ini," kata Darmadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Sleman menargetkan penambahan 110 ha kawasan budidaya Kopi Merapi pada 2026 sebagai bagian dari pengembangan industri kopi dari hulu hingga hiliri.
BPBD DIY memprediksi puncak kekeringan terjadi pada Agustus 2026. Bantul dan Gunungkidul menjadi wilayah paling kritis akibat krisis air bersih.
Dinkes Kota Jogja menargetkan 3.146 anak menerima vaksin HPV pada BIAS 2026. Tahun ini, imunisasi juga menyasar anak laki-laki kelas 5 SD.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 31 Juli 2026 tersedia 12 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Palur hingga Yogyakarta.