Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Ilustrasi sampah organik - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JOGJA—Lonjakan volume sampah selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026 diantisipasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY dengan menguatkan pengurangan sampah langsung dari sumbernya.
DLHK DIY bersama dinas lingkungan hidup kabupaten dan kota akan berbagi peran dalam penanganan sampah, mulai dari evakuasi depo yang penuh hingga pengendalian timbulan sampah di lokasi keramaian.
Upaya ini menjadi krusial mengingat TPA Piyungan masih menjadi tujuan utama pengangkutan sampah meski kondisinya telah melebihi kapasitas ideal.
Kepala Balai Pengelolaan Sampah DLHK DIY, Aris Prasena, menjelaskan penanganan sampah pada libur nataru akan dilakukan oleh DLHHK DIY bersama Dinas Lingkungan Hidup kabupaten-kota dengan pembagian peran masing-masing.
“Kami melakukan upaya evakuasi depo-depo yang penuh dan meluap. Sementara kebijakan atau terobosan untuk pengendalian dan pengurangannya dilakukan oleh pemerintah kota, termasuk pembatasan-pembatasan tertentu, saling berbagi,” ujarnya, Senin (15/12/2025).
Untuk evakuasi sampah, DLHK DIY masih mengandalkan TPA Piyungan sebagai tujuan pengangkutan. “Periode ini dari Natal sampai maksimal minggu pertama atau minggu kedua Januari 2026, karena efeknya kan liburan sekolah sampai sekitar tanggal 3 Januari,” katanya.
Mengingat kondisi TPA Piyungan yang sebenarnya sudah overload, ia berharap pengguatan upaya pengurangan sampah di hulu atau dari sumber. “Yang kami harapkan, penanganan di hulu, baik di event maupun di lokasi-lokasi keramaian, menjadi porsi kabupaten dan kota,” ungkapnya.
Pengurangan sampah dari sumber ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari pengurangan produksi sampah, pemilahan sampa hingga penolahan sampah organik. Pengolahan sampah organik bisa memberi dampak signifikan karena komposisinya 50% lebih dari seluruh timbulan sampah.
“Dari total timbulan harian sekitar 300-330 ton, lebih dari 50 persen di antaranya merupakan sampah organik. Artinya sekitar 150 ton lebih itu sebenarnya bisa ditangani dari hulu,” paparnya.
Sayangnya pengurangan sampah di Kota Jogja masih di kisaran 25 ton per hari, jauh dari total sampah organik yang dihasilkan. “Kalau organiknya bisa terselesaikan hampir 50 persen, itu hampir sekitar seratusan ton. Nah, itu yang nanti bisa dioptimalkan atau dipercepat oleh di kota bersama masyarakat,” ungkapnya.
Peran masyarakat dalam pemilahan sampah dari sumber harus terus dikuatkan, karena menurutnya selama ini belum berjalan optimal. “Sudah ada fasilitas, seperti ember dan pengambilan sampah jemput bola, itu yang harus diperbanyak,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
KPK mengecek aset glamping 1,5 hektare di Ciater, Subang, yang diduga milik polisi Yayat Sudrajat dan terkait kasus suap Pemkab Bekasi.
Komisi C DPRD DIY mengecek talud bronjong 74 meter di Kali Kuning Sleman sebagai antisipasi erosi dan longsor saat musim hujan.
Krisna Septiana lolos final kayak tunggal putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 meski finis peringkat 15 pada semifinal.
Polisi memperluas pemeriksaan kasus dugaan pungli food truck di Alkid Jogja. Hingga 30 September 2026, 14 orang telah dimintai keterangan.
Kemarau di Sleman diprediksi lebih panjang hingga Desember. DP3 meminta petani mengatur pola tanam dan mengantisipasi keterbatasan air.