Kulonprogo Kejar Penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Proses evakuasi lima warga Ngentakrejo, Kulonprogo, yang terjebak di tengah Kali Progo, Jumat (17/4/2026). - ist/SAR
Harianjogja.com, KULONPROGO—Lima warga di Ngentakrejo, di Lendah, Kulonprogo, sempat terjebak berjam-jam di tengah Kali Progo setelah debit air tiba-tiba meningkat. Mereka akhirnya dievakuasi dalam kondisi selamat setelah menunggu bantuan hingga menjelang waktu Salat Jumat.
Peristiwa itu terjadi pada Jumat (17/4/2026) sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Kelima warga awalnya menyeberang untuk mencari rumput pakan ternak di area seperti pulau di tengah sungai.
Namun saat hendak kembali, debit air Kali Progo mendadak naik sehingga mereka tidak dapat menyeberang ke tepi. Upaya kembali dengan berenang dinilai berbahaya karena arus semakin kuat.
Humas Basarnas Yogyakarta, Pipit Eriyanto, menjelaskan pihaknya menerima laporan dan langsung melakukan evakuasi menggunakan perahu karet. “Lima orang menyeberang Sungai Progo untuk mencari rumput di pulau tengah. Namun saat hendak kembali debit air meningkat dan mereka tidak dapat kembali ke pinggir,” ujarnya.
Evakuasi Dilakukan dengan Perahu Karet
Kelima warga memilih menunggu bantuan setelah diingatkan untuk tidak nekat menyeberang. Lurah Ngentakrejo kemudian menghubungi Basarnas untuk meminta pertolongan.
“Rencana mereka mau nekat tapi dilarang sama pak lurah. Pak lurahnya hubungi kantor Basarnas minta bantuan evakuasi,” kata Pipit.
Tim Basarnas akhirnya mengevakuasi seluruh korban menggunakan perahu karet. Dalam kejadian ini tidak ada korban luka maupun jiwa.
“Aman semua tidak ada yang luka dan selamat,” ucapnya.
Terjebak Sejak Pagi hingga Menjelang Jumat
Lurah Ngentakrejo, Sumardi, menyebut kelima warga berada di tengah sungai sejak pagi hingga menjelang Salat Jumat. Mereka tidak menyadari perubahan kondisi sungai karena fokus mencari rumput.
“Mereka di tengah pulau dari jam delapan pagi sampai menjelang Jumatan. Jadi menunggu beberapa jam sampai Basarnas membantu evakuasi,” ujarnya.
Kelima warga yang terjebak seluruhnya laki-laki, yakni Mukijo, Ponijan, Marsudi, Suryanto, dan Paeran, yang merupakan warga Ngentakrejo.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi warga agar lebih waspada terhadap perubahan debit air sungai yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama saat beraktivitas di area aliran sungai.
Debit air sungai di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk Kali Progo, memang dikenal dapat berubah secara cepat, terutama saat terjadi hujan di wilayah hulu seperti di kawasan Merapi dan sekitarnya. Fenomena ini kerap menyebabkan kenaikan muka air secara tiba-tiba meski kondisi di lokasi hilir terlihat normal.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY juga berulang kali mengingatkan warga untuk tidak beraktivitas di tengah sungai saat musim hujan atau cuaca tidak menentu, karena potensi banjir kiriman dapat datang tanpa tanda yang jelas dalam waktu singkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
UNY menyiapkan tiga skema bantuan UKT bagi mahasiswa terdampak gempa NTT, mulai penundaan, pengurangan hingga pembebasan.
Menkes Budi Gunadi Sadikin menyiapkan enam helikopter ambulans udara untuk menangani pasien gawat darurat di daerah terisolasi dan wilayah 3T.
Kementerian Haji dan Umrah menyerahkan 34 kasus haji dan umrah ke Bareskrim Polri. Sebanyak 137 laporan tercatat dalam register aduan.
Nilai JDIH Kalurahan Sleman dalam JDIH Award 2026 terpaut 23 poin. Pemkab mendorong pemerataan akses informasi hukum bagi warga.
Ketua DPRD Kulonprogo Aris Syarifudin menilai kemerdekaan harus diwujudkan lewat kesejahteraan, pekerjaan layak, dan harga pangan terjangkau.