Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi anak-anak mengukur tinggi badan. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya menekan angka stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta kini dilakukan dengan pendekatan yang lebih spesifik. Pemerintah Daerah DIY tidak lagi menerapkan satu pola penanganan untuk semua wilayah, melainkan menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing daerah.
Langkah ini diambil setelah melihat perbedaan penyebab stunting di setiap kabupaten/kota. Kepala Bapperida DIY, Danang Setiadi, menegaskan bahwa data menjadi dasar utama dalam menentukan strategi intervensi.
“Dari beberapa diskusi, masing-masing wilayah di DIY menghadapi tantangan yang memang relatif berbeda. Contoh untuk Sleman, dari hasil kajian stunting di Sleman lebih disebabkan oleh gaya hidup orang tua atau lifestyle. Sedangkan di wilayah Kota Jogja lebih banyak menghadapi tantangan terkait akses sanitasi,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Perbedaan ini membuat pendekatan penanganan tidak bisa disamaratakan. Di Sleman, perubahan pola asuh dan gaya hidup menjadi fokus utama, sementara di Kota Jogja perhatian diarahkan pada perbaikan sanitasi dan akses air bersih.
Sementara itu, di Gunungkidul, persoalan stunting lebih banyak dipengaruhi faktor ekonomi dan budaya masyarakat. Salah satunya adalah kebiasaan mengalokasikan pengeluaran untuk kegiatan sosial dibandingkan pemenuhan gizi anak.
“Jadi memang harus melihat data dan juga permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing wilayah. Sehingga fokusnya juga berbeda di setiap kabupaten/kota. Contoh kalau di Gunungkidul ada program PMTA [Pemberian Makanan Tambahan untuk Anak] yang secara signifikan mengurangi stunting di wilayah tersebut,” katanya.
Program PMTA dinilai efektif di Gunungkidul, namun tidak relevan jika diterapkan di wilayah lain seperti Sleman dan Kota Jogja. Hal ini karena kebutuhan dasar gizi di wilayah tersebut relatif sudah lebih terpenuhi.
“Oleh beberapa pihak dari Sleman dianggap sudah tidak relevan untuk Sleman. Untuk Kota Jogja, lebih fokus pada akses sanitasi dan air bersih, termasuk dengan penanganan sampah, dan sebagainya,” ungkapnya.
Secara umum, penanganan stunting di DIY difokuskan pada kelompok rentan, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, bayi di bawah dua tahun (baduta), balita, hingga remaja putri dan calon pengantin.
Pendekatan ini bertujuan memastikan pemenuhan gizi sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang menjadi fase krusial dalam mencegah stunting.
Selain itu, intervensi juga dilakukan melalui peningkatan layanan kesehatan, edukasi pola asuh, serta perbaikan sanitasi lingkungan.
Bapperida DIY berperan dalam memastikan seluruh program berjalan terintegrasi melalui koordinasi lintas sektor, termasuk dalam hal perencanaan, monitoring, evaluasi, dan pengelolaan data.
Dengan strategi yang lebih terarah dan berbasis data ini, diharapkan penurunan angka stunting di DIY dapat berjalan lebih efektif. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci agar intervensi benar-benar menyentuh kebutuhan warga di tiap wilayah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
PACK mengungkap rencana meningkatkan kapasitas bijih nikel. Emiten ini mencatat laba Rp190,7 miliar hingga Juni 2026.
Perda nelayan Kulonprogo didorong untuk memperkuat perlindungan, kapasitas, dan keberlanjutan usaha nelayan, pembudidaya ikan, serta petambak garam.
Witan Sulaeman mengungkap suasana ruang ganti Persija setelah menang 2-1 atas Persib dan optimistis memburu gelar juara Super League 2026/2027.
Keluarga penumpang Virgo Transport 8 masih menanti kabar setelah kapal kecelakaan di Laut Jawa. Sebanyak 103 orang telah dievakuasi.
Stasiun Lidah Tanah yang dibangun pada 1902 melayani 6.047 penumpang hingga Agustus 2026, naik 20% dari rata-rata bulanan 2025.