Pemkab Bantul Siapkan Aturan Pilur, Calon Tunggal Lawan Kotak Kosong
Pemkab Bantul mulai matangkan Pilur 2026 di 30 kalurahan. Calon tunggal tetap bisa maju dan akan melawan kotak kosong.
Sejumlah ikan yang mati mengapung karena terpapar zat kimia dari IPAL komunal di Sungai Belik, Padukuhan Pandes I, Kalurahan Wonokromo, Pleret, Senin (20/4/2026). /Harian Jogja-Yosef Leon.
Harianjogja.com, BANTUL—Ribuan ikan di Sungai Belik di Padukuhan Pandes I, Kalurahan Wonokromo, Pleret, ditemukan mati massal pada Senin (20/4/2026). Warga diminta tidak mengonsumsi ikan tangkapan karena kuat dugaan aliran sungai tercemar limbah berbahaya.
Kondisinya berubah cepat dalam sehari. Pada pagi hari, ikan masih tampak pingsan dan mengapung, tetapi menjelang sore jumlah ikan mati terus bertambah dengan berbagai jenis dan ukuran.
Dukuh Pandes I, Budi Cahyono, mengatakan laporan awal diterima sekitar pukul 08.00 WIB saat warga melihat ikan-ikan mengapung lemah disertai busa di permukaan air. “Pas awal itu baru sedikit warga yang menangkap ikan, lama-lama jadi semakin banyak bahkan ada yang bawa sampai satu ember besar,” katanya.
Jenis ikan yang terdampak beragam, mulai dari wader, tawes, nila, red devil, hingga ikan sapu-sapu. Menurut Budi, hampir semua ikan bersisik di aliran itu ikut terdampak.
Penelusuran ke arah hulu menunjukkan sebaran ikan mati terdeteksi dari wilayah Padukuhan Grojogan, Glagah, hingga Pandes I. Budi menyebut kejadian serupa pernah terjadi sekitar lima tahun lalu, tetapi saat itu hanya muncul busa tanpa kematian ikan dalam jumlah besar.
“Lima tahun lalu hanya busanya saja yang banyak, ikan yang mati tidak sebanyak sekarang,” ujarnya.
Untuk mencegah dampak lanjutan, warga yang sudah terlanjur menangkap ikan diminta menahan diri sebelum hasil uji laboratorium keluar. Sampel air dan ikan sudah diambil petugas untuk diperiksa.
“Sebelum hasil laboratorium keluar saya minta jangan dikonsumsi dulu, karena sekarang ikan yang ditangkap tadi pagi itu sekarang sore sudah mati,” ucapnya.
Dari penelusuran awal, sumber pencemaran diduga berasal dari IPAL Komunal Grojogan Tamanan. Limbah disebut muncul setelah ada aktivitas pencucian tandon penampungan air limbah yang mengandung zat kimia lalu mengalir ke sungai.
“Itu tidak sengaja, dan mereka sudah berjanji akan mengganti ikan dengan bibit yang baru dan dalam waktu dekat akan dilepas ke sungai,” ungkap Budi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul Bambang Purwadi Nugroho mengatakan tim sudah diterjunkan ke lokasi untuk mengambil sampel dan memastikan kandungan pencemar. DLH juga berkoordinasi dengan babinkamtibmas, dukuh, dan RT setempat agar pencemaran tidak meluas.
“Kami juga sudah koordinasikan kepada Babinkamtibmas, dukuh, dan RT setempat untuk melakukan antisipasi pencegahan agar pencemaran lingkungan sungai tidak berkembang dan meluas,” katanya.
Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar penanganan lanjutan sekaligus menentukan tingkat bahaya bagi lingkungan dan warga di sekitar aliran sungai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul mulai matangkan Pilur 2026 di 30 kalurahan. Calon tunggal tetap bisa maju dan akan melawan kotak kosong.
Cara membuat status WhatsApp pakai lagu kini makin mudah lewat fitur musik resmi, Spotify, hingga Instagram Stories. Simak tips agar audio tetap jernih.
Honda mengurangi ambisi kendaraan listrik dan kini fokus besar pada mobil hybrid setelah mengalami kerugian Rp47 triliun akibat proyek EV.
LinkedIn memangkas sekitar 5 persen karyawan global di tengah tren PHK industri teknologi 2026 meski pendapatan perusahaan masih tumbuh positif.
Massimiliano Allegri dikabarkan hengkang dari AC Milan setelah konflik panas dengan Zlatan Ibrahimovic dan performa Rossoneri menurun.
MacBook Neo resmi dibuka pre-order di Indonesia mulai Rp10 jutaan. Laptop Apple ini memakai chip A18 Pro dan hadir tanpa kipas pendingin.